<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	>

<channel>
	<title>blogombal</title>
	<atom:link href="http://blogombal.org/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://blogombal.org</link>
	<description>catatan ringan angin-anginan</description>
	<pubDate>Thu, 15 May 2008 18:17:07 +0000</pubDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.5</generator>
	<language>en</language>
			<item>
		<title>Jaminan Uang Kembali (ke&#8230; Kasir?)</title>
		<link>http://blogombal.org/2008/05/16/jaminan-uang-kembali-ke-kasir/</link>
		<comments>http://blogombal.org/2008/05/16/jaminan-uang-kembali-ke-kasir/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 15 May 2008 18:17:07 +0000</pubDate>
		<dc:creator>paman tyo</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Selingan]]></category>

		<category><![CDATA[garansi]]></category>

		<category><![CDATA[kedai]]></category>

		<category><![CDATA[konsumen]]></category>

		<category><![CDATA[makan]]></category>

		<category><![CDATA[resto]]></category>

		<category><![CDATA[warung]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blogombal.org/?p=659</guid>
		<description><![CDATA[KALAU SAJA TANPA BANYAK TAPI.

Berani juga kedai di Jakarta Selatan ini. Kalau makanan tak enak maka uang dikembalikan. Sayang saya belum mencobanya &#8212; karena tujuan saya memang warung di sebelahnya.
Kemarin petang itu, ketika baru menjepret saya didatangi pramusaji yang menawarkan menu. Saya lupa bertanya, apakah uang boleh kembali tanpa tapi. Maksud saya apa saja syarat [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h3>KALAU SAJA TANPA BANYAK TAPI.</h3>
<p><img class="normal" src="http://i54.photobucket.com/albums/g110/kotakgambar/jalan4/maknyoss.jpg" alt="garansi uang kembali" width="355" height="283" /></p>
<p>Berani juga kedai di Jakarta Selatan ini. Kalau makanan tak enak maka uang dikembalikan. Sayang saya belum mencobanya &#8212; karena tujuan saya memang warung di sebelahnya.</p>
<p>Kemarin petang itu, ketika baru menjepret saya didatangi pramusaji yang menawarkan menu. Saya lupa bertanya, apakah uang boleh kembali tanpa tapi. Maksud saya apa saja syarat dan ketentuannya.</p>
<p>Money back guarantee memang mengasyikkan kalau nyata. Saya pernah menjumpai seorang serdadu cepak mendatangi penjual durian, membawa sekitar lima durian hasil rakitan &#8212; kulit disatukan lagi bersama isi yang tak termakan, lalu diikat tali rafia. Si penjual menolak. Si serdadu berlalu sambil ngedumel.</p>
<p>Tapi rumit juga kalau syarat dan ketentuan tak jelas. Bisa saja setelah menyantap empat per lima porsi (atau 9/10), di sebuah warung si pembeli bilang, sambil bersendawa, &#8220;Ndak enak ini. Ayo mana uang saya?&#8221;</p>
<p>Tentang uang kembali, tanpa potongan, saya pernah mengalami. Konser yang akan saya tonton batal, dan penjual karcis via internet itu mengembalikan uang saya.</p>
<p>Kalau yang bukan uang? Pernah, karena masih dalam garansi, engkoh di Glodok menukar <em>CD player</em> rakitan (garansi toko) yang saya beli dengan produk sejenis yang baru. Saya tak tahu, setelah di-<em>refurbish </em>barang eks-saya itu akan jatuh ke siapa.</p>
<p>Untuk kamera saku, karena telat menyervisnya, sehingga melewati masa garansi, saya tak mendapatkan apa yang teman saya peroleh: kamera pengganti. Saya hanya ditawari <em>trade in</em>, alias tukar tambah bersubsidi.</p>
<p>Gampangannya, harga kamera baru, penerus versi yang <em>discontinue</em>, itu senilai ongkos servis. Sebuah <em>fait accompli</em>, tapi ya apa boleh bikin.</p>
<p>Masih mendingan dibandingkan kasus ponsel anyar yang ngadat tapi pemiliknya diminta menunggu sebulan lebih oleh pusat servis &#8212; dan tak dipinjami pengganti.</p>
<p>Apakah Anda punya pengalaman manis maupun pahit dalam soal pengembalian uang (atau barang)?</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blogombal.org/2008/05/16/jaminan-uang-kembali-ke-kasir/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Akhirnya Saya Ditagih oleh PLN</title>
		<link>http://blogombal.org/2008/05/15/akhirnya-saya-ditagih-oleh-pln/</link>
		<comments>http://blogombal.org/2008/05/15/akhirnya-saya-ditagih-oleh-pln/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 15 May 2008 10:04:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>paman tyo</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Personal]]></category>

		<category><![CDATA[bisnis]]></category>

		<category><![CDATA[BUMN]]></category>

		<category><![CDATA[energi]]></category>

		<category><![CDATA[listrik]]></category>

		<category><![CDATA[PLN]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blogombal.org/?p=658</guid>
		<description><![CDATA[INFORMASI KURANG KOMPLET DAN KENANGAN SAYA.

