<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	>

<channel>
	<title>blogombal</title>
	<atom:link href="http://blogombal.org/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://blogombal.org</link>
	<description>catatan ringan angin-anginan</description>
	<pubDate>Sun, 07 Feb 2010 13:32:55 +0000</pubDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.6.5</generator>
	<language>en</language>
			<item>
		<title>Cobalah Menafsir Foto (dan Video) Harto</title>
		<link>http://blogombal.org/2010/02/07/cobalah-menafsir-foto-dan-video-harto/</link>
		<comments>http://blogombal.org/2010/02/07/cobalah-menafsir-foto-dan-video-harto/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 07 Feb 2010 13:20:41 +0000</pubDate>
		<dc:creator>paman tyo</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Umum]]></category>

		<category><![CDATA[antara]]></category>

		<category><![CDATA[awal orde baru]]></category>

		<category><![CDATA[imf]]></category>

		<category><![CDATA[larry burrows]]></category>

		<category><![CDATA[majalah life]]></category>

		<category><![CDATA[michael camdessus]]></category>

		<category><![CDATA[pak harto]]></category>

		<category><![CDATA[PDAT]]></category>

		<category><![CDATA[pusat informasi kompas]]></category>

		<category><![CDATA[riset foto]]></category>

		<category><![CDATA[sejarah]]></category>

		<category><![CDATA[soeharto]]></category>

		<category><![CDATA[soeharto 46 tahun]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blogombal.org/?p=2028</guid>
		<description><![CDATA[	MARI BELAJAR SEJARAH DARI GAMBAR.
	
	Seorang jenderal dalam usia 46 mulai menggenggam kekuasaan yang besar. Sejarah sudah membahasnya, dan bahasan itu belum usai. Anda boleh kagum sepenuh takzim, boleh pula benci kepadanya &#8212; atau seperti banyak orang bingung untuk merumuskannya dalam satu kata. Meski saya sangat tidak suka kepadanya &#8212;  ketika dia hidup, saya selalu [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[	<h3>MARI BELAJAR SEJARAH DARI GAMBAR.</h3>
	<p><img class="normal" title="Soeharto, 1967" src="http://i54.photobucket.com/albums/g110/kotakgambar/repro/blogombal-soeharto-cerutu.jpg" alt="" width="360" height="257" /></p>
	<p>Seorang jenderal dalam usia 46 mulai menggenggam kekuasaan yang besar. Sejarah sudah membahasnya, dan bahasan itu belum usai. Anda boleh kagum sepenuh takzim, boleh pula benci kepadanya &#8212; atau seperti banyak orang bingung untuk merumuskannya dalam satu kata. Meski saya sangat tidak suka kepadanya &#8212;  ketika dia hidup, saya selalu menyebutnya dalam blog sebagai &#8220;orang itu&#8221; &#8212; saya mengakui bahwa dalam dirinya pasti ada hal-hal baik bahkan mulia. Dia manusia, bukan iblis, bukan malaikat.</p>
	<p>Saya teringat dia karena barusan menemukan foto-foto lama yang dulu, sudah lama banget, pernah saya lihat di majalah <em>Life</em>. Foto-foto yang sebagian adalah hasil pengarahan dan  mengundang tafsir subyektif itu. Di kemudian hari, pada puncak kekuasaannya, siapa yang bisa membuat dia nyaman dan rileks untuk diatur-atur, dan difoto dari dekat?</p>
	<p><img class="normal" title="soeharto 46 tahun dalam pakaian yogya" src="http://i54.photobucket.com/albums/g110/kotakgambar/repro/blogombal-soeharto-blangkon.jpg" alt="" width="360" height="256" /></p>
	<p>Dari jepratan <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Larry_Burrows" target="_blank">Larry Burrows</a>, pewarta foto perang itu, saya melihat foto-foto penuh percaya diri seorang jenderal yang nyaman menggenggam cek kosong sejak awal kekuasaannya, hampir boleh ngapain aja, karena banyak orang percaya dan berharap kepadanya.</p>
	<p>Foto-foto itu menggambarkan kepercayaan diri yang tinggi tanpa menjadi congkak berlebihan, karena dari seorang Jawa introvert, yang bercitra <em>humble</em>, selalu ada cara lunak untuk menunjukkan kelebihan diri. Mampu mengemas keangkuhan dalam kehalusan.</p>
	<p><img class="normal" title="tommy, soeharto, mamiek, tien, desember 1967" src="http://i54.photobucket.com/albums/g110/kotakgambar/repro/blogombal-soeharto-keluarga.jpg" alt="" width="360" height="237" /></p>
	<p>Saya melihat foto-foto seorang suami dan ayah yang hangat. Barangkali, karena kultur kita, maka dia pun menganggap rakyat sebagai anak &#8212; demikian pula rakyat terhadapnya: bapak. Selebihnya adalah <em>father knows best</em> dan dia menjadi <em>patriarch</em>, menjadi sentrum dari segala tafsir tentang kebenaran.</p>
	<p><img class="normal" title="soeharto makan malam bersama keluarga, desember 1967" src="http://i54.photobucket.com/albums/g110/kotakgambar/repro/blogombal-soeharto-makan.jpg" alt="" width="360" height="237" /></p>
	<p>Dia akhirnya menjadi <em>romo </em>(rama, ayahanda, dalam konteks ini bukan pastor) yang bahasa tubuhnya, termasuk anggukan kecil, adalah sabda nonverbal yang siap ditafsir dan dilaksanakan. Ini seperti cerita seorang bekas menteri: jika dia meraih gelas minuman saat mendengarkan usulan maka itu berarti penolakan.</p>
	<p>Tentang buku, catatan, dan kliping, sudah banyak yang mengumpulkan dan mengkajinya. Tetapi bagaimana dengan foto? Mestinya Sekretariat Negara, Antara, Pusat Informasi Kompas, dan Pusat Dokumentasi dan Analisa Tempo punya ribuan foto yang siap ditafsir. Saya tak tahu apakah TVRI menyimpan dokumentasinya dengan baik.</p>
	<p><img class="kanan" title="soeharto lagi nonton tv? desember, 1967" src="http://i54.photobucket.com/albums/g110/kotakgambar/repro/blogombal-soeharto-klg2.jpg" alt="" width="200" height="304" />Video TVRI dan foto koran menampilkan hal yang tampaknya sederhana dari pidato ke pidato: kacamata dan arloji sang jenderal yang sering berganti. Maka orang awam membatin, &#8220;Gimana ya caranya beli? Kan nggak mungkin jalan-jalan ke toko?&#8221;</p>
	<p>Kumpulan video TVRI pasti menampilkan seremoni yang layak tafsir. Tentang seorang raja yang dari periode ke periode berdiri <em>semangkin </em>dingin, menyambut antrean <em>daripada </em>tetamu yang akan berjabat tangan. Jarak yang tak bergaris antara dia dan tetamu menghadirkan pemandangan sama: tetamu harus membungkuk. Mirip saya menyalami orang-orang (tua).</p>
	<p>Demikian pula foto-foto hadirin dalam banyak acara kepresidenen, yang karena tuntutan protokoler harus ngapurancang (mempertemukan tangan di depan atau bawah perut). Sopan sekaligus aman. Mempermudah pekerjaan paswalpres dalam mengawasi.</p>
	<p>Itulah sebabnya foto Direktur Pelaksana IMF Michael Camdesus bersedekap ketika menyaksikan presiden menandatangani kesepakatan pada 15 Januari 1998. Adegan itu, seperti sebuah  kapitulasi atau penyerahan diri seorang pemimpin &#8212; bahasa kasarnya: pengakuan keok.</p>
	<p><img class="normal" title="Michael Camdessus dan Soeharto, Januari 1998" src="http://i54.photobucket.com/albums/g110/kotakgambar/repro/camdessus-soeharto.jpg" alt="" width="360" height="331" /></p>
	<p>Ada yang tersinggung, ada yang bersorak, terhadap foto itu. Alasan Camdessus di kemudian hari sangat menarik. Dia mengikuti ajaran ibunya, yaitu kalau sedang kikuk karena tidak tahu harus berbuat apa ya lipatlah tangan.</p>
	<p>Foto-foto selalu menarik. Mirip kita mengamati foto kawan di Facebook. Maka ketika koran-koran mulai dicetak berwarna, rakyat pun sadar akan satu hal: pesawat telepon di meja kerjanya, di Bina Graha, ternyata berlapis emas.</p>
	<p>Foto lain yang tak ada urusannya dengan warna adalah sepasang gading gajah di salah satu ruang rumahnya, Jalan Cendana. Ada rak hiasan di sana. Orang yang belum pernah ke sana akan menebak, tak adakah jendela di ruang itu?</p>
	<p><img class="kiri" title="soeharto anno 1993" src="http://i54.photobucket.com/albums/g110/kotakgambar/repro/soeharto1993.jpg" alt="" width="150" height="192" />Foto resmi kepresidenen edisi 1993, di <a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Soeharto" target="_blank">Wikipedia Indonesia</a>, menampilkan sosok yang berjarak, tak tersentuh. Rambut yang tak tertutup peci tampak memutih. Dalam usia 72 dia masih tampak gagah. Bandingkan empat tahun kemudian, akhir 1997, ketika krisis moneter mulai menghimpit Indonesia. Dia tampak menua sekali dan lelah. Makin banyak yang bersifat kritis terhadapnya, dan mulai terasa pembiaran oleh pihak tertentu terhadap arus yang menentang dan menantangnya.</p>
	<p>Foto resmi kepresidenan adalah sebuah kewajaran di negeri mana pun. Menjadi aneh ketika makin banyak orang tak menyukainya, sehingga seorang seorang guru yang mengajar di alma maternya pun menyesal ketika harus bertemu wajah kepala negara yang sama tetapi berbeda edisi. Foto orang yang dia lihat saat dulu bersekolah.</p>
	<p>Dan lihatlah, alangkah banyaknya foto mempelai di gedung resepsi yang gebyok atau <em>backdrop</em> pelaminannya tidak bisa menutupi foto presiden dan wakilnya. Seolah kemarin dan hari ini adalah sama saja. Padahal dari waktu ke waktu potret sang presiden berubah. Kesukaan maupun ketidaksukaan kita menghasilkan kesamaan: kebosanan untuk mengamati lebih jauh.</p>
	<p>Itulah foto kepresiden yang secara berlebihan dianggap sebagai faktor penambah penduduk Indonesia. Jumlah mutakhir penduduk adalah data terakhir dari pemerintah plus foto presiden (karena saking banyaknya dan terus bertambah). Ngawur tapi menghibur.</p>
	<p>Dia adalah tokoh. Penting pula.  Tak mungkin terlupakan. Video awal 80-an sampai pertengahan 90-an menampakkan seorang penguasa yang tak terbantahkan. Ingat bagaimana dia menyatakan akan menggebuk kaum <em>dissident</em>? Tidak meledak, ada senyum dan menahan tawa, tetapi dingin. Semburat kebengisan tergambar di sana.</p>
	<p>Dia memang bukan Castro atau Ghaddafi yang kuat mengoceh, tetapi dalam gaya kebapakan dia tetap tak terbantahkan, terutama dalam pidato tanpa teks dan tanya-jawab. Dehemnya sebelum berkata-kata pun punya kekuatan. Inilah era monolog Butet Kertaradjasa dalam menirukan vokal maupun gesturnya menjadi katup pelepas orang-orang tertindas.</p>
	<p><img class="normal" title="soeharto main gitar" src="http://i54.photobucket.com/albums/g110/kotakgambar/repro/blogombal-soeharto-gitar.jpg" alt="" width="360" height="270" /></p>
	<p>Ingatan kita tentang seseorang seringkali berupa gambar di benak. Visual sifatnya. Ingatan apa yang ada di benak Anda tentang dia? Foto resmi itu? Prangko? Atau foto yang lain?</p>
	<p>Mari kita tunggu sebuah hasil riset foto terhadap potret Soeharto &#8212; ya, dialah yang saya maksud sejak tadi &#8212; lengkap dengan tafsiran subyektifnya. Termasuk foto-foto yang <em>humane </em>tentang dia. Tentu kita juga harus kritis bahwa foto tunggal, satu versi pula, hanyalah hasil pembekuan sebuah peristiwa. Tanpa memahami konteks kita bisa tergelincir dalam menafsir.</p>
	<p>Entahlah siapa yang akan melakukan riset foto. Harapan saya sih Anda. :)</p>
	<div class="caption">© Foto-foto lama: <a href="http://www.life.com/image/53372214" target="_blank">Larry Burrows</a>/Life, Desember 1967 | © Foto Soeharto main gitar: entah | © Foto Camdessus dan Soeharto : entah</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blogombal.org/2010/02/07/cobalah-menafsir-foto-dan-video-harto/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Foto-foto Berfilm yang tak Laku</title>
		<link>http://blogombal.org/2010/02/01/foto-foto-berfilm-yang-tak-laku/</link>
		<comments>http://blogombal.org/2010/02/01/foto-foto-berfilm-yang-tak-laku/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 01 Feb 2010 14:22:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>paman tyo</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Umum]]></category>

