<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Blogombal [√]</title>
	<atom:link href="http://blogombal.org/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://blogombal.org</link>
	<description>catatan ringan angin-anginan</description>
	<lastBuildDate>Mon, 14 May 2012 10:35:28 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.2</generator>
		<item>
		<title>Sulit Sekali Memahami FPI</title>
		<link>http://blogombal.org/2012/05/10/sulit-sekali-memahami-fpi/</link>
		<comments>http://blogombal.org/2012/05/10/sulit-sekali-memahami-fpi/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 10 May 2012 07:45:47 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Antyo</dc:creator>
				<category><![CDATA[Umum]]></category>
		<category><![CDATA[anarkisme]]></category>
		<category><![CDATA[fpi]]></category>
		<category><![CDATA[front pembela islam]]></category>
		<category><![CDATA[premanisme]]></category>
		<category><![CDATA[radikalisme]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blogombal.org/?p=5699</guid>
		<description><![CDATA[MEREKA MAU MENANGNYA SENDIRI, DAN APARAT TETAP SETENGAH HATI. <p>Dan kita sudah mendengar, dua kali di Yogyakarta kemarin FPI, bisa juga MMI atau apalah, unjuk gigi menentang diskusi buku Allah, Liberty and Love karya Irshad Manji. Yang pertama di UGM; pembatalan dilakukan oleh rektor. Yang kedua di LKiS; FPI (atau apalah namanya) menyerbu dan merusak. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h3>MEREKA MAU MENANGNYA SENDIRI, DAN APARAT TETAP SETENGAH HATI.</h3>
<p>Dan kita sudah mendengar, dua kali di Yogyakarta kemarin FPI, bisa juga MMI atau apalah, unjuk gigi menentang diskusi buku <em>Allah, Liberty and Love</em> karya Irshad Manji. Yang pertama di UGM; pembatalan dilakukan oleh rektor. Yang kedua di LKiS; FPI (atau apalah namanya) menyerbu dan merusak. Sebelumnya di Salihara, Jakarta, FPI atau yang mirip juga menyatroni diskusi sehingga panitia terpaksa membubarkan diri.</p>
<p>Saya tak membahas buku itu karena belum membacanya, dan saya berpengandaian semua dan setiap penentang sudah membacanya sampai khatam, apalagi pemuka gerakan penentangan.</p>
<p>Misalkan saya nanti sudah membaca buku itu dan tak sepakat, tentu saya tak akan menggunakan kekerasan sebagai pernyataan sikap. Kalaupun saya menentang buku itu, maka pikiran harus dilawan dengan pikiran. Memberangus kemerdekaan berpendapat dengan kekerasan bukanlah hal beradab.</p>
<p>Sempat saya membayangkan kenapa FPI tak menggelar diskusi sendiri dengan mengundang si penulis &#8212; misalkan penulisnya bersedia?</p>
<p>Yang saya maksudkan adalah <em>diskusi</em>, bukan forum pengadilan yang menempatkan terundang sebagai terdakwa dengan kesempatan bicara terbatas, atau ketika bicara tak didengar malah ditimpa dengan seruan.</p>
<p>Sulit sekali bagi saya memahami FPI. Mereka senang memaksakan kehendak dengan berpijak di atas keyakinan bahwa apapun yang tak selaras dengan pikiran dan kepentingan mereka berarti anti-Islam. Dengan mengatasnamakan Islam lantas kekerasan, atau minimal ancaman penggunaan kekerasan, seolah sah.</p>
<p>Kesan saya selama ini terhadap FPI adalah mereka mau menangnya sendiri. Saya tak tahu, apakah semua acara dan kegiatan FPI, termasuk untuk menyerbu acara orang lain, juga sudah memberitahu kepolisian.</p>
<p>Misalkan FPI bikin acara, terlepas dari sudah memberitahu kepolisian atau belum, dan <em>apapun isi acaranya</em>, apakah FPI juga mau jika didatangi sekelompok orang yang tak sepakat, yang begitu tiba langsung berteriak-teriak dan minta acara dibubarkan?</p>
<p>Tentu jawaban terhadap pengandaian itu bukanlah, “Emang ente berani?” Itu namanya jawaban mau menangnya sendiri. Menempatkan diri sendiri sebagai hukum.</p>