Baru hari ini saya melihat surat tagihan dari PLN. Suatu hal yang sudah lama dilakukan oleh Telkom, operator selular, dan ISP. Bagaimana surat tagihan itu? Terinci &#8212; lebih komplet daripada tagihan via SMS. Informatif? Tidak.
Saya yakin tidak semua konsumen listrik tahu rincian perhitungan dan rumusnya. Tidak semuanya mengikuti pemberitaan di [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h3>INFORMASI KURANG KOMPLET DAN KENANGAN SAYA.</h3>
<p><img class="normal" src="http://i54.photobucket.com/albums/g110/kotakgambar/repro/plntagih1.jpg" alt="tagihan PLN" width="355" height="213" /></p>
<p>Baru hari ini saya melihat surat tagihan dari PLN. Suatu hal yang sudah lama dilakukan oleh Telkom, operator selular, dan ISP. Bagaimana surat tagihan itu? Terinci &#8212; lebih komplet daripada tagihan via SMS. Informatif? Tidak.</p>
<p>Saya yakin tidak semua konsumen listrik tahu rincian perhitungan dan rumusnya. Tidak semuanya mengikuti pemberitaan di koran. Tidak semuanya membuka <a title="gajah mati ninggalin gading, listrik mati ninggalin rekening" href="http://www.pln.co.id/PelayananPelanggan/SimulasiRekening/tabid/60/Default.aspx" target="_blank">situs PLN</a> (semoga ada info ini). Tidak semua konsumen sadar bahwa mereka membiayai penerangan jalan umum &#8212; sehingga boleh mencak-mencak kalau pemda ingkar kewajiban.</p>
<p>Kalau semua konsumen seperti <a title="lha siapa lagi yang telaten kalo bkn dia?" href="http://priyadi.net" target="_blank">Dimas Priyadi</a>, yang cermat dan tanggap terhadap segala hitungan, tentu produsen senang. Produsen tak perlu menjadi kamus, sehingga bisa langsung berdiskusi ke pokok persoalan.</p>
<p>Nah, usul saya untuk PLN adalah menjadikan lembar belakang surat tagihan sebagai halaman takarir (glosari). Daftar bank dan sejenisnya bisa dibikin lebih ringkas.</p>
<p>Dengan begitu konsumen akan paham apa yang dimaksud dengan &#8220;<em>cicilan pemakaian kWh kurang tagih</em>&#8221; dan &#8220;<em>dis-insentif energ</em>i&#8221;, selain &#8220;<em>faktor rugi trafo</em>&#8221; dan &#8220;<em>pemakaian kWh Blok III/kVrh</em>&#8220;.</p>
<p>Uh, penuh jargon? Memang. Ada belasan. Periksalah lembar tagihan Anda. Kalau Anda paham semuanya berarti Anda <em>well informed</em> &#8212; atau mungkin Anda instalatur listrik yang jadi anggota DPR.</p>
<p>Tentu lembar tagihan ini juga punya nilai plus. Misalnya mencantumkan kurva pemakaian listrik tiga bulan terakhir. Sayang, cuma dihitung dari biaya per bulan, tak menyertakan konsumsi setrum bulanan.</p>
<p><img class="normal" src="http://i54.photobucket.com/albums/g110/kotakgambar/repro/plntagih2.jpg" alt="tagihan PLN" width="355" height="291" /></p>
<p>Selama ini saya tak pernah mendapatkan tagihan, dan tak punya lembar bukti tagihan berikut bukti lunas. Sudah sepuluh tahun lebih saya membayarnya secara <em>online</em>.</p>
<p>Akibatnya setiap kali dimintai bukti konsumsi listrik, misalnya oleh sekolah (biasanya untuk membuktikan ke[tidak]makmuran), saya pun kelabakan. Maksimal, kalau ada, dan masih terbaca, saya hanya punya struk ATM atau cetakan dari transaksi <em>e-banking</em>. Bukti pembayaran via ponsel tentu akan merepotkan.</p>
<p>Tentang rekening listrik, saya punya dua kenangan. Pertama: sebelum membayar secara <em>online</em>, dulu saya memilih langsung membayar ke kantor PLN dua hari selewat jatuh tempo.</p>
<p>Lebih baik membayar denda daripada mengantre di loket inkaso. Di loket inkasi, selain lama, ketika nama dipanggil saya tak mendengar karena sedang membaca atau tertidur.</p>
<p>Kenangan kedua: saya pernah menunggak sebuah tagihan pada sebuah bulan, dan berlarut, sampai lupa, padahal bulan-bulan berikutnya beres. Akbatnya PLN mengancam mencabut sambungan listrik rumah saya.</p>
<p>Kenapa saya sampai terlambat dan lupa berlama-lama? ATM tempat saya membayar dibongkar perusuh, dan mesinnya digondol penjarah. Itu terjadi saat Kerusuhan Mei 1998.</p>
<p>Denda yang saya bayar banyak sekali. Kesalahan PLN adalah tidak memasukkan tunggakan ke tagihan berikutnya. Jawaban orang PLN yang menangani kasus saya, &#8220;Iya ya, kenapa bisa begitu ya? Namanya juga kerusuhan ya, Mas.&#8221;</p>
<p>Rusuh di luar, kacau di sistem dalam dong. :D</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blogombal.org/2008/05/15/akhirnya-saya-ditagih-oleh-pln/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Sodok-menyodok Menjadi Satu, itulah Indonesia&#8230; :)</title>
		<link>http://blogombal.org/2008/05/15/sodok-menyodok-menjadi-satu-itulah-indonesia/</link>
		<comments>http://blogombal.org/2008/05/15/sodok-menyodok-menjadi-satu-itulah-indonesia/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 14 May 2008 17:13:41 +0000</pubDate>
		<dc:creator>paman tyo</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Komedi Indonesia]]></category>