		<category><![CDATA[foto dengan film]]></category>

		<category><![CDATA[fotografi]]></category>

		<category><![CDATA[klise]]></category>

		<category><![CDATA[resepsi]]></category>

		<category><![CDATA[sasana adiguna]]></category>

		<category><![CDATA[taman mini indonesia indah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blogombal.org/?p=2017</guid>
		<description><![CDATA[	KELAK AKAN JADI PROYEK SENI VISUAL?
	
	Sekeluar dari ruang resepsi menuju parkiran, kami diikuti seorang pengasong foto. Kami terburu-buru karena masih gerimis. &#8220;Beli dong,&#8221; katanya kepada istri saya. &#8220;Ayo dong Bu,&#8221; katanya kepada seorang ibu yang menumpang kami. Masih gerimis. Kami terburu. Segera masuk ke mobil. &#8220;Beli dong,&#8221; masih terdengar suara itu.
	Ibu yang bersama kami akhirnya [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[	<h3>KELAK AKAN JADI PROYEK SENI VISUAL?</h3>
	<p><img class="alignnone" title="foto-foto berfilm hasil jepretan todong di TMII" src="http://i54.photobucket.com/albums/g110/kotakgambar/jalan5/blogombal-foto-TMII01.jpg" alt="" width="360" height="176" /></p>
	<p>Sekeluar dari ruang resepsi menuju parkiran, kami diikuti seorang pengasong foto. Kami terburu-buru karena masih gerimis. &#8220;Beli dong,&#8221; katanya kepada istri saya. &#8220;Ayo dong Bu,&#8221; katanya kepada seorang ibu yang menumpang kami. Masih gerimis. Kami terburu. Segera masuk ke mobil. &#8220;Beli dong,&#8221; masih terdengar suara itu.</p>
	<p>Ibu yang bersama kami akhirnya tak tega. Entah berapa yang dia keluarkan. Penawaran terakhir yang saya dengar sih Rp 50.000 untuk tiga lembar foto ukuran 5R, masing-masing disertai film negatif. &#8220;Nggak tega aku, Jadi kepikiran anak-anakku nyari makan juga susah,&#8221; kata ibu itu.</p>
	<p>Bukan hal baru. Tukang foto dadakan selalu ada di seminar dan wisuda. Mereka bermain di area luar, depan pintu masuk. Itu wilayah aman, termasuk bagi ojek payung. Tak ada alasan bagi petugas keamanan acara untuk menghalau &#8212; kecuali <em>security</em>-nya pejabat dan orang kaya yang selalu memperluas wilayah steril.</p>
	<p><img class="alignnone" title="foto-foto berfilm di Taman Mini Indonesia Indah" src="http://i54.photobucket.com/albums/g110/kotakgambar/jalan5/blogombal-foto-TMII02.jpg" alt="" width="360" height="189" /></p>
	<p>Bukan hal baru, tapi untuk perhelatan nikah seperti di Taman Mini Indonesia Indah itubaru saya jumpai Sabtu malam lalu. Perlu kegigihan karena mereka cukup boros jepretan. Setiap tamu setidaknya butuh dua kali &#8212; padahal memakai film. Baterai kering pemasuk setrum lampu kilat tampaknya cukup.</p>
	<p>Saya tak sempat mencari tahu lebih jauh. Sama seperti umumnya blog, yang ada hanyalah tulisan berjarak. Miskin fakta, kaya tafsir &#8212; tanpa pendalaman dan pendekatan terhadap manusia. Maka saya pun hanya berandai-andai.</p>
	<p>Tim fotografer penuh inisiatif itu saya amati terdiri dari tiga orang. Yang terluput dari amatan saya adalah peran <em>runner</em>, yang harus membawa film terpakai ke minilab terdekat, di tengah hujan deras.</p>
	<p>Entahlah bagaimana pembagian tugasnya. Yang pasti dalam satu setengah jam semua foto harus sudah jadi. Oh itu bukan masalah. Teknologi memberi jalan keluar.</p>
	<p>Ada yang lebih menarik: mencocokkan wajah orang yang keluar dari ruang dengan puluhan foto yang terbungkus plastik. Jangan sampai dalam paket terjadi pertukaran, Pak A bersama Nona X, dan Bu Z bersama Pak B. Si tertukar mungkin tak bermasalah, tetapi pasangannya yang kurang berkenan.</p>
	<p>Fotografi lama, yang nondigital, bukan untuk &#8220;seni-senian&#8221;, ternyata masih laku. Ini soal &#8220;kahanan&#8221; dan kesesuaian dengan pasar. Ini serupa jepretan Polaroid di taman hiburan. Jangan-jangan memang layak simpan padahal Anda tak ada ikatan emosional dengan pemotretnya.</p>
	<p>Saya tak habis pikir soal foto-foto yang tak laku. Kalaupun dibuang mungkin juga tak bermanfaat bagi yang menemukan. Suatu hari akan ada mahasiswa seni rupa, atau blogger iseng sok kreatif, yang &#8220;membingkaikan makna&#8221; terhadap foto-foto tak laku itu lantas memamerkannya.</p>
	<p>Barangnya sama. Cuma foto-foto tak laku. Tetapi di tangan orang sekolahan yang &#8220;lebih berkonsep&#8221;, foto-foto itu akan mendapatan ruang dialog baru. Ruang yang mungkin amat jauh dari jelajah kepentingan si pemotret.
</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blogombal.org/2010/02/01/foto-foto-berfilm-yang-tak-laku/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Sisa-sisa yang Bertahan oleh Terjangan Digital</title>
		<link>http://blogombal.org/2010/01/28/sisa-sisa-yang-bertahan-oleh-terjangan-digital/</link>
		<comments>http://blogombal.org/2010/01/28/sisa-sisa-yang-bertahan-oleh-terjangan-digital/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 27 Jan 2010 17:02:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>paman tyo</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Selingan]]></category>

		<category><![CDATA[artis]]></category>

		<category><![CDATA[baliho]]></category>

		<category><![CDATA[banner]]></category>

		<category><![CDATA[kain rentang]]></category>

		<category><![CDATA[letter]]></category>

		<category><![CDATA[potho]]></category>

		<category><![CDATA[seniman]]></category>

		<category><![CDATA[spanduk]]></category>

		<category><![CDATA[tipografi]]></category>

		<category><![CDATA[yogya]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blogombal.org/?p=2007</guid>
		<description><![CDATA[	SPANDUK KAIN LEBIH MAHAL TAPI (TERKADANG) LEBIH &#8220;NYENI&#8221;.
	