<p>Jawaban macam itu tak beda dari jawaban preman &#8212; “Elu siape, gue siape, boleh aja kalo mau nyari penyakit” &#8212; ketika ditanya, “Kenapa kalo saya liwat rumah Abang kudu permisi, kalo kagak permisi bakal dijitak; tapi kalo Abang liwat rumah saya kagak pake permisi?”</p>
<p>Jawaban yang saya harapkan adalah, “Silakan saja datang dan mengganggu, bahkan mengacau, karena itu sesuai selera dan kebiasaan kami. Kami malah senang dan terharu bersua kaum yang segendang dan sepenarian, sehingga kami juga akan membubarkan diri tanpa melawan. Bahkan misalnya kami dikerasi pun kami tetap mengalah, <em>apapun acara kami</em>. Kami ikhlas dan tawakal.”</p>
<p>Masalah utama masyarakat luas yang terganggu oleh FPI adalah karena negara, dalam hal ini penegak hukum, membiarkan dirinya tersandera oleh FPI dan yang sehaluan.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blogombal.org/2012/05/10/sulit-sekali-memahami-fpi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>45</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Warga Boleh Menghukum Mati Pencuri?</title>
		<link>http://blogombal.org/2012/05/06/warga-boleh-menghukum-mati-pencuri/</link>
		<comments>http://blogombal.org/2012/05/06/warga-boleh-menghukum-mati-pencuri/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 05 May 2012 18:16:37 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Antyo</dc:creator>
				<category><![CDATA[Umum]]></category>
		<category><![CDATA[bidaracina]]></category>
		<category><![CDATA[hukuman mati]]></category>
		<category><![CDATA[jatinegara]]></category>
		<category><![CDATA[pencuri]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blogombal.org/?p=5686</guid>
		<description><![CDATA[<p>MAKLUMAT TELAH DIPASANG. PENEGAK HUKUM SILAKAN TIDUR NYENYAK.</p> <p> </p> <p>Kaget saya mendapati spanduk di beberapa mulut gang di Bidaracina, Jatinegara, Jakarta Timur. Selain mengingatkan warga agar memasang pengaman tambahan pada sepeda motor dan mobilnya, spanduk itu juga mengancamkan hukuman mati bagi pencuri yang tertangkap.</p> <p>Tiba-tiba saya teringat masa gelap pada awal reformasi. Hukum tak [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>MAKLUMAT TELAH DIPASANG. PENEGAK HUKUM SILAKAN TIDUR NYENYAK.</p>
<p><img title="bidaracina-mati-maling.jpg" class="alignnone" alt="image" src="http://blogombal.org/wp-content/uploads/2012/05/wpid-bidaracina-mati-maling.jpg" /> </p>
<p>Kaget saya mendapati spanduk di beberapa mulut gang di Bidaracina, Jatinegara, Jakarta Timur. Selain mengingatkan warga agar memasang pengaman tambahan pada sepeda motor dan mobilnya, spanduk itu juga mengancamkan hukuman mati bagi pencuri yang tertangkap.</p>
<p>Tiba-tiba saya teringat masa gelap pada awal reformasi. Hukum tak diindahkan, aparat negara tak punya wibawa. Di beberapa tempat maling ditangkap dan dibunuh setelah disiksa. Copet pun begitu, sehingga ada copet yang mengaku kepada sebuah koran lebih baik memfitnah orang lain daripada mati konyol. Dan di Pondokgede, dua orang pencuri motor dibakar hidup-hidup di tengah lapangan. Di antara kerumunan penyaksi adalah ayah salah satu korban. Dia tak berani berbuat apa-apa. Kompas mewawancarai ayah yang terkena nestapa itu.</p>
<p>Maka saya pun teringat peristiwa mengerikan pada awal reformasi itu. Suatu petang, anak sulung saya, yang saat itu masih enam tahun, panik saat menonton televisi, &#8220;Bapak, Bapak, itu apa? Ngeri banget!&#8221; Saya menengok ke layar TV yang sedang menayangkan berita pada waktu prima yang dapat ditonton segala usia.</p>
<p>Siaran berita sebuah stasiun, saya lupa TV apa, itu menayangkan video tersangka maling penuh luka diseret dan digebuki warga entah di mana. Yang segera saya lakukan adalah menyambar remote controller dan mengganti saluran. Saya terguncang mendapati jurnalisme macam itu.</p>