		<category><![CDATA[antre]]></category>

		<category><![CDATA[disiplin]]></category>

		<category><![CDATA[lalu lintas]]></category>

		<category><![CDATA[macet]]></category>

		<category><![CDATA[nyodok]]></category>

		<category><![CDATA[sepeda motor]]></category>

		<category><![CDATA[wanita]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blogombal.org/?p=657</guid>
		<description><![CDATA[CERITA DARI PEREMPATAN, POTRET MASYARAKAT TOLERAN.
Saya tidak tahu dari mana arah datangnya, selain dari belakang, tahu-tahu mbak itu ada di antrean terdepan. Dia konsisten, tidak berpindah jalur untuk berhenti. Dia tetap mengambil jalur kanan yang mestinya untuk kendaraan dari arah berlawanan.
Tak ada polisi di dekat perempatan di Jalan Barito, Jakarta Selatan, itu. Lebih penting lagi: [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h3>CERITA DARI PEREMPATAN, POTRET MASYARAKAT TOLERAN.</h3>
<p><img class="kiri" src="http://i54.photobucket.com/albums/g110/kotakgambar/mbaksodok0.jpg" alt="menyodok antrean lalu lintas" width="198" height="313" />Saya tidak tahu dari mana arah datangnya, selain dari belakang, tahu-tahu mbak itu ada di antrean terdepan. Dia konsisten, tidak berpindah jalur untuk berhenti. Dia tetap mengambil jalur kanan yang mestinya untuk kendaraan dari arah berlawanan.</p>
<p>Tak ada polisi di dekat perempatan di Jalan Barito, Jakarta Selatan, itu. Lebih penting lagi: tak ada yang protes melalui klakson atau teguran.</p>
<p>Maka terbuktilah bahwa masyarakat kita memang penuh welas asih dan tenggang rasa &#8212; setidaknya dalam perkara tertentu.</p>
<p>Kalau suka, ikuti saja. Kalau tak suka, jangan ngomel apalagi protes. Gitu aja kok repot.</p>
<p>Sore itu si mbak (dengan sepeda motornya) sendirian mengambil jalur sebelah. Tak ada pengikut. Biasanya pada jam berangkat dan pulang kerja, pengambil jalur ekstra itu bertambah. Di sebuah tempat pernah saya lihat polisi mendiamkan saja jubelan kendaraan penyumbat.</p>
<p><img class="normal" src="http://i54.photobucket.com/albums/g110/kotakgambar/mbaksodok1.jpg" alt="menyodok antrean lalu lintas" width="355" height="195" /></p>
<p>Padahal kalau jumlahnya banyak, lebih dari sepuluh, itu sudah sangat mengganggu. Tapi yah apa boleh bikin. Bayangkan jika bajaj, dan bahkan sedan dan bus, pun ikut-ikutan. Makin sesaklah jalan.</p>
<p>Setiap orang ingin lekas tiba di tujuan agar usia tak boros di jalan. Menjadi persoalan jika niat untuk lebih cepat itu mengganggu kepentingan orang lain yang juga ingin lekas tiba di tujuan.</p>
<p>Kesimpulan? Lihat paragraf keempat. :)</p>
<p><img class="normal" src="http://i54.photobucket.com/albums/g110/kotakgambar/mbaksodok2.jpg" alt="menyodok antrean lalu lintas" width="355" height="195" /></p>
<p><img class="normal" src="http://i54.photobucket.com/albums/g110/kotakgambar/mbaksodok3.jpg" alt="menyodok antrean lalu lintas" width="355" height="195" /></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blogombal.org/2008/05/15/sodok-menyodok-menjadi-satu-itulah-indonesia/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Sistem Kalender</title>
		<link>http://blogombal.org/2008/05/14/sistem-kalender/</link>
		<comments>http://blogombal.org/2008/05/14/sistem-kalender/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 14 May 2008 15:35:24 +0000</pubDate>
		<dc:creator>paman tyo</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Maklumat]]></category>

		<category><![CDATA[cina]]></category>

		<category><![CDATA[islam]]></category>

		<category><![CDATA[kalender jawa]]></category>

		<category><![CDATA[masehi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blogombal.org/?p=656</guid>
		<description><![CDATA[ADA SEDIA EDISI 2009, TAPI BUKAN DI SINI.
Ooops, apa pula ini? Saya hanya menirukan banyak orang yang demen kata &#8220;sistem&#8221; untuk memadankan tata, kebiasaan, cara, gaya, tradisi, kelaziman, pola, metode, atau apalah yang berulang dan dianggap baku. :D
Kalau sistem kalender? Ya cuma mengada-ada. Supaya keren. Intinya, dengan segala maaf yang mengecewakan, saya mengumumkan tidak menyediakan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h3>ADA SEDIA EDISI 2009, TAPI BUKAN DI SINI.</h3>
<p><img class="kiri" src="http://i54.photobucket.com/albums/g110/kotakgambar/bikin/14mei2008.png" alt="kalender jawa" width="200" height="301" />Ooops, apa pula ini? Saya hanya menirukan banyak orang yang demen kata &#8220;sistem&#8221; untuk memadankan tata, kebiasaan, cara, gaya, tradisi, kelaziman, pola, metode, atau apalah yang berulang dan dianggap baku. :D</p>
<p>Kalau sistem kalender? Ya cuma mengada-ada. Supaya keren. Intinya, dengan segala maaf yang mengecewakan, saya mengumumkan tidak menyediakan <a title="ini nih yang oke" href="http://www.bausastra.com/other/e/" target="_blank">kalender komplet</a> 2009 (Masehi, Islam, Jawa) apalagi setelahnya.</p>
<p>Saya bukan pendesain kalender dan bukan pula pemilik percetakan, sehingga permintaan Anda tak dapat saya penuhi. <em>Bloggers</em> lain yang memiliki versi PDF mungkin dapat membantu sesamanya yang membutuhkan <a title="ini sumber persoalan :)" href="http://blogombal.org/2007/01/08/kalender-ndesit-2007/">kalender</a>.</p>
<p>Anda yang selama ini menagih kalender, boleh jadi, dapat mengontak <a title="nuwun sewu babe..." href="http://www.babejoko.web.id/category/kalendar-jawa" target="_blank">Babe Joko</a> di Yogyakarta.</p>
<p>Semoga inpormasi ini bermanpangat.</p>
<p>Salam rahayu,</p>
<p>Paman</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blogombal.org/2008/05/14/sistem-kalender/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Busana Pria Beristri</title>
		<link>http://blogombal.org/2008/05/13/busana-pria-beristri/</link>
		<comments>http://blogombal.org/2008/05/13/busana-pria-beristri/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 13 May 2008 03:17:16 +0000</pubDate>
		<dc:creator>paman tyo</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Selingan]]></category>