	Saya tak tahu sekarang ini berapa ongkos bikin spanduk untuk warung tenda. Dua belas tahun lalu (ya!), seorang penjual sari laut mengeluarkan Rp 200.000 untuk kain rentang yang tingginya sekitar satu meter (atau 90 cm?) dan panjangnya empat meter. Itu pun tak jadi dalam sehari. Sekarang dengan cetak [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[	<h3>SPANDUK KAIN LEBIH MAHAL TAPI (TERKADANG) LEBIH &#8220;NYENI&#8221;.</h3>
	<p><img class="normal" title="spanduk warung tenda" src="http://i54.photobucket.com/albums/g110/kotakgambar/makan/blogombal-spanduk-warung02.jpg" alt="" width="360" height="203" /></p>
	<p>Saya tak tahu sekarang ini berapa ongkos bikin spanduk untuk warung tenda. Dua belas tahun lalu (ya!), seorang penjual sari laut mengeluarkan Rp 200.000 untuk kain rentang yang tingginya sekitar satu meter (atau 90 cm?) dan panjangnya empat meter. Itu pun tak jadi dalam sehari. Sekarang dengan cetak digital, spanduk (plastik) yang berukuran sama cuma berongkos Rp 72.000 ribu –– biaya per meter perseginya Rp 18.000.</p>
	<p>Plastik lebih kaku tapi kedap air. Usia pakainya, untuk luar ruang dengan tinta murah, bisa enam bulan. Karena ini negeri pemulung, plastik bekas spanduk itu selalu ada yang memanfaatkan. Misalnya untuk alas tikar.</p>
	<p><img class="normal" title="spanduk warung tenda" src="http://i54.photobucket.com/albums/g110/kotakgambar/makan/blogombal-spanduk-warung003.jpg" alt="" width="360" height="203" /></p>
	<p>Baiklah ini soal kemajuan teknologi. Apapun, kalau massal, dan kompetisinya ketat, akan memurah. Tapi saya kehilangan sesuatu: sentuhan tangan berupa gambar dan tulisan.</p>
	<p>Sebagian besar gambar-gambar pada spanduk kain itu tak mencontoh buku grafis apalagi sumber di internet. Untuk tipografi pun demikian. Paling banter mencontoh &#8220;buku letter&#8221; murah meriah yang oleh penyusunnya dikerjakan penuh percaya diri karena mengabaikan semua teori tipografi ala sekolahan.</p>
	<p><img class="normal" title="spanduk warung tenda" src="http://i54.photobucket.com/albums/g110/kotakgambar/makan/blogombal-spanduk-warung04.jpg" alt="" width="360" height="165" /></p>
	<p>Saya kehilangan tapi tak saya ratapi. Saya hanya mencoba mengapresiasi sebelum itu semua punah. Sama seperti terhadap baliho bioskop yang wajah aktor dan aktrisnya tak jarang mengundang tebakan.</p>
	<p>Para pembuat spanduk dan baliho secara manual itu juga berhak menyebut diri artis. Kalau istlah artis kadung disalahkaprahkan dengan bintang hiburan yang berkilau, maka bolehlah mereka menyebut diri seniman.</p>
	<p>Di Yogya dulu ada &#8220;ahli papan nama dan letter&#8221;, namanya Potho. Pintu truk pun bisa dia tulisi dengan rapi, memakai cat, dan awet pula. Saya tak tahu bagaimana sekarang bisnis Potho dan lainnya, karena stiker hasil cetak digital dan stiker potong hasil olahan pisau <em>plotter</em> kian murah.</p>
	<p>Tentang istilah &#8220;artis&#8221;, ada kawan saya, seorang desainer grafis, yang lebih suka kata &#8220;<em>artist</em>&#8220;. Menurutnya artinya beda. Antara lain ya tersebab konotasi itu. Dulu malah ada teman saya yang bingung untuk membedakan &#8220;artis&#8221; dan &#8220;aktris&#8221;. :)</p>
	<p><em>Bonus: untuk hasil karya seniman pada bak truk, lihat P</em><a href="http://pesanlewat.com" target="_blank"><em>esanlewat.com</em></a>
</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blogombal.org/2010/01/28/sisa-sisa-yang-bertahan-oleh-terjangan-digital/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Pagar Makan Penglihatan</title>
		<link>http://blogombal.org/2010/01/26/pagar-makan-penglihatan/</link>
		<comments>http://blogombal.org/2010/01/26/pagar-makan-penglihatan/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 26 Jan 2010 16:06:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>paman tyo</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Komedi Indonesia]]></category>

		<category><![CDATA[arsitektur]]></category>

		<category><![CDATA[BRC]]></category>

		<category><![CDATA[fiberglass]]></category>

		<category><![CDATA[fickry]]></category>

		<category><![CDATA[kota]]></category>

		<category><![CDATA[pagar]]></category>

		<category><![CDATA[plastik]]></category>

		<category><![CDATA[polikarbonat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blogombal.org/?p=2003</guid>
		<description><![CDATA[	RUMAH KITA, CANGKANG KITA.
	
	Jadi, apa sebetulnya yang kita butuhkan dari pagar halaman depan rumah kita? Misalkan perda tak mengaturnya, mungkin kita semua akan membangun pagar bumi yang tinggi mirip beberapa kota lama yang banyak saudagarnya. Setiap rumah adalah benteng dalam wujud fisik. Orang luar maupun penghuni harus saling intip.
	Tengoklah sekitar. Bahkan maaf, mungkin juga rumah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[	<h3>RUMAH KITA, CANGKANG KITA.</h3>
	<p><img class="alignnone" title="pagar bertabir plastik di perumahan" src="http://i54.photobucket.com/albums/g110/kotakgambar/jalan5/memo-pagar-rumah-tangga.jpg" alt="" width="360" height="203" /></p>
	<p>Jadi, apa sebetulnya yang kita butuhkan dari pagar halaman depan rumah kita? Misalkan perda tak mengaturnya, mungkin kita semua akan membangun pagar bumi yang tinggi mirip beberapa kota lama yang banyak saudagarnya. Setiap rumah adalah benteng dalam wujud fisik. Orang luar maupun penghuni harus saling intip.</p>
	<p>Tengoklah sekitar. Bahkan maaf, mungkin juga rumah Anda. Pagar besi anyam <a href="http://www.brc-reinforcement.co.uk/letter.php " target="_blank">BRC</a> pun kita pasangi lembaran plastik. Terserah orang bilang itu mika, &#8220;piber&#8221;, atau polikarbonat, tapi intinya adalah kita menyukai pelapis pagar setengah tembus pandang itu.</p>
	<p>Kita punya alasan utama: privasi. Tak enak bila kehidupan di balik pagar tampak dari jalan. Yang saya sebut kehidupan bukan cuma orang bersila dengan <em>hotpants</em> tetapi juga kursi tamu dan TV &#8212; bahkan mobil.</p>
	<p>Setelah privasi, alasannya adalah keamanan. Yang termasuk dalam keamanan adalah kenyamanan karena menyangkut pengamen dan pencari sumbangan yang memprioritaskan pintu rumah yang terbuka. Pintu terbuka akan lebih terlihat jika tak dihalangi pagar bertabir.</p>
	<p>Alasan lain? Umumnya rumah berhalaman sempit sehingga jarak pintu atau jendela dengan jalan kadang cuma dua meter. Tapi bukankah sejak dulu pun banyak rumah begitu, mengapa penghuni tak perlu memasang tabir pagar?</p>
	<p>Sekarang desain pagar yang bagus di atas kertas pun akhirnya akan dimakan tabir. Mestinya sejak awal tukang las tak perlu repot, cukup membuat rangka pagar sederhana dengan sekian lubang sekrup.</p>
	<p>Sebetulnya solusi tetap ada. Bangunlah pagar tembok sesuai ketentuan, tetapi lubangnya di bawah. Pelintas yang ingin melongok ke dalam harus jongkok atau merangkak.</p>
	<p>Pagar-pagar di rumah kita adalah cerminan sosial kehidupan suatu wilayah. Dulu rumah orang &#8220;miskin&#8221; di kampung dan desa tak berpagar. Sekarang hanya orang makmur di <em>cluster</em> tertentu yang berani tak berpagar. Satpam, anjing, dan alarm siap menjaga. Bila perlu ditambah pagar virtual dari dukun.</p>
	<p>Saya teringat komentar <a href="http://defickry.wordpress.com/" target="_blank">Fickry</a> tahun lalu ketika saya memposting jambu air. Di Canberra, katanya, rumah tak boleh berpagar. Hasilnya &#8220;<a href="http://blogombal.org/2009/02/14/buah-tangan-dari-kebun-sendiri/#comment-385352" target="_blank">pekarangan sarat warna</a>&#8220;.</p>
	<p>Di sini? Sepatu dan sandal hilang duluan. Kucing tetangga lebih leluasa masuk-keluar. Tapi arsitektur mestinya bisa memberi solusi.
</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blogombal.org/2010/01/26/pagar-makan-penglihatan/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Belajar dari Foto (tentang) Nukman Luthfie</title>
		<link>http://blogombal.org/2010/01/18/belajar-dari-foto-tentang-nukman-luthfie/</link>
		<comments>http://blogombal.org/2010/01/18/belajar-dari-foto-tentang-nukman-luthfie/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 18 Jan 2010 06:57:26 +0000</pubDate>
		<dc:creator>paman tyo</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Ngeblog]]></category>