<p>Masa gelap, saat sekelompok orang boleh menjadi hakim sekaligus eksekutor di mana-mana, itu sempat membuat istri saya was-was. Pergi dekat malam hari naik motor pun saya dilarang. Dia khawatir skuter saya yang sering rewel karburatornya itu macet, lalu ketika saya dorong menepi ada orang meneriaki saya sebagai maling.</p>
<p>Tentang spanduk itu. Saya paham, kehilangan barang berharga yang dibeli dengan berkorban banyak itu menyakitkan. Tetapi haruskah pelakunya, tepatnya orang yang secara hukum pun masih disebut tersangka, dibunuh?</p>
<p>Saya juga paham, makin banyak maling nekat yang berubah menjadi perampok ketika kepergok. Maling macam itu akan mengancam duluan bahkan bertindak duluan. Mungkin si maling berprinsip, daripada dibunuh lebih baik membunuh. Kasus terakhir Bandung, ketika tersangka maling menembak mati pemilik laptop yang mengejarnya, adalah contoh mengerikan.</p>
<p>Secara kasuistis saya paham jika maling yang menyerang pemergok juga layak dilawan dan dilumpuhkan &#8212; dengan catatan kalau si pemergok berani. Maling macam itu sungguh keterlaluan, sudah tahu bersalah malah menyerang. Mestinya mohon ampun &#8212; tapi mana ada maling mohon ampun dalam posisi menang? Secara kasuistis, dan asumtif, bisa saja yang dilakukan si terserang (dalam hal ini si pemergok) hanyalah membela diri dengan hasil eksesif nyawa maling melayang. Membunuh bukan tujuan. Bukan niat. Hanya keterpaksaan yang tak terhindarkan. Sialnya, maling tepergok yang terpojok pun berpikir dan merasa berhak bertindak sama.</p>
<p>Kembali ke spanduk tadi. Di manakah masalahnya? Banyak. Dari sisi maling, setiap peluang harus dimanfaatkan. Faktor sosial ekonomi bisa menjadi pembenar. Orang terhormat berpendidikan tinggi dan saleh saja boleh mencuri melalui korupsi, masa sih orang lain tidak boleh? Khusus untuk pemetik (pencuri) mobil, sejak awal para pelakunya tahu bahwa lingkaran di kalangan asbak (penadah) biasanya berkait dengan penegak hukum. Mereka juga tahu, sekali mobil hilang (apalagi mobil yang resale value-nya tinggi) maka urusan pencarian tidak gampang.</p>
<p>Dari sisi warga? Mereka tahu, perlindungan dan penegakan hukum itu lembek. Dengan atau tanpa kultur kekerasan, bertindak sendiri adalah sebuah shorcut yang praktis karena bisa berlindung di balik pembenar amuk massa: seolah spontan, tanpa komando, dan yang lebih penting tak perlu ada individu yang harus bertanggung jawab.</p>
<p>Peran hamba hukum di mana? Ada dalam aneka buku. Bukan dalam kehidupan nyata.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blogombal.org/2012/05/06/warga-boleh-menghukum-mati-pencuri/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>60</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Topik Paling Menjemukan: Korupsi</title>
		<link>http://blogombal.org/2012/04/27/topik-paling-menjemukan-korupsi/</link>
		<comments>http://blogombal.org/2012/04/27/topik-paling-menjemukan-korupsi/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 27 Apr 2012 12:59:29 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Antyo</dc:creator>
				<category><![CDATA[Komedi Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[aib]]></category>
		<category><![CDATA[korupsi]]></category>
		<category><![CDATA[koruptor]]></category>
		<category><![CDATA[KPK]]></category>
		<category><![CDATA[martabat]]></category>
		<category><![CDATA[rasa malu]]></category>
		<category><![CDATA[tipikor]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blogombal.org/?p=5644</guid>
		<description><![CDATA[KORUPTORNYA SIH OPTIMISTIS AKAN BERJAYA. <p></p> <p>Seorang cewek kelas tiga SMP bertanya kenapa korupsi tak bisa diberantas, hanya jadi berita, dan lama-lama membosankan. Saya tak tahu apakah gurunya juga mendapatkan pertanyaan serupa.</p> <p>Presiden, dan mereka yang merasa dirinya kandidat presiden, mungkin juga kerepotan untuk menjawabnya secara ringkas dan jelas. Apalagi saya, kan?</p> <p>Jawaban paling aman, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h3>KORUPTORNYA SIH OPTIMISTIS AKAN BERJAYA.</h3>