		<category><![CDATA[belanja]]></category>

		<category><![CDATA[busana]]></category>

		<category><![CDATA[fashion]]></category>

		<category><![CDATA[istri]]></category>

		<category><![CDATA[perkawinan]]></category>

		<category><![CDATA[suami]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blogombal.org/?p=655</guid>
		<description><![CDATA[ADA BEBERAPA KESAMAAN. MENURUT ANDA?
Sejumlah pria ngobrol ringan. Satu bercerita lainnya mengiyakan lalu tertawa bersama. Pengalamannya sama. Khususnya dalam soal pakaian. Pertama: cenderung mengambil celana dalam, sapu tangan, dan kaos dari tumpukan teratas &#8212; padahal si peletak pakaian tersetrika tidak menerapkan FIFO seperti kotak beras.
Kedua? Untuk pria penyuka busana plain, taruh kata kemeja putih dan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h3>ADA BEBERAPA KESAMAAN. MENURUT ANDA?</h3>
<p><img class="kiri" src="http://i54.photobucket.com/albums/g110/kotakgambar/klambikathok2.jpg" alt="kemeja dan celana pria" width="200" height="200" />Sejumlah pria ngobrol ringan. Satu bercerita lainnya mengiyakan lalu tertawa bersama. Pengalamannya sama. Khususnya dalam soal pakaian. Pertama: cenderung mengambil celana dalam, sapu tangan, dan kaos dari tumpukan teratas &#8212; padahal si peletak pakaian tersetrika tidak menerapkan <abbr title="first in first out">FIFO</abbr> seperti kotak beras.</p>
<p>Kedua? Untuk pria penyuka busana <em>plain</em>, taruh kata kemeja putih dan celana khaki (atau jins), maka jumlahnya banyak tapi tak kentara, sehingga istrinya bosan. Suami tampak tak pernah ganti, tapi selalu percaya diri.</p>
<p>Ketiga? Ini yang tidak sama. Separuh peserta forum ngaco itu setelah menikah jadi memasrahkan soal busana ke istri. Baju dipilihkan dan dibelikan nyonya, dan sebagai suami yang manis (minimal dalam rumah) mereka menurut dengan senang hati.</p>
<p>Salah satu alasan, selain praktis, adalah, &#8220;Kalo beli sendiri dan bagus banget pasti diinterogasi siapa yang nemenin beli, siapa yang milihin, atau siapa yang beliin&#8230;&#8221; Intinya, ujung-ujungnya adalah sejumlah wanita lain yang jadi tersangka &#8212; dan kadang akhirnya terbukti benar. :D</p>
<p>Dalam kelompok manis itu ada yang kalau dipesankan &#8220;<a title="hehehehe saya gak punya!" href="http://blogombal.org/2007/07/22/musim-kawin/">seragam sarimbit</a>&#8221; tetap bersedia memakainya dengan harapan tak ketemu teman.</p>
<p>Separuh sisanya tidak mau didekte istri. Tetap beli pakaian sendiri. Termasuk dalam kelompok keras kepala nan mandiri ini adalah mereka yang selalu beli kemeja  putih dan kemeja denim tipis, dengan celana khaki dan jins.</p>
<p>Keempat? Hampir semuanya menyerahkan urusan pembelian pakaian dalam ke istri.</p>
<p>Ini bukan survei. Anda yang sudah menjadi suami bisa menambahi cerita. Anda yang sudah menjadi istri bisa punya kesaksian sendiri. Adapun Anda yang belum bersuami tetapi sering memanjakan suami orang, sebaiknya jangan bercerita.* :)</p>
<p>Juga bukan survei, lagi pula tak semua pria berpola konsumsi macam ini. Istri akan protes jika suatu hari sadar bahwa jumlah sepatu suami lebih banyak dari istri.</p>
<p>&#8220;Aku yang perempuan aja nggak sampe segitunya, masa Mas bisa banyak sepatunya padahal kaki cuma dua&#8230;&#8221; begitu salah satu protes seorang nyonya.</p>
<p>Si nyonya lupa, suaminya tidak punya banyak sandal maupun selop. Semua alas kaki adalah sepatu. :D</p>
<p>*) Kecuali suami orang itu adalah ayah, abang, dan adik kandung :P</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blogombal.org/2008/05/13/busana-pria-beristri/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Tipografi Bangunan (Semi-)Pemerintah</title>
		<link>http://blogombal.org/2008/05/13/tipografi-bangunan-semi-pemerintah/</link>
		<comments>http://blogombal.org/2008/05/13/tipografi-bangunan-semi-pemerintah/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 12 May 2008 21:48:46 +0000</pubDate>
		<dc:creator>paman tyo</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Selingan]]></category>

		<category><![CDATA[desain]]></category>

		<category><![CDATA[grafis]]></category>

		<category><![CDATA[pemerintah]]></category>

		<category><![CDATA[taman mini indonesia indah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blogombal.org/?p=654</guid>
		<description><![CDATA[KENAPA YA ADA KURANG NYAMAN DI MATA?