		<category><![CDATA[facebook]]></category>

		<category><![CDATA[hak cipta]]></category>

		<category><![CDATA[jejaring sosial]]></category>

		<category><![CDATA[media sosial]]></category>

		<category><![CDATA[privasi]]></category>

		<category><![CDATA[ranjau]]></category>

		<category><![CDATA[twitter]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blogombal.org/?p=1996</guid>
		<description><![CDATA[	GUYON KOMUNAL, PRIVASI, DAN HUKUM.
	
	Foto Nukman Luthfie, salah satu pesohor dalam jagat online Indonesia, di Facebook tadi pagi bisa ditimbang dari beberapa sisi. Timbangan terhadap hasil jepretan kamera saku saya di tempat terbuka, tanpa bingkai acara &#8220;dalam rangka&#8221;, itu bisa diringkas menjadi tiga hal.
	Pertama: hanya guyon komunal. Tapi komunal yang bagaimana karena karena dalam jejaring [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[	<h3>GUYON KOMUNAL, PRIVASI, DAN HUKUM.</h3>
	<p><img class="normal" title="nukman luthfie di facebook" src="http://i54.photobucket.com/albums/g110/kotakgambar/jalan5/blogombal-nukman-luthfie.jpg" alt="" width="360" height="266" /></p>
	<p><a href="http://www.facebook.com/photo.php?pid=873366&amp;l=ce79792ecb&amp;id=1440161736" target="_blank">Foto Nukman Luthfie</a>, salah satu pesohor dalam jagat <em>online </em>Indonesia, di Facebook tadi pagi bisa ditimbang dari beberapa sisi. Timbangan terhadap hasil jepretan kamera saku saya di tempat terbuka, tanpa bingkai acara &#8220;dalam rangka&#8221;, itu bisa diringkas menjadi tiga hal.</p>
	<p><strong>Pertama:</strong> hanya guyon komunal. Tapi komunal yang bagaimana karena karena dalam jejaring sosial teman dia belum tentu teman saya, begitu juga sebaliknya. Meskipun berada di jejaring kecil yang sama, kesan dan opini setiap orang bisa berbeda-beda, apalagi kalau kebun binatangnya berlainan.</p>
	<p><strong>Yang kedua: </strong>privasi semakin menipis. Tanpa aktif dalam sebuah layanan <em>online </em>pun seseorang bisa terpampang, dikenali, dan dikomentari oleh orang lain &#8212; apalagi jika dia aktif. Ini jelas mengerikan jika orang sampai nyaris tak punya kehidupan pribadi. Celakanya, yang namanya komentar seringkali di luar kontrol si terpotret. Istilah para aktivis sebuah portal: &#8220;merusuh&#8221;. Komentar melenceng dari konteks.</p>
	<p><strong>Nah inilah soal yang ketiga:</strong> adalah hak Nukman dan setiap orang, termasuk saya, untuk berkeberatan terhadap pemuatan foto diri yang tak cocok di hati. Apalagi <a href="http://id.wikisource.org/wiki/Undang-Undang_Republik_Indonesia_Nomor_19_Tahun_2002" target="_blank">UU Hak Cipta</a> mengatur hal itu (misalnya: pasal 20, pasal 21, pasal 22).</p>
	<p>Untuk soal <em>kedua </em>dan <em>ketiga</em>, sejauh saya merasa, aman saja. Nukman tahu kalau saya foto setelah kami bersirobok di trotoar, bahkan dia bilang, &#8220;Entar diposting di status ya.&#8221; Dia pun ber-hehahehe dalam komentarnya.</p>
	<p>Memang, bagi yang tak mengenal kami, teks dalam foto itu kejam. Nukman saya jadikan orang yang penting tapi secara situasional mengganggu kepentingan saya. Itu hanya gurauan, karena yang terjadi tidak sesengak itu. Kami sudah lama saling mengenal.</p>
	<p>Bagaimana jika saya menjepret Nukman secara diam-diam, dengan latar kejadian dia bukan sedang mengantar anak ke sekolah, lantas saya membuat teks foto tanpa semana-mena, pokoknya merugikan dia? Tentu saya harus mencabut foto, menemui dia untuk meminta maaf, sambil mencari pengacara (untuk mendamaikan).</p>
	<p>Kalau bicara pemuatan foto di layanan <em>online</em>, sebetulnya tak hanya terjadi pada Nukman. Banyak <em>bloggers</em> mengalaminya dan &#8220;harus menerima&#8221; karena alasan &#8220;guyon komunal&#8221;. Ndoro Kakung termasuk langganan saya. Sejauh ini dia mengalah sekaligus terhibur (mungkin malah ketagihan), dan tidak memerkarakan saya &#8212; untuk kemudian membalasnya. Maklumlah dia seteru mesra saya. Ralat: tepatnya, saya seteru bagi dia.</p>
	<p>Lantas di mana batas kepantasan pemuatan foto orang lain dalam media jejaring sosial? Selama ini kita memakai standar ganda dan prinsip yang sifatnya kasuistis (terhadap si A bisa, terhadap si B berhat-hati).</p>
	<p>Tentu dalih &#8220;<em>privacy is so yesterday</em>&#8221; dan &#8220;jangan bergaul kalau gak mau diusili&#8221; tidak cukup. Barangkali tip ini bisa menjadi katup pengaman: jangan sampai menistakan orang, kalaupun dia tampak lucu harus tetap keren. Syukur jika keluarganya ikut senang. Foto seseorang ngiler selagi tidur tentulah tak menyamankan siapapun yang melihat, terutama si terfoto.</p>
	<p>Menurut Anda?
</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blogombal.org/2010/01/18/belajar-dari-foto-tentang-nukman-luthfie/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Kota Terbaik untuk Pejalan Kaki</title>
		<link>http://blogombal.org/2010/01/15/kota-terbaik-untuk-pejalan-kaki/</link>
		<comments>http://blogombal.org/2010/01/15/kota-terbaik-untuk-pejalan-kaki/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 15 Jan 2010 14:56:54 +0000</pubDate>
		<dc:creator>paman tyo</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Umum]]></category>

		<category><![CDATA[adipura]]></category>

		<category><![CDATA[award]]></category>

		<category><![CDATA[DPRD]]></category>

		<category><![CDATA[ekologi]]></category>

		<category><![CDATA[pejalan kaki]]></category>

		<category><![CDATA[pilbup]]></category>

		<category><![CDATA[pilgub]]></category>

		<category><![CDATA[pilkada 2010]]></category>

		<category><![CDATA[pilkot]]></category>

		<category><![CDATA[tata ruang]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blogombal.org/?p=1976</guid>
		<description><![CDATA[	SEMOGA ADA DI BENAK PARA KANDIDAT 244 PILKADA(L).
	
	Sayang tak ada yang saya tanya, siapa yang memetik buah kelapa di tikungan itu. Mestinya sih ada. Setidaknya ada yang memungut kalau jatuh. Lebih dari itu, toh tamannya terawat. Kelapa tak dibiarkan mengering sampai jatuh sendiri atau dibiarkan jadi santapan bajing.
	