<p><img class="alignnone" title="bekicot" src="http://getfile5.posterous.com/getfile/files.posterous.com/temp-2012-04-23/wwmIayAszCyoepvIslpDoCnpeevjEhfIsxcAdhzzvDDhGoEerGdgfAwrutDa/bekicot-jaya.jpg.scaled1000.jpg" alt="" width="450" /></p>
<p>Seorang cewek kelas tiga SMP bertanya kenapa korupsi tak bisa diberantas, hanya jadi berita, dan lama-lama membosankan. Saya tak tahu apakah gurunya juga mendapatkan pertanyaan serupa.</p>
<p>Presiden, dan mereka yang merasa dirinya kandidat presiden, mungkin juga kerepotan untuk menjawabnya secara ringkas dan jelas. Apalagi saya, kan?</p>
<p>Jawaban paling aman, sekaligus sok bijaksini, adalah, &#8220;Kita harus sabar dan tabah.&#8221;</p>
<p>Cukup itu saja jawabannya. Jangan bawa-bawa Tuhan karena koruptor juga bawa-bawa Tuhan, sejak sumpah jabatan hingga saat diadili mendapatkan dukungan berupa barisan pelantun doa. Bahkan saat divonis bebas pun  &#8211; tentu dengan pembuka &#8220;demi keadilan berdasarkan Ketuhanan yang Maha Esa&#8221; &#8212; seorang koruptor segera bersujud di lantai ruang sidang pengadilan tipikor.</p>
<p>Beberapa koruptor malah tampak religius. Saleh, begitulah. Rajin beribadah. Bahkan bermurah hati menyumbang rumah ibadah dan kegiatan keagamaan. Dan ketika ada yang mempersoalkan, mereka mendapatkan pembelaan dari orang baik, &#8220;Janganlah hendaknya kalian menjadi hakim atas perkara yang tidak kalian ketahui.&#8221;</p>
<p>Jika kita bilang korupsi sudah membudaya, rasanya juga basi. Kata beberapa pidato, kita adalah bangsa yang berbudaya (dan berakhlak) tinggi. Kalau korupsi sudah menjadi budaya, haruskah kita memerangi budaya sendiri?</p>
<p>Suatu hari seorang ibu bertanya kenapa koruptor dan keluarganya tak malu saat perilakunya terungkap. &#8220;Kayaknya santai aja, nggak ngerasa bersalah, malah bangga,&#8221; gerutu si ibu.</p>
<p>Si ibu mungkin lupa bahwa punya duit banyak itu bisa santai dan cengengesan, apalagi ancaman dari hukum dan negara untuk memiskinkan hanyalah wacana semata. Kalau bangga, entahlah. Setelah divonis bebas, sampai tingkat Mahkamah Agung, mungkin baru bangga. Koruptor dan keluarganya kompak. Mungkin kompak adalah bagian dari iman.</p>
<p>Tentang rasa bersalah, mungkin ada &#8212; tapi ringan dan segera luntur. Semacam pengendara yang terbiasa menerabas lampu merah dan menggilas garis pembatas jalan, begitulah. Memang salah, tapi santai sajalah, karena orang lain juga melakukan dan dibiarkan. Kalaupun suatu saat tertangkap polantas dan kena tilang, itu pasal nasib. Soal nahas saja.</p>
<p>Jadi, apanya yang masih menarik dari kasus demi kasus korupsi? Angka rupiahnya? Penampilan orangnya? Gosipnya? Jaksanya yang kurang galak dan hakimnya yang lembek?</p>
<p>Yang patut kita pelajari dari para koruptor adalah optimismenya. Mereka hakkul yakin bahwa masyarakat akan bosan dan menyerah.</p>
<p>Mungkin kita memerlukan para motivator kelas kampiun nasional berkemampuan sihir untuk merawat kesadaran kita: &#8220;Kalian bisa!  Pas-ti bi-sa! Jangan menyerah! Ja-ngan! Semangat, dong! Se-ma-ngat!&#8221;</p>
<p>Dung-dung prèt!</p>
<p><img class="alignnone" title="Dijual: baju tahanan KPK" src="http://memo.blogombal.org/wp-content/uploads/2011/10/memo-seragam-tahahan-KPK.jpg" alt="" width="450" /></p>
<p>© Foto bekicot: <a href="http://antyo.posterous.com/masmbak-beki" target="_blank">Postyorous Menerous</a> / Foto baju tahanan KPK: <a href="http://memo.blogombal.org/2011/10/23/jangan-malu-jadi-tersangka-koruptor/" target="_blank">Memo Blogombal</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blogombal.org/2012/04/27/topik-paling-menjemukan-korupsi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>41</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tentang Anjing dan Dawam</title>