Yah, sayanya saja yang lancang dan sok tahu. Jadi maafkanlah saya. Kenapa? Setiap kali melihat papan nama pada (sebagian) bangunan pemerintah atau semipemerintah, kadang saya kurang sreg dengan tipografinya.
Contoh paling tidak enak adalah &#8220;papan nama&#8221; ruang di Sasono, Taman Mini Indonesia Indah, Jakarta. Lantas saya mengandaikan huruf itu diganti [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h3>KENAPA YA ADA KURANG NYAMAN DI MATA?</h3>
<p><img class="normal" src="http://i54.photobucket.com/albums/g110/kotakgambar/bikin/sasonoasli.jpg" alt="desain asli di taman mini" width="355" height="266" /></p>
<p>Yah, sayanya saja yang lancang dan sok tahu. Jadi maafkanlah saya. Kenapa? Setiap kali melihat papan nama pada (sebagian) bangunan pemerintah atau semipemerintah, kadang saya kurang sreg dengan tipografinya.</p>
<p>Contoh paling tidak enak adalah &#8220;papan nama&#8221; ruang di <a href="http://www.tamanmini.com/sasono/" target="_blank">Sasono</a>, Taman Mini Indonesia Indah, Jakarta. Lantas saya mengandaikan huruf itu diganti dengan yang kayaknya lebih cocok.</p>
<p><img class="normal" src="http://i54.photobucket.com/albums/g110/kotakgambar/bikin/sasonogombal.jpg" alt="desain gombal di taman mini" width="355" height="266" /></p>
<p>Sejak dulu, bahkan ketika sang pelindung masih ada, dan duitnya tidak seret, seni tata aksara berbahan tembaga di tempat itu terasa wagu, kurang wangun. Apalagi sekarang, ketika tempat itu berkesan kusam.</p>
<p><img class="kanan" src="http://i54.photobucket.com/albums/g110/kotakgambar/bikin/sasonoadiguna.jpg" alt="desain asli di taman mini" width="200" height="150" />Memang, dulu, tahun 70-an, belum ada komputer pribadi yang bisa menghasilkan grafika vektor. Tapi nyatanya dengan mal dan skala, huruf berbahan logam di tempat lain (swasta) bisa tampil lebih rapi.</p>
<p>Hal sama berlaku untuk pahatan pada marmer nisan (dan prasasti). Yang warisan zaman Belanda masih rapi hurufnya. Tapi tipografi itu makin merdeka, dan semaunya, justru ketika Mecanorma, Letraset, Rugos dan kemudian komputer mulai dikenal.</p>
<p>Ternyata tidak ada hubungannya. Pembuat huruf asyik dengan gagasannya sendiri. Si pemesan, termasuk atasannya, juga tinggal mengiyakan. Letraset sampai komputer tadi tidak penting.</p>
<p>Jadi, salahkah &#8220;gaya bebas&#8221;? Tentu tidak. Masing-masing punya tempat. Jika pengemasan ulangnya  cocok, maka dari <a title="ini asyikkkk! oke! keren" href="http://desaingrafisindonesia.wordpress.com/2008/05/10/tipografi-vernakular-karya-mahasiswa-deskomvis-itb-di-konferensi-tipografi-internasional-%E2%80%93-yunani/" target="_blank"><em>street graphic</em></a> pun bisa dihasilkan tipografi yang pas untuk keperluan tertentu.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blogombal.org/2008/05/13/tipografi-bangunan-semi-pemerintah/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Gado Goda Ibu Kota dan Ibu Kita</title>
		<link>http://blogombal.org/2008/05/11/gado-goda-ibu-kota-dan-ibu-kita/</link>
		<comments>http://blogombal.org/2008/05/11/gado-goda-ibu-kota-dan-ibu-kita/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 10 May 2008 18:38:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator>paman tyo</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Umum]]></category>

		<category><![CDATA[adam]]></category>

		<category><![CDATA[affair]]></category>

		<category><![CDATA[brondong]]></category>

		<category><![CDATA[cinta]]></category>

		<category><![CDATA[godaan]]></category>

		<category><![CDATA[hawa]]></category>

		<category><![CDATA[sex appeal]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blogombal.org/?p=653</guid>
		<description><![CDATA[SOAL ADAM DAN HAWA. KISAH NYATA&#8230;

Ibu itu akhirnya membuka kaca mobilnya karena sepeda motor yang membarenginya terus memberikan isyarat ingin bicara. Seingat ibu itu, dia tidak menabrak atau menyerempet sesuatu.
Maka inilah akrobat ringan. Pagi itu, di tengah keramaian jam berangkat kerja, pengendara motor membuka helmnya sambil berjalan. Muda, berwajah bersih, ganteng, kenang ibu itu. Dan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h3>SOAL ADAM DAN HAWA. KISAH NYATA&#8230;</h3>
<p><img class="normal" src="http://i54.photobucket.com/albums/g110/kotakgambar/repro/bibirjakarta.jpg" alt="godaan jakarta" /></p>
<p>Ibu itu akhirnya membuka kaca mobilnya karena sepeda motor yang membarenginya terus memberikan isyarat ingin bicara. Seingat ibu itu, dia tidak menabrak atau menyerempet sesuatu.</p>
<p>Maka inilah akrobat ringan. Pagi itu, di tengah keramaian jam berangkat kerja, pengendara motor membuka helmnya sambil berjalan. Muda, berwajah bersih, ganteng, kenang ibu itu. Dan inilah yang dikatakan oleh si pemuda, sambil jari tangannya mengisyaratkan benda kecil, &#8220;Minta kartu namanya dong&#8230;&#8221;</p>
<p>Ibu itu kaget. Gemetar. Lalu segera tersadar. Dia tutup kembali kaca dan terus mengendarai <em>city car</em>-nya, dan tetap mengenakan kacamata hitamnya.</p>
<p>Sial, motor terus membuntuti. Maka kebiasaan baik pun ditinggalkan, kali itu si ibu suka belok mendadak tanpa lampu sen.</p>
<p>Diperhatikan secara istmewa oleh lelaki bukanlah hal baru bagi ibu itu. Sejak kecil dia mengalami. Tapi dia tak membayangkan ada pria seberani itu. Senekat itu.</p>
<p>Esok paginya dia kembali bersua pemuda itu. Padahal ibu itu bersama putrinya yang sudah remaja. Kali itu si pemuda mengajak teleponan, ibu jari dan kelingking tangannya mengisyaratkan halo-halo.</p>
<p>Pada hari kedua itu si ibu, yang beberapa tahun lagi akan setengah abad, itu sudah bisa tenang. Tak membuka kaca. Tak menengok lagi.</p>
<p>Esoknya, ya hari ketiga, si pemuda bisa tiba-tiba membarengi. Kali ini dia mengacungkan secarik kertas. Mungkin bertuliskan nomor ponselnya. Si ibu cuek. Hari seterusnya belum ada kelanjutan kabar mengesalkan darinya.</p>
<p>Ah inilah kota besar. Orang lebih berani untuk apa saja, baik lelaki atau perempuan.</p>
<p>Pada hari pertama gangguan itu, setibanya di kantor dan menenangkan diri dengan segelas air putih, beberapa sejawat pun menanggapnya.</p>
<p>Hari itu dia mendengar cerita dari penanggap lain, sebut saja namanya Udin, pesuruh di kantornya. Muda,  dan rajin berlatih kebugaran. Sudah beberapa kali Udin digoda ibu-ibu. Sejauh itu dia lolos. Kalau motor nekat memalang mobil, si ibu akan menabraknya.</p>
<p>Yang terakhir, selagi menunggu angkot di dekat perempatan pada suatu hari sela, seorang wanita yang menyebut diri &#8220;tante&#8221;, mengendarai &#8220;mobil bagus pokoknya sebangsa Mercy&#8221;, menawari tumpangan.</p>
<p>Udin takut. Tapi si tante bilang tak akan diapa-apakan karena si tante bukan penjahat. Udin yang sedang bersama temannya, pria, pun akhirnya menuruti ajakan si tante.</p>
<p>Sebelum diantar ke tujuan, Udin dan temannya diajak makan siang di Mal Taman Anggrek. Setelah itu, Din?</p>
<p>&#8220;Nggak diapa-apain kok, Bu. Nggak dipegang-pegang,&#8221; katanya kepada si ibu. Anda, para pengkhayal cerita ajaib, mungkin kuciwa. ;)</p>
<p>Oh, Jakarta! Kota para pemberani!</p>
<p>Bukankah memberikan tumpangan kepada pria tak dikenal pun butuh keberanian? Begitu pula mengajak kenalan wanita, ibu-ibu pula, di jalan raya.</p>
<p>Bonus: Menggoda <a title="huahahaha" href="http://sillystupidlife.wordpress.com/2008/03/04/pria-pria-jalang-dipusat-kebugaran/" target="_self">Bu Sillystupidlife</a> di pusat kebugaran yang ada <a title="walah!" href="http://sillystupidlife.wordpress.com/2008/04/17/narsis-bisa-merusak-kesehatan-oranglain-loh/" target="_blank">Miss Taritanpatiang</a> :)</p>
<p>© Sumber gambar bibir: entah</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blogombal.org/2008/05/11/gado-goda-ibu-kota-dan-ibu-kita/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Buru Biru bukan Baru</title>
		<link>http://blogombal.org/2008/05/11/buru-biru-bukan-baru/</link>
		<comments>http://blogombal.org/2008/05/11/buru-biru-bukan-baru/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 10 May 2008 17:14:56 +0000</pubDate>
		<dc:creator>paman tyo</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Selingan]]></category>