	Memang soal kelapa. Tapi saya tidak bicara soal [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[	<h3>SEMOGA ADA DI BENAK PARA KANDIDAT 244 PILKADA(L).</h3>
	<p><img class="normal" title="buah kelapa di tepi jalan panglima polim jakarta" src="http://i54.photobucket.com/albums/g110/kotakgambar/jalan5/blogombal-kelapa.jpg" alt="" width="360" height="233" /></p>
	<p>Sayang tak ada yang saya tanya, siapa yang memetik buah kelapa di tikungan itu. Mestinya sih ada. Setidaknya ada yang memungut kalau jatuh. Lebih dari itu, toh tamannya terawat. Kelapa tak dibiarkan mengering sampai jatuh sendiri atau dibiarkan jadi santapan bajing.</p>
	<p><img class="normal" title="sesudut taman di jalan panglima polim jakarta" src="http://i54.photobucket.com/albums/g110/kotakgambar/jalan5/blogombal-trotoar-hijau.jpg" alt="" width="360" height="203" /></p>
	<p>Memang soal kelapa. Tapi saya tidak bicara soal kampung biasa. Ini kampung besar bernama Jakarta. Ada kawasan tertentu yang hijau dan teduh. Misalnya di Kebayoran Baru yang ada kelapanya tadi. Itu di seberangnya kawasan bisnis Blok M, Jakarta Selatan. Di sekitar Taman Langsat juga teduh, sehingga mobil yang terparkir di sana sering kena tahi burung.</p>
	<p><img class="kiri" title="jalan langsat dagdigdug jakarta" src="http://i54.photobucket.com/albums/g110/kotakgambar/jalan5/blogombal-langsat.jpg" alt="" width="200" height="356" />Sebagian Menteng juga begitu. Nyaman bagi pejalan kaki. Bedanya, Menteng dirancang oleh tim arsitek Belanda (P.A.J. Mooijn), sedangkan Kebayoran Baru oleh tim arsitek Indonesia (Mohamad Soesilo, murid Thomas Karsten).</p>
	<p>Jadi, langsung ke pokok tujuan, saya mengimpikan seluruh kota dan semua kota hijau dan teduh seperti kawasan makmur? Ya. Harus. Tidak persis plek, tetapi spiritnya sama. Memang sih, banyak kantong wilayah yang di banyak kota yang kerontang, hanya berisi beton. Tetapi mestinya bisa. Bagaimana caranya, tentu saya tidak tahu karena saya bukan penguasa wilayah yang bisa menggerakkan para ahli nan cerdik lagi cendekia &#8212; syukur bila jenaka.</p>
	<p>Demikian pula halnya dengan pembangunan kawasan baru untuk kelas sosial-ekonomi apapun. Harus teduh dan hijau. Kota yang baik adalah kota yang ramah untuk pejalan kaki. Memang kita hidup di negeri tropis yang panas. Tidak mungkin sesejuk negeri maju di belahan subtropis dan yang lebih dingin. Tetapi justru itu tantangannya, bukan? Singapura juga panas. Batam juga panas. Tetapi nyatanya berbeda. :D</p>
	<p>Jalan kaki yang menyamankan warga bukan sekadar persoalan tersedianya trotoar, karena hal itu mensyaratkan banyak hal yang memang kompleks. Badan jalan dan bahu jalan hanyalah muara dari sejumlah soal: dari kualitas perilaku pengguna jalan, kebijakan tata ruang, manajemen sampah, sampai persoalan ekonomi (dari kaki lima sampai kafe tanpa parkiran). Oh ya, tentu juga soal kejahatan dan gangguan jalanan, dari penodong dan pemabuk sampai penebar ranjau paku.</p>
	<p>Tahun ini ada 244 pilkada (tujuh pemilihan gubernur, 237 pemilihan bupati/wali kota &#8212; <em>kalau dipukul rata, dalam seminggu di Indonesia ada 4-5 hari pencoblosan eh pencontrengan!</em>). Kalau masing-masing kandidat menggunakan layanan internet untuk komunikasinya, maka kita akan dapat memantau siapakah yang menjanjikan terwujudnya kota yang ramah bagi pejalan kaki. Janji dalam kemasan pesan yang mudah dicerna. Setidaknya janji untuk sebagiah wilayah kota sebagai rintisan proyek percontohan, selama lima tahun pertama menjabat.</p>
	<p>Tanpa janji untuk mempernyaman pejalan kaki, para kandidat pilkada hanya jualan pil kadal. Bagaimana dengan para tuan dan nyonya di legislatif daerah? Marilah kita percaya bahwa mereka <em>semua</em> adalah orang-orang pintar berpandangan maju.  Nah, warga yang tidak pintar seperti saya hanya bisa membayangkan sebuah <em>award </em>bernama Kota Terbaik untuk Pejalan Kaki.
</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blogombal.org/2010/01/15/kota-terbaik-untuk-pejalan-kaki/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Gus Dur</title>
		<link>http://blogombal.org/2010/01/02/gus-dur/</link>
		<comments>http://blogombal.org/2010/01/02/gus-dur/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 02 Jan 2010 07:45:20 +0000</pubDate>
		<dc:creator>paman tyo</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Umum]]></category>

		<category><![CDATA[abdurrahman wahid]]></category>

		<category><![CDATA[almarhum]]></category>

		<category><![CDATA[gus dur]]></category>

		<category><![CDATA[obituari]]></category>

		<category><![CDATA[pahlawan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blogombal.org/?p=1968</guid>
		<description><![CDATA[	MEMANG PAHLAWAN KOK&#8230;
	Saya baca di Koran Tempo, bahwa Ketua Fraksi Golkar di DPR-RI Setya Novanto menyatakan pihaknya setuju Gus Dur diberi gelar pahlawan nasional, dengan syarat Soeharto juga diberi gelar serupa. Setya mengingatkan, Gus Dur dulu menzalimi partainya karena mengusulkan pembubaran Golkar.
	Ada dua hal yang harus dicermati. Pertama: saya tak menggunakan kutipan langsung, sehingga bisa [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[	<h3>MEMANG PAHLAWAN KOK&#8230;</h3>
	<p><img class="kiri" title="abdurrahman gud dur wahid" src="http://4.bp.blogspot.com/_X7GMCO-Ypc4/Sicon2uT_7I/AAAAAAAACY8/0YlLEMdkKoE/s400/GUS+DUR.jpg" alt="" width="165" />Saya baca di <em>Koran Tempo</em>, bahwa Ketua Fraksi Golkar di DPR-RI Setya Novanto menyatakan pihaknya setuju Gus Dur diberi gelar pahlawan nasional, dengan syarat Soeharto juga diberi gelar serupa. Setya mengingatkan, Gus Dur dulu menzalimi partainya karena mengusulkan pembubaran Golkar.</p>
	<p>Ada dua hal yang harus dicermati. Pertama: saya tak menggunakan kutipan langsung, sehingga bisa saja nuansanya tak lengkap. Kedua: saya tak tahu itu pendapat pribadi Setya atau Golkar.</p>
	<p>Bagaimana kalau pernyataan Setya juga merupakan suara partai? Tak penting bagi saya. Dengan atau tanpa gelar pahlawan, Gus Dur tetaplah tokoh dan hero bagi banyak orang Indonesia.</p>
	<p>Pengakuan formal bukanlah segalanya untuk seorang Gus Dur. Dia terlalu besar untuk sekadar diberi gelar resmi oleh pemerintah. Bahkan secara pribadi saya menganggap kalau pengakuan terhadap kebesaran seorang Abdurrahman Wahid hanya dibuktikan dengan penamaan jalan raya, maka itu belum seberapa. Bisa-bisa itu cuma menghilangkan jejak lama toponimis sebuah wilayah jika pemilihan ruas jalannya tak tepat.</p>
	<p>Maaf jika pendapat saya menyinggung perasaan Anda dan bahkan keluarga Gus Dur. Tiada niat saya merendahkan almarhum. Justru karena dia terlalu besar maka formalisme yang hanya formalisme bisa mengerdilkannya. Bagi saya lebih utama merawat spirit Gus Dur tentang demokrasi, pluralisme, dan humanisme.</p>
	<p>Saya pribadi tak mengenal Gus Dur. Memang pernah beberapa kali  bersua, itu pun karena tugas jurnalistik ketika dia belum menjadi presiden. Satu hal yang saya pegang, bahwa setiap ucapannya &#8212; meskipun ada bukti dan dia siap mempertanggungjawabkannya &#8212; tidak asal saya kutip padahal sangat layak kutip. Tanpa pemahaman terhadap konteks, maka ucapannya bisa membuat pihak lain meradang dan menimbulkan kontroversi.</p>
	<p>Terlalu banyak cerita tentang Gus Dur.  Biarlah itu menjadi khazanah khalayak. Tapi saya ingat, ketika kemampuan matanya masih memungkinkan, di kantor PBNU (bangunan versi lama) Gus Dur masih melakukan hal mengasyikkan seperti yang dilakukan ayah saya: membaca koran lalu memotong sendiri untuk kliping. Kadang dia bercanda, tanpa tatap muka, dengan beberapa petugas kantor yang tak berada di depan mejanya.</p>
	<p>Gus Dur dengan segala keanehannya, yang kadang memang menjengkelkan, tetap saya kagumi. Dia bukan manusia sempurna &#8212; begitu pula kita. Masa-masa Gus Dur masih sehat mata dan raganya adalah ketika dia menulis &#8220;serius&#8221; untuk Prisma dan LP3ES. Kolomnya untuk Tempo dan Kompas juga mengesankan.</p>
	<p>Barusan saya baca, pengasuh Tebuireng K.H. Salahuddin Wahid meminta peziarah lebih rasional, tak usah mengambil gumpal tanah pusara Gus Dur (untuk diserap khasiatnya). Tentang ini saya ingat bahwa Gus Dur, dalam sebuah buku terbitan LP3ES (saya lupa judulnya), pernah menyinggung soal esoterisme dalam tradisi pesantren. Kalau tak salah dia sempat mencontohkan kyai sakti yang bisa melompati (atau merubuhkan?) pohon kelapa.</p>
	<p>Gus Dur adalah salah satu tokoh NU yang membawa keluar pesantren ke kancah urban dan ilmiah, antara lain melalui media dan proyek Friedrich Naumann Stiftung/LP3ES. Tulisan awalnya di Kompas pada 70-an hanya mencantumkan &#8220;pengajar di Pesantren Tebuireng&#8221;. Gelar &#8220;K.H.&#8221;, seingat saya belum ada waktu itu (oh ya berhaji tahun 80-an kalau tak salah &#8212; ditemani Walkman berisi lagu Mozart dan Beethoven). PDAT pasti menyimpan foto Gus Dur muda yang berkaos Voice of America.</p>
	<p>Tentang sosok visual Gus Dur, baiklah saya berterus terang justru dengan kekaguman. Foto-foto dia yang beredar dan belakangan digandakan untuk aneka keperluan, apalagi setelah kesehatannya menurun, bukanlah foto yang secara fisik gagah. Bukan foto-foto yang sesi pemotretannya dirancang dengan kesadaran pencitraan diri yang mengarah ke penciptaan aura. Tapi rakyat Indonesia tak peduli itu. Aura ada di benak dan hati khalayak. Lebih utama spirit di balik raga Gus Dur.</p>
	<p>Di situlah saya menemukan makna kharisma. Di sisi lain, foto dari kantor berita asing tentang suasana Istana ketika Gus Dur dimakzulkan,  terutama peci di atas tumpukan barang, itu tak mengurangi auranya: dia tetap rakyat dan bagian dari rakyat. Dia tampak <em>humane</em>.</p>
	<p>Gus Dur itu sangat multidemensional sekaligus membingungkan. Indonesia kehilangan dia &#8212; dengan maupun tanpa gelar pahlawan dari pemerintah, dengan maupun tanpa pengabadian nama untuk jalan. Perbendaharaan kata kita seperti cupul untuk menggambarkan dia. Biarlah sejarah mencatat apa saja kata orang banyak tentang dia.</p>
	<p>© Ilustrasi: tidak diketahui
</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blogombal.org/2010/01/02/gus-dur/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Kematian dan Garis Akhir Derita</title>
		<link>http://blogombal.org/2010/01/02/kematian-dan-garis-akhir-derita/</link>
		<comments>http://blogombal.org/2010/01/02/kematian-dan-garis-akhir-derita/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 02 Jan 2010 05:09:20 +0000</pubDate>
		<dc:creator>paman tyo</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Keluarga]]></category>

		<category><![CDATA[Personal]]></category>

		<category><![CDATA[almarhum]]></category>

		<category><![CDATA[arsitek]]></category>

		<category><![CDATA[kematian]]></category>

		<category><![CDATA[natal 2009]]></category>

		<category><![CDATA[prono numatyo]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blogombal.org/?p=1957</guid>
		<description><![CDATA[	CATATAN PASCA-NATAL.
	
	&#8220;Terkadang aku menyesal karena gagal mengupayakan &#8216;perpanjangan waktu&#8217; buatmu.&#8221; (Facebook, 24 Desember 2009, 19.09).
	&#8220;PakNo sering tanya: &#8216;baiknya aku menyerah atau bertahan?&#8217; Aku bilang &#8216;terus bertahan&#8230;&#8217;, meskipun aku nggak tega melihatnya. (Japri adik saya, tentang adik saya satunya lagi dalam paragraf barusan, 25 Desember 2009, 00.03).
	Tanggal 28, tiga hari setelah Natal, menjelang waktunya itu tiba, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[	<h3>CATATAN PASCA-NATAL.</h3>
	<p><img class="normal" title="Prono Numatyo dan ibunda K.N. Daldjoeni" src="http://i54.photobucket.com/albums/g110/kotakgambar/rumah/ibu-prono-12des2009.jpg" alt="" width="360" height="240" /></p>
	<p><em>&#8220;Terkadang aku menyesal karena gagal mengupayakan &#8216;perpanjangan waktu&#8217; buatmu.&#8221;</em> (Facebook, 24 Desember 2009, 19.09).</p>
	<p><em>&#8220;PakNo sering tanya: &#8216;baiknya aku menyerah atau bertahan?&#8217; Aku bilang &#8216;terus bertahan&#8230;&#8217;, meskipun aku nggak tega melihatnya. </em>(Japri adik saya, tentang adik saya satunya lagi dalam paragraf barusan, 25 Desember 2009, 00.03).</p>
	<p>Tanggal 28, tiga hari setelah Natal, menjelang waktunya itu tiba, adik saya yang masih sadar berucap kepada pendeta bahwa dirinya siap. Setelah itu dia sempat menanya <a href="http://terapikomik.blogdrive.com" target="_blank">keponakan </a>yang menunggunya apakah sempat tidur, dan lantas bagaimana soal pekerjaan. Pagi sekitar pukul 9.45 dia berpulang. Tak tega saya menceritakan deritanya di sini. Esok siangnya, di bawah gerimis, dia dimakamkan di sebelah bapak saya.</p>
	<p><img class="kiri" title="profil facebook prono numatyo" src="http://i54.photobucket.com/albums/g110/kotakgambar/rumah/mesin-cuci-prono2009.jpg" alt="" width="150" height="179" />Memang tak mendadak. Tetapi situasi memburuk rasanya berlangsung cepat dari hari ke hari. Ketika saya menjenguknya ke Yogyakarta, 12 Desember, dia tampak menderita. Saya tak tega. Sehari setelahnya, 13 Desember, dia mengganti gambar profilnya di Facebook dengan mesin cuci.</p>
	<p>Ya, dia masih punya rasa humor meskipun pahit. Ketika menunggu mobil penjemput tiba seusai cuci darah, saya sempat membuat foto bercanda dengannya bersama ibu, seolah sedang di rumah bui.</p>
	<p>Selingan tetap diperlukan dalam situasi sulit. Foto itu, tanpa melihat konteks, adalah foto rutin tentang cengengesannya sebuah keluarga. Sejak sebelum era fotografi digital, saya dan adik-adik memang kerap membuat foto-foto tak penting.</p>
	<p>Nyatanya, seteguh apapun kami sekeluarga mencoba menaklukkan galau hati sambil terus mencari upaya terbaik, kondisi dia terus memburuk. Komplikasi mengikuti hukumnya sendiri. Mungkin lucu padahal pahit: dia sadar mestinya dirinyalah yang menjaga ibu kami yang sudah berusia 77 tahun, dan bukan sebaliknya. Ada rasa bersalah setiap kali dia melontarkan kontradiksi itu.</p>
	<p>Keadaan memburuk dan arahnya adalah suatu hal yang dia pahami sejak awal, sehingga dari tahap ke tahap dia paham skema yang ada dalam benaknya: setelah ini adalah itu, setelah organ ini begitu maka akibat lanjutannya begini. Kognisi dan internet membantunya membuat sebuah peta perjalanan kemungkinan. Peta panjang yang dia pahami sejak jauh hari. Dokumen iridologis beberapa tahun lalu, yang kami temukan setelah dia berpulang, membuktikan bahwa dia selalu mencari tahu tentang kondisi tubuhnya.</p>
	<p>Tanggal 13 Desember di rumah Yogya (dua minggu sebelum dia meninggal), selagi saya menunggu taksi penjemput ke bandara, adik saya geli melihat saya sedang menalikan <em>sneakers</em>, &#8220;<em>Ha kowe iki arep tinju, po?</em>&#8221; (Lha kamu akan tinju, apa?). Kebetulan saya memakai sepatu cap Everlast. Kami tertawa bersama. Tapi tawa dia lemah. Tubuhnya tak sanggup memompakan energi tawa sebagaimana mestinya.</p>
	<p>Kami memang terbiasa bercanda. Apalagi sejak kecil tak ada panggilan mas dan mbak untuk saudara yang lebih tua. Lucunya hingga kini kami sering saling sapa dengan &#8220;pak&#8221; atau &#8220;bu&#8221;. Itu berlangsung sejak kami, pada 1981, punya keponakan &#8212; padahal saat itu kami masih belia, bahkan dua yang terkecil masih SMP.  Dia juga yang tetap memanggil istri saya (mbakyu iparnya) dengan &#8220;wuk&#8221;, mengikuti saya, sejak saya belum menikah 18 tahun lalu. Maka dalam japri, adik saya menyebut Pak No untuk Prono yang kemudian almarhum itu, menyusul <a href="http://blogombal.org/2008/12/28/natalan-dengan-pohon-rambutan-di-kuburan/">kakak sulung yang berpulang sehari sebelum Natal 2008</a>.</p>
	<p>Bagi saya, dia adalah arsitek yang baik: mau dan bisa memahami klien, tapi juga tak membebek karena tetap menyodorkan hal yang menurut keyakinannya adalah respon terhadap kebutuhan melalui solusi keruangan (spasial).</p>
	<p>Proses panjang perancangan rumah saya kami lakukan dengan MSN Messenger pada tahun 2000. Dia dengarkan semua kebutuhan dan kebiasaan saya &#8212; juga keterbatasan ekonomis saya. Sesuatu yang tidak sulit karena dia memahami saya yang juga kakaknya. Sama sekali kami tak membahas bentuk dan rupa bangunan. Gambar yang saya kirim via <em>messenger </em>pun berupa skema mirip sekumpulan himpunan, ada yang berinterseksi, dengan sejumlah panah ranah dan legenda penjelas. Kami bicara soal konsep.</p>
	<p>Dalam perjumpaan langsung, hal sama pun berulang. Kami banyak berdiskusi &#8212; tapi dia yang lebih banyak menggambar dan menghabiskan kertas. Dia hanya ngakak ketika saya sok tahu mengikuti Frank Lloyd Right: <em>form and function are one</em> &#8212; bukan bentuk mengikuti fungsi.</p>
	<p>Hasilnya? Rumah sederhana saya berbanyak debu karena terlalu banyak lubang udara. Kalau hujan deras kadang kena tempias. Saya anggap itu harga sebuah keinginan dan keyakinan. Padahal dia sudah mengingatkan. Saya pun tak mau pasang AC, tapi solusinya sudah membuat kami terbahak: kalau gerah saya akan buka baju, cuma sarungan, selayaknya orang kampung &#8212; sesuai kultur saya. Saya orang Jabodetabek, jarang menerima tamu, sehingga itu bisa dan boleh saja. Arsitektur yang baik adalah yang membuat penghuninya nyaman dengan pilihan cara hidupnya. Itulah keyakinan kami.</p>
	<p>Selamat jalan. Sang Arsitek Agung telah memanggilmu. Hitungan dangkal manusia tak pernah paham teka-teki kehidupan selain mencoba menafsirkan bahwa ini adalah garis akhir derita.</p>
	<p>Terima kasih saya dan keluarga besar kepada semua pihak atas perhatian, dukungan, dan bantuan Anda. Terlampir YouTube yang dia unggah di Facebook-nya pada 13 Desember, 17.42. Klip dari Queen, <em>Friends Will Be Friends</em>. Dia terharu, bahkan sampai menangis, setiap kali dijenguk kawan-kawannya&#8230;</p>
	<p><object classid="clsid:d27cdb6e-ae6d-11cf-96b8-444553540000" width="340" height="285" codebase="http://download.macromedia.com/pub/shockwave/cabs/flash/swflash.cab#version=6,0,40,0"><br />
<param name="allowFullScreen" value="true" />
<param name="allowscriptaccess" value="always" />
<param name="src" value="http://www.youtube.com/v/0AIlz08fZos&amp;hl=en_US&amp;fs=1&amp;rel=0&amp;color1=0x3a3a3a&amp;color2=0x999999&amp;border=1" /><embed type="application/x-shockwave-flash" width="340" height="285" src="http://www.youtube.com/v/0AIlz08fZos&amp;hl=en_US&amp;fs=1&amp;rel=0&amp;color1=0x3a3a3a&amp;color2=0x999999&amp;border=1" allowscriptaccess="always" allowfullscreen="true"></embed></object>
</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blogombal.org/2010/01/02/kematian-dan-garis-akhir-derita/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Natal? Betul, Natal.</title>
		<link>http://blogombal.org/2009/12/24/natal-betul-natal/</link>
		<comments>http://blogombal.org/2009/12/24/natal-betul-natal/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 24 Dec 2009 16:33:25 +0000</pubDate>
		<dc:creator>paman tyo</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Maklumat]]></category>