		<category><![CDATA[blue bird]]></category>

		<category><![CDATA[merek]]></category>

		<category><![CDATA[taksi]]></category>

		<category><![CDATA[transportasi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blogombal.org/?p=652</guid>
		<description><![CDATA[MEMIRIPKAN DIRI ITU JUGA KREATIF LHO.

Iklan Blue Bird di The Jakarta Post ini mungkin ditujukan untuk ekspatriat dan turis asing. Intinya jangan sampai keliru. Jangan asal biru.
Hak Blue Bird untuk melakukan itu. Bahwa ada kompetitor yang akan tersengat maka urusannya silakan diperpanjang sampai pengadilan, sambil masing-masing mengerahkan opini publik.
Bisa saja ada wilayah abu-abu yang padat [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h3>MEMIRIPKAN DIRI ITU JUGA KREATIF LHO.</h3>
<p><img class="normal" src="http://i54.photobucket.com/albums/g110/kotakgambar/repro/iklanbluebird2.jpg" alt="" /></p>
<p>Iklan Blue Bird di <em>The Jakarta Post</em> ini mungkin ditujukan untuk ekspatriat dan turis asing. Intinya jangan sampai keliru. Jangan asal biru.</p>
<p>Hak Blue Bird untuk melakukan itu. Bahwa ada kompetitor yang akan tersengat maka urusannya silakan diperpanjang sampai pengadilan, sambil masing-masing mengerahkan opini publik.</p>
<p>Bisa saja ada wilayah abu-abu yang padat debat. Misalnya warna biru tidak bisa monopoli. Mahkota (lampu di atas atap mobil) toh tidak mirip seratus persen.</p>
<p>Mungkin bagi si pemirip soalnya adalah ini: &#8220;Salah sendiri kenapa mata sampeyan itu rabun, dari jarak dua ratus meter, malem-malem, ndak bisa membedakan merek taksi.&#8221; Mirip pemelesetan merek untuk parodi. Sama-sama berniat mengecoh, hanya beda di kandungan guyon. Tapi sama-sama mengecoh, <a href="http://blogombal.org/2006/10/21/moralitas-dan-taksi-sontoloyo/">argo kuda</a> jelas kriminal.</p>
<p>Soal mirip-miripan ini sudah lama. Mungkin sudah sepuluh tahun President Taxi berganti nama Prestasi dan mengubah warna merah dan jingga (atau kuning tua?) ke biru.</p>
<p>Itulah sebabnya saya menghargai perusahaan taksi yang berani beda dalam mewajahi armadanya. Misalnya TaxiCab (lho nama kok dobel?) yang secara visual seperti paduan Lipton Tea dan taksi (luar) nagri.</p>
<p>Begitu pula dengan <a href="http://blogombal.org/2006/10/18/taksi-sebagai-kamar-tidur/">Express</a> yang berani berputih diri. Hal serupa berlaku untuk <a href="http://blogombal.org/2008/01/22/naik-taksi-gratis-maunya/">TransCab</a> yang berkuning mangga dengan sajian TV di dalam.</p>
<p>Sayang belum ada taksi yang mau memiripkan diri dengan <a href="http://blogombal.org/2008/02/13/taksi-dan-aksi/">Silver Bird</a>. Coba kalau ada, dengan Mercy betulan yang sekelas, bertarif lama pula, kayaknya bukan masalah.</p>
<p>Memiripkan diri dalam hal logo dan sejenisnya itu kreatif atau tidak?</p>
<p>Bisa juga kreatif, dalam arti daripada repot mendingan menumpang merek lain yang lebih mapan.</p>
<p>Maka di luar urusan taksi, <a href="http://blogombal.org/2007/07/13/dasar-pethuk-patuk-patok-ketemu-pathuk/">Bakpia Pathuk 75</a> akhirnya berganti logo. Sejauh saya tahu belum ada kompetitor yang mengekor.</p>
<p>Bagaimana dengan Dagadu? Ini sih keterlaluan. Versi palsunya ada di mana-mana, bahkan dengan logo versi lama pun berani. Kilah pembajak, kabarnya, justru bermula dari penghargaan: Dagadu Djokja itu mirip <abbr title="ya, huruf kecil semua">gudeg yogya</abbr> atau bakpia Pathuk. Kebanggaan kota dan warganya. Siapa pun boleh bikin.</p>
<p>Perkara beginian bisa dibawa-bawa ke urusan &#8220;hak orang kecil untuk mencari nafkah&#8221;. Maka suatu hari ketika Dagadu melambungkan balon promosi di atas Malioboro Mall, balon itu mengempis. Kabarnya ditembus pelor senapan angin.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blogombal.org/2008/05/11/buru-biru-bukan-baru/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Atas Nama Rakyat</title>
		<link>http://blogombal.org/2008/05/08/atas-nama-rakyat/</link>
		<comments>http://blogombal.org/2008/05/08/atas-nama-rakyat/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 08 May 2008 13:39:05 +0000</pubDate>
		<dc:creator>paman tyo</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Komedi Indonesia]]></category>

		<category><![CDATA[hanura]]></category>

		<category><![CDATA[kampret]]></category>

		<category><![CDATA[partai]]></category>

		<category><![CDATA[politik]]></category>

		<category><![CDATA[politikus]]></category>

		<category><![CDATA[tipuan]]></category>

		<category><![CDATA[wiranto]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blogombal.org/?p=651</guid>
		<description><![CDATA[APAKAH DEMOKRASI BERARTI MAYORITAS BOLEH APA SAJA?

Mobil yang keren. Modifikasinya bolehlah. Tema visualnya sangat Hanura. Mungkin bukan milik partai tetapi kepunyaan seorang kadernya. Tentu inilah mobil untuk rakyat. &#8220;Hanumpaki rakyat,&#8221; kata sobat saya yang wong Yoja.
Memang makin terasa ancang-ancang untuk pemilu tahun depan kian kencang. Datanglah ke beberapa tempat layanan digital yang bagus. Ada saja [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h3>APAKAH DEMOKRASI BERARTI MAYORITAS BOLEH APA SAJA?</h3>
<p><img class="normal" title="mobil rakyat ala partai hanura" src="http://i54.photobucket.com/albums/g110/kotakgambar/jalan4/mobilhanura.jpg" alt="" /></p>
<p>Mobil yang keren. Modifikasinya bolehlah. Tema visualnya sangat <a title="hati nurani siapa?" href="http://hanura.com/register/front_pengurus.php?lev=10" target="_blank">Hanura</a>. Mungkin bukan milik partai tetapi kepunyaan seorang kadernya. Tentu inilah mobil untuk rakyat. &#8220;Hanumpaki rakyat,&#8221; kata sobat saya yang wong Yoja.</p>
<p>Memang makin terasa ancang-ancang untuk pemilu tahun depan kian kencang. Datanglah ke beberapa tempat layanan digital yang bagus. Ada saja order untuk partai. Itu baru yang tampak, karena ada di hilir. Saya tak tahu apa yang ada di hulu, yaitu anggaran.</p>
<p>Entahlah berapa anggaran untuk bikin partai terutama biaya operasional lima tahun pertama. Kalau cuma bikin sih mungkin cukup ke notaris lalu mendaftar ke pemerintah.</p>
<p>Apa pun nama partainya, dari cap gurem sampai cap dinosaurus, sebagai mesin politik mereka butuh bahan bakar dan pelumas yang bernama uang.</p>
<p>Di satu sisi, kemarakan partai ini menyenangkan. Tersedia banyak pilihan. Bahwa ternyata kalau semakin banyak akan semakin riuh, sehingga pemenang pemilihan apapun tak menang mutlak, karena kalau lawan bersatu akan jadi mayoritas, yah itu apa boleh bikin. Sekolah hidup bernama demokrasi kadang menyebalkan.</p>
<p>Lebih menyebalkan lagi ketika partai-partai itu, atas  nama rakyat, melalui <abbr title="mereka bukan wakil rakyat">wakilnya</abbr> di parlemen, akhirnya hanya menyandera kepentingan banyak orang. Pakai main suap dan peras pula. Hayah.</p>
<p>Situasi macam itu bisa melahirkan keputusasaan sehingga muncullah kerinduan akan hadirnya diktator berhati malaikat, yang tidak demokratis tapi menyenangkan, bisa menjamin pangan dan bahan bakar tetap terbeli. Revolusi tangsi atau revolusi embuh, itu tak penting. Impian lebih utama ketimbang cara?</p>
<p>Dengan segala kesontoloyoannya, partai-partai itu tetap kita butuhkan. Demokratisasi, sebagai proses, memang melelahkan, bikin gondok, tapi yah jalan itu harus kita lalui. Kalau ada yang tak beres ya kita teriak (dan semoga didengar). Selebihnya, kalau masih gusar, kita boikot saja.</p>
<p>Ehm, itu tadi memang pikiran naif. Yah hak sayalah untuk naif. :D</p>
<p>Itu sebabnya saya, yang bukan warga Bandung, mendukung langkah <a title="ayo kang!" href="http://adinoto.org/?p=680" target="_blank">Adinoto </a>yang pengin jadi walikota. Salah satu alasan adalah karena dia bukan orang partai.</p>
<p>Bahwa perjuangan dia berat, kalah start pula, bagi saya yang lebih penting adalah spiritnya, untuk tidak memasrahkan diri kepada partai. Penyebaran spirit itulah yang lebih utama.</p>
<p>Tentu bisa ada hipotesis muram, yang bukan merujuk ke Adinoto, yaitu: bagaimana jika calon independen yang kuat ternyata adalah kekuatan yang antidemokrasi (misalnya sektarian, tidak memberi hak hidup kepada minoritas) tetapi menang melalui jalan demokratis, dengan pembenar utama <em>vox populi vox dei</em> yang kadang tak lebih dari tirani mayoritas?</p>
<p>Demokrasi, Saodara. Demokrasi. Memang pelajaran tiada henti. Inilah eksperimen sejumlah orang yang menjanjikan kemerdekaan.</p>
<p>Sayang, yang sering terlewat dari pendidikan ini adalah kemerdekaan yang mencukupkan pangan-sandang-papan itu mestinya tak mengganggu dan tak merugikan kemerdekaan orang lain.</p>
<p>Utopis? Barangkali utopia adalah candu yang membuat kita berani menjalani kehidupan.</p>
<p>Salam gombal, Sodaraku.</p>
<p>© Foto: blogombal.org</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blogombal.org/2008/05/08/atas-nama-rakyat/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Hemat Energi (Kalau Bayar Sendiri)</title>
		<link>http://blogombal.org/2008/05/07/hemat-energi-kalau-bayar-sendiri/</link>
		<comments>http://blogombal.org/2008/05/07/hemat-energi-kalau-bayar-sendiri/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 07 May 2008 09:27:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>paman tyo</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Komedi Indonesia]]></category>