		<category><![CDATA[Personal]]></category>

		<category><![CDATA[dunkin' donuts]]></category>

		<category><![CDATA[katedral jakarta]]></category>

		<category><![CDATA[natal 2009]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blogombal.org/?p=1948</guid>
		<description><![CDATA[	
	Untuk Anda yang merayakan Natal, saya mengucapkan selamat. Selamat merayakan dalam arti &#8220;memestakan&#8221; &#8212; ini salah satu arti merayakan menurut KBBI. Tentu saya pun mengucapkan selamat untuk merayakan lebih dari dari sekadar berpesta.
	Serupa anak sekolah, saya tak dapat membuat karangan yang bagus tentang Natal. Di hari libur yang santai ini pun saya tak akan mengajak [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[	<p><img class="normal" title="natal 2009: katedral, dunkin donuts, petugas kebersihan -- semua dalam bayangan di air" src="http://i54.photobucket.com/albums/g110/kotakgambar/memo/blogombal-katedral-dunkin.jpg" alt="" width="360" height="203" /></p>
	<p><em>Untuk Anda yang merayakan Natal, saya mengucapkan selamat. Selamat merayakan dalam arti &#8220;memestakan&#8221; &#8212; ini salah satu arti merayakan menurut KBBI. Tentu saya pun mengucapkan selamat untuk merayakan lebih dari dari sekadar berpesta.</em></p>
	<p><em>Serupa anak sekolah, saya tak dapat membuat karangan yang bagus tentang Natal. Di hari libur yang santai ini pun saya tak akan mengajak Anda berdiskusi tentang tradisi gereja bernama Natal dan sejarahnya, berikut aspek kulturalnya.</em></p>
	<p><em>Di sini saya hanya melampirkan foto bayang-bayang Katedral Jakarta pada genangan air, yang saya ambil Selasa 22 Desember lalu, ketika <a href="http://oh.blogombal.org/2009/12/22/hujan-sejak-pagi/" target="_blank">Ibu Kota diguyur gerimis dan hujan rintik seharian</a>. Katedral di kejauhan, menjadi latar belakang dari kedai donat, dengan petugas kebersihan yang sedang bekerja.</em></p>
	<p><em>Saya memotret asal jepret, tanpa membayangkan ini bisa menjadi kartu Natal versi saya di blog. Ternyata bisa. Natal memberi berkah. Termasuk berkah berupa perasaan telah berlaku kreatif. Sekali lagi selamat.</em></p>
	<p><em>Belakangan saya mengalami keanehan spiritual: hidup ini penuh berkah, maka kalaupun berdoa, bukankah kita hanya bisa bersyukur, berterima kasih, karena tanpa pernah meminta pun Tuhan sering memberi? Ah sudahlah, ini untuk diskusi lain kali.</em></p>
	<p><em>Salam,</em></p>
	<p><em>Saya</em>
</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blogombal.org/2009/12/24/natal-betul-natal/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Catatan Pasca-koin</title>
		<link>http://blogombal.org/2009/12/21/catatan-pasca-koin/</link>
		<comments>http://blogombal.org/2009/12/21/catatan-pasca-koin/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 21 Dec 2009 07:04:11 +0000</pubDate>
		<dc:creator>paman tyo</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Umum]]></category>

		<category><![CDATA[koin]]></category>

		<category><![CDATA[koinkeadilan.com]]></category>

		<category><![CDATA[langsat]]></category>

		<category><![CDATA[minah]]></category>

		<category><![CDATA[Omni]]></category>

		<category><![CDATA[prita]]></category>

		<category><![CDATA[UU-ITE pasal 27 ayat 3]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blogombal.org/?p=1934</guid>
		<description><![CDATA[	MASIH ADA SEJUMLAH TANYA.
	&#8220;Cuma sebatas itu ya kepedulian orang urban dan kelas menengah? Di luar Prita nggak perlu diurus? Apa karena Mbah Minah, dan lainnya, bukan pengguna internet?&#8221; tanya seseorang kepada saya. Itu pertanyaan kesekian dari orang yang berbeda.
	Ada pula yang seperti ini, &#8220;Lho katanya Langsat itu rumahnya blogger? Tapi mana blogger-nya, kok yang gabung [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[	<h3>MASIH ADA SEJUMLAH TANYA.</h3>
	<p><img class="kiri" title="kaos sumbangan relawan; colonelseven sedang menyerk koin" src="http://i54.photobucket.com/albums/g110/kotakgambar/memo/kaoskoinprita-gembul.jpg" alt="" width="200" height="190" />&#8220;Cuma sebatas itu ya kepedulian orang urban dan kelas menengah? Di luar Prita nggak perlu diurus? Apa karena Mbah Minah, dan lainnya, bukan pengguna internet?&#8221; tanya seseorang kepada saya. Itu pertanyaan kesekian dari orang yang berbeda.</p>
	<p>Ada pula yang seperti ini, &#8220;Lho katanya Langsat itu rumahnya <em>blogger</em>? Tapi mana <em>blogger</em>-nya, kok yang gabung sejak awal sebagai relawan malah banyakan orang-orang biasa, bukan <em>blogger</em>? Padahal katanya ini soal kebebasan berpendapat di internet kan?&#8221; Saat itu memang jam kerja, dan sebagian <em>bloggers </em>masih ngantor.</p>
	<p><object classid="clsid:d27cdb6e-ae6d-11cf-96b8-444553540000" width="420" height="374" codebase="http://download.macromedia.com/pub/shockwave/cabs/flash/swflash.cab#version=6,0,40,0"><br />
<param name="id" value="ep" />
<param name="allowfullscreen" value="true" />
<param name="allowscriptaccess" value="always" />
<param name="wmode" value="transparent" />
<param name="bgcolor" value="#000000" />
<param name="src" value="http://i.cdn.turner.com/cnn/.element/apps/cvp/3.0/swf/cnn_416x234_embed.swf?context=embed&amp;videoId=world/2009/12/20/shubert.indo.coin.for.prita.cnn" /><embed id="ep" type="application/x-shockwave-flash" width="360" height="374" src="http://i.cdn.turner.com/cnn/.element/apps/cvp/3.0/swf/cnn_416x234_embed.swf?context=embed&amp;videoId=world/2009/12/20/shubert.indo.coin.for.prita.cnn" bgcolor="#000000" wmode="transparent" allowscriptaccess="always" allowfullscreen="true"></embed></object></p>
	<p>Di tengah kesibukan ini-itu, tapi bukan menghitung koin, saya mendapatkan SMS, &#8220;Apa bnr blogger ibukota tuh sukanya kopdar, mau dtg ke acr apa aja asal bs skalian ktm tmn?&#8221;</p>
	<p>Itu belum cukup. Ada yang bilang ke saya, &#8220;Uh, Prita jadi seleb ya sekarang. Malah denger-denger dia udah terima duit dari dokter-dokter tapi diem aja?&#8221;</p>
	<p>Oh ya, ada pula yang begini, &#8220;Pinter ya ambil momentum. Langsat dan dagdigdug dikenal orang. Tapi positif kok.&#8221;</p>
	<p>Hmmm&#8230; perlu paparan jernih, jujur, dan sebisa mungkin tidak menyinggung siapa pun untuk membahas ini. Dari mana mulainya?</p>
	<p><strong>Prita yang Canggung</strong></p>
	<p>Tentang Prita terima duit di luar koin saya tidak tahu. Anehnya pertanyaan ini saya dengar dari beberapa orang yang berbeda dan masing-masing mengaku sumbernya dari &#8220;kalangan dokter&#8221;. <em>Black campaign</em>? Entah.  Atau dokternya menyumbang pakai koin? Oh, memang ada, bahkan dia menggerakan orang untuk menyumbangkan koin demi Prita. Sayang dia kurang suka diekspose. :)</p>
	<p>Kesan saya tentang Prita, dia sendiri kikuk dan tak nyaman menjadi sorotan, apalagi diperlakukan seperti seleb. Menjadi bintang berarti memenuhi harapan banyak orang. Misalnya harapan berbincang lama dari pendukung dan kemudian relawan. Kesempatan itu pernah ada, waktu Obrolan Langsat, September lalu. Jika Anda pengguna Facebook, dapat melihatnya <a href="http://www.facebook.com/#/notes/obrolan-langsat/ringkasan-obrolan-4-belajar-dari-kasus-prita-9-sept-2009/113740404158" target="_blank">di sini</a>, berikut <a href="http://www.facebook.com/#/album.php?aid=141897&amp;id=102529221418&amp;ref=mf" target="_blank">foto-foto khas FB</a>. :)</p>
	<p>Saya tak menghadiri Konser Koin untuk Keadilan yang digagas oleh Adib Hidayat (bravo!), tapi dari laporan di <a href="http://twitter.com/#search?q=konserkoin" target="_blank">Twitter </a>terasa seru banget. Yang saya tahu, sebelum hari konser Prita merasa terharu sekaligus tak enak hati. Sepertinya dia khawatir dianggap membesarkan nama diri. Dia masygul. Apalagi sekian lama media menjadikan dia sebagai tokoh sentral. Tetapi apa boleh buat dia harus berbicara, antara lain supaya orang lain tak mengalami.</p>
	<p><strong>Kepedulian kelas menengah</strong></p>
	<p>Jika membatasi kasus Prita dan dukungannya sebatas ranah internet, maka itu boleh disebut persoalan kelas menengah. Kelas sosial yang punya akses terhadap informasi dan ikut memproduksi konten &#8212; lalu menjalin kerja sama karena internet.</p>
	<p>Membesarnya dukungan terhadap Prita, melalui koin, dan akhirnya konser, juga karena peran <em>mainstream media</em> &#8212; terutama TV. Tanpa TV, gaungnya kurang kuat. Tanpa TV (dan koran), orang-orang biasa yang bukan pengguna internet takkan tergerak untuk menyumbang dan menjadi relawan penghitung koin.</p>
	<p>Sampai di sini masalahnya menjadi menarik. Bagi sebagian orang persoalannya adalah terusiknya rasa keadilan karena individu (seorang Prita) dimintai ganti rugi Rp 204 juta oleh lembaga besar (Omni), &#8220;hanya gara-gara mengeluhkan pelayanan&#8221;. Ada solidaritas terhadap mereka yang dirasa teraniaya.</p>
	<p>Apakah itu karena <em>e-mail</em>, atau lantaran surat pembaca, atau tersebab obrolan arisan, barangkali tidak penting. Ini soal konsumen yang berposisi sebagai Dawud melawan korporat yang menjadi Goliath.</p>
	<p>Dua arus utama kepentingan bersua. Yaitu hasrat akan kebebasan menyatakan pendapat (dengan penolakan terhadap kriminalisasi melalui pasal 27 ayat 3 UU-ITE) dan terlukainya rasa keadilan. Masing-masing arus bisa berjumbuh, bisa juga agak terjauhkan, baik bagi pemakai internet maupun bukan. Itu pun masih ditambah ketidakpuasan masyarakat terhadap praktik penegakan hukum. Di dalamnya ada juga kekesalan terhadap negara.</p>
	<p><strong>Kasus orang kecil selain Prita</strong></p>
	<p>Jika kita digugat oleh desakan atas nama moral, karena tak melakukan gerakan serupa &#8212; berupa sikap (dukungan suara) dan tindakan (mengumpulkan uang) &#8212; terhadap kasus pidana lain, dengan korban orang kecil, maka bisa saja kita cenderung mengalihkan diskusi. Kenapa? Karena tak nyaman.</p>
	<p>Tentu saja alasannya banyak. Tapi ada satu-dua yang saya coba rumuskan &#8212; kalau salah silakan Anda koreksi. Yang pasti tulisan ringkas bisa mempermiskin nuansa, dengan akibat saya akan dianggap sengak. Misalnya?</p>
	<p>Urusan pencurian kecil berbeda dengan kasus Prita. Sekecil apapun pencurian, dan apapun motifnya, sudah diatur dalam hukum pidana. Kurang lebih ini seperti gumam, &#8220;Emang kalo sandal baru diembat kita nggak boleh nganggep yang ngambil itu maling?&#8221; Artinya, <em>by default</em> sebagian dari kita menganggap itu &#8220;biasa&#8221;. Soal seperti ini sebetulnya mengisi pikiran banyak orang, tapi kita sungkan menyampaikannya.</p>
	<p>Adapun dalam kasus Prita, persoalan utama adalah kriminalisasi (apa yang dia lakukan di mata jaksa dan hakim adalah tindak kejahatan). Persoalan lainnya &#8212; yang jujur saja tak dapat kita pisahkan &#8212; adalah wilayah perdata tentang gugatan ganti rugi. Dua perkara berjalan paralel dan menurut publik itu melukai rasa keadilan.</p>
	<p>Jika menyangkut &#8220;kejahatan kecil&#8221;, kita akan tersentak manakala ganjarannya melebihi kepantasan, karena hanya merujuk pasal semata.</p>
	<p>Persoalannya menjadi kontekstual dalam arti diperbandingkan: sama-sama melanggar pasal, tapi koruptor berkemungkinan lebih enak pada akhirnya. Tutup mata Dewi Keadilan ternyata sudah dibuka dan dibuang. Neracanya pun tak pernah dikalibrasi. Itu menyakitkan bagi rakyat.</p>
	<p>Gugatan moralnya adalah: kenapa orang, terutama pengguna internet (termasuk saya!), hanya bisa jengkel, dan tak membuat aksi dari pembolasaljuan isu sampai gerakan nyata? Anda yang akan menjawab. Kapling ini bukan monopoli saya selaku pemilik blog. :)</p>
	<p><strong>Blogger, gerakan spontan, sampai Langsat</strong></p>
	<p>Saya belum, dan memang tidak ingin, membuat sensus berapa banyak <em>bloggers </em>yang memobilisasi pemberian koin dan menjadi relawan. Saya hanya bisa bilang banyak. Termasuk di dalamnya adalah yang tidak menghitung koin karena melakukan hal lain (pencatatan, pengangkutan, bantuan uang, dsb). Intinya adalah keterlibatan langsung.</p>
	<p>Perihal gerakan koin, pada mulanya ini sporadis, spontan. Awalnya tak terbayangkan bahwa jumlahnya akan banyak sehingga merepotkan. Tanpa relawan dan dukungan logistik plus konsumsi, koin bisa menjadi timbunan bisu yang tak tertangani.</p>
	<p>Karena spontan, juga tak terpikirkan soal Paypal dan cara ber-uang yang lain. Karena spontan, maka tak terpikirkan bahwa logo kuning-hitam-putih bisa dianggap mirip lambang Partai Keadilan. Oh ya, dalam spontanitas itu sejak awal tak niat pihak tertentu menjadi sentrum. Setiap penjaring koin boleh menamai sendiri gerakannya dan boleh membuat logo sendiri. Adapun situs <a href="http://koinkeadilan.com" target="_blank">koinkeadilan.com</a> hanya diniatkan sebagai salah satu simpul informasi, bukan gerbang utama.</p>
	<p>Karena spontan, dan mungkin naif, sejak awal terpikir tak ada bintang, baik berupa lembaga maupun orang. Tapi media membutuhkan narasumber, dan di sisi lain pekerja koin juga butuh memobilisasi dukungan (lebih utama lagi: pertanggungjawaban terhadap publik). Akhirnya ada yang merelakan diri tampil sebagai juru bicara secara wajar. Yang saya maksud wajar adalah tidak perlu bergaya Subcommandante Marcos yang menutupi wajah (tapi menampakkan pipa).</p>
	<p>Tentang Langsat, hahaha, sebagian besar relawan tak tahu itu kantor apa, bahkan nama angkringan Wetiga pun tidak penting. Langsat cuma alamat.  Langsat bisa diganti lapangan voli, balai RW, atau nama lain di tempat yang berbeda. Langsat hanya nama jalan, dan di sana terdapat banyak rumah. Arti Langsat bagi istri dan anak saya berbeda dari arti Langsat di benak kerabat tetangga sebelah dan depan.
</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blogombal.org/2009/12/21/catatan-pasca-koin/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
	</channel>
</rss>