		<category><![CDATA[bbm]]></category>

		<category><![CDATA[energi]]></category>

		<category><![CDATA[harga]]></category>

		<category><![CDATA[inflasi]]></category>

		<category><![CDATA[krisis]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blogombal.org/?p=650</guid>
		<description><![CDATA[LEBIH KUAT MANA: KAMPANYE ATAU MENGALAMI SENDIRI?

Hemat energi, hemat biaya. Itu kata kampanye. Semua orang mengamini dalam lingkup pengetahuan umum. Soal praktik, itu lain perkara. Lha iya, wong bergantung pada siapa yang menanggung biaya.
Seorang suami selama bertahun-tahun berkewajiban membayar biaya air minum, telepon, dan listrik. Keluhan bahwa tagihan cenderung naik, bukan hanya karena tarif tetapi [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h3>LEBIH KUAT MANA: KAMPANYE ATAU MENGALAMI SENDIRI?</h3>
<p><img class="normal" src="http://i54.photobucket.com/albums/g110/kotakgambar/jalan4/meterans.jpg" alt="meteran listrik" /></p>
<p>Hemat energi, hemat biaya. Itu kata kampanye. Semua orang mengamini dalam lingkup pengetahuan umum. Soal praktik, itu lain perkara. Lha iya, wong bergantung pada siapa yang menanggung biaya.</p>
<p>Seorang suami selama bertahun-tahun berkewajiban membayar biaya air minum, telepon, dan listrik. Keluhan bahwa tagihan cenderung naik, bukan hanya karena tarif tetapi juga konsumsi di keluarganya, selalu ditanggapi si nyonya dengan, &#8220;Oh ya? Masa sih, Pa? Habis gimana lagi dong, Pa&#8230;&#8221;</p>
<p>Suatu kali sang suami disekolahkan ke negeri lain. Segala tagihan rutin diurus nyonya. Konsumsi telepon dan terutama listrik turun, tinggal 70 persen dari biasanya.</p>
<p>Tanggapan suami ketika dilapori istri &#8212; dengan menirukan &#8220;Oh ya? Masa sih, Ma?&#8221; &#8212; berbuah cubitan karena dianggap meledek.</p>
<p>Ada cerita lain. Di sebuah perusahaan, seorang kepala unit yang beberapa kali pindah lokasi gedung dianggap rewel oleh bagian teknik. Penyebabnya, dia selalu minta penambahan saklar.</p>
<p>Dengan begitu, lampu di ruang rapat yang tak terpakai, dan juga di ruang lain, dapat dipadamkan. Sebelumnya semua panel saklar ditaruh terpusat. Dua meja butuh terang, yang menyala seluruh ruang.</p>
<p>Tak pernah terukur seberapa banyak penghematan yang telah dicapai, karena tagihan setiap bulan tetap, angkanya konstan, ditentukan oleh anggaran tahunan.</p>
<p>Mas Tespen Bawatang bilang, &#8220;Buat apa kita irit tapi selisih hasil penghematan nggak jadi duit buat kita?&#8221;</p>
<p>Mestinya dia menanya bagian keuangan, supaya tahu bahwa bonus dan THR lancar karena penghematan. :D</p>
<p>Mas Karyawanto Sesukahati bilang, &#8220;Mau boros mau ngirit, tagihan juga tetap, lagian bukan kita yang bayar kan, Bos?&#8221;</p>
<p>Kalau mendengar itu, orang keuangan mungkin akan bilang, &#8220;Mulai besok gaji sampeyan dipotong buat bayar listrik. Mau?&#8221; Lha iyalah, lebih gampang menyunat gaji ketimbang kasih kompensasi.</p>
<p>Maka lihatlah, yang namanya penghematan hanya kentara kalau ada kampanye dan imbauan &#8212; apalagi ada rencana pengawas konsumsi energi di setiap instansi.</p>
<p>Setelah itu semuanya kembali kepada kebiasaan. Kalau merasa tak ikut bayar, buat apa mematikan lampu dan AC yang tak terpakai?</p>
<p>Tapi Mas Opisboi sebuah kantor pernah kebablasan. Setiap menjelang pulang dan mengunci kantor dia cabut colokan kulkas dan dispenser, lalu mematikan AC di ruang dokumentasi foto (plus server).</p>
<p>Bukan salah dia. Tak ada prajurit bodoh, begitu kabar dari tangsi. Yang ada hanyalah komandan yang bego.</p>
<p>Sang komandan pun membela diri, &#8220;Bukan bego! Kurang ajar kamu ya! Cuma nggak sempet aja ngurusin remeh-temeh gituan. Tau?&#8221;</p>
<p><img class="normal" title="mobil toyota tanpa bbm" src="http://i54.photobucket.com/albums/g110/kotakgambar/jalan4/ujiemisi.jpg" alt="mobil toyota tanpa bbm" /></p>
<p>© Foto gerobak: entah. | © Foto meteran listrik: blogombal.org</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blogombal.org/2008/05/07/hemat-energi-kalau-bayar-sendiri/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
	</channel>
</rss>