		<link>http://blogombal.org/2012/04/11/tentang-anjing-dan-dawam/</link>
		<comments>http://blogombal.org/2012/04/11/tentang-anjing-dan-dawam/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 10 Apr 2012 17:34:52 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Antyo</dc:creator>
				<category><![CDATA[Lihat Baca Dengar]]></category>
		<category><![CDATA[Anjing yang Masuk Surga]]></category>
		<category><![CDATA[cerpen]]></category>
		<category><![CDATA[Dawam Rahardjo]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blogombal.org/?p=5586</guid>
		<description><![CDATA[MENCOBA MEMAHAMI DAWAM RAHARDJO. <p></p> <p>Beruntung saya bisa mendapatkan buku terbitan 2007 ini. Toko yang menjualnya hanya memiliki satu eksemplar, kondisinya pun tidak kinyis-kinyis. Inilah Anjing yang Masuk Surga, kumpulan 16 cerita pendek Dawam Rahardjo, salah satu cendekiawan muslim, yang 20 April ini genap 70 tahun.</p> <p>Tanpa pengantar panjang dari penulisnya pun kita sudah bisa [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h3>MENCOBA MEMAHAMI DAWAM RAHARDJO.</h3>
<p><img class="alignnone" title="dawam rahardjo: kumpulan cerpen anjing yang masuk surga" src="http://i54.photobucket.com/albums/g110/kotakgambar/blogombal/blogombal-anjing-yang-masuk-surga-buku.jpg" alt="" width="450" height="665" /></p>
<p>Beruntung saya bisa mendapatkan buku terbitan 2007 ini. Toko yang menjualnya hanya memiliki satu eksemplar, kondisinya pun tidak kinyis-kinyis. Inilah <em>Anjing yang Masuk Surga</em>, kumpulan 16 cerita pendek Dawam Rahardjo, salah satu cendekiawan muslim, yang 20 April ini genap 70 tahun.</p>
<p>Tanpa pengantar panjang dari penulisnya pun kita sudah bisa meraba bahwa kumpulan cerpen ini merupakan ruap dari pandangan Dawam terhadap aneka masalah.</p>
<p>Atau bisa juga disebut begini: kumpulan fiksi (yang sebagian terilhami oleh kisah nyata) ini adalah catatan Dawam tentang keyakinan dia terhadap kebebasan berpikir, dan&#8230; keberagaman sosial Indonesia &#8212; termasuk keberagaman dalam kehidupan beragama.</p>
<p>Salah satu cerpennya yang menjadi judul buku, yakni <em>Anjing yang Masuk Surga</em>, seperti koreksi terhadap pandangan sebagian muslim tentang anjing. Bertolak dari kisah nyata anjing milik Usamah, seorang wartawan keturunan Arab Pekalongan yang beristrikan perempuan Arab Solo, muncullah benturan nilai.</p>
<p>Termaktub dalam kisah, bahwa Buya Hamka pun ternyata memelihara anjing. &#8220;Di Mekkah, banyak penduduk yang memelihara anjing,&#8221; demikian Buya dikutip (hal. 39)</p>
<p><strong>Kebebasan dan Benturan Nilai</strong></p>
<p>Kata-kata saya &#8220;mencoba mamahami Dawam&#8221; hanyalah sok-sokan. Saya tak mengikuti semua tulisan Dawam yang terserak di pelbagai tempat. Sejauh yang saya tangkap, Dawam adalah penulis kritis. Di majalah <em>Prisma</em> pada era Orde Baru dia bisa dengan lugas dan jernih membedah politik Indonesia (dengan pelaku utama militer, Golkar, dan kekuatan politik Islam) tetapi tak kena sensor pers.</p>
<p>Dawam sosok yang menarik. Dia seorang pemikir dan penggiat ekonomi islami, yang berlatar belakang Muhammadiyah, dan pernah diusulkan untuk dipecat dari organisasi itu. Mungkin karena dia membela hak-hak penganut Ahmadiyah dan pengikut Salamullah Eden. Lebih &#8220;aneh&#8221; lagi, Dawam pernah menjadi Ketua Dewan Penasihat Partai Kemerdekaan Rakyat pimpinan Pendeta Sheppard Supit dari Gereja Rakyat Indonesia. Dalam pengantar, Dawam mengakui tulisannya selain cerpen akhirnya kerap ditolak oleh <em>Republika</em>, koran yang dia ikut mendirikan (hal. xiv).</p>
<p>Dengan latar itu kita bisa memahami canda Dawam tentang Pastor Dhakidae (tanpa Daniel) dalam <em>Si Gila dari Dusun nCuni</em>, yang tentu saja merujuk sahabatnya sesama pengurus LP3ES/<em>Prisma</em>.  Cerita tentang Patek, orang yang dikatakan gila itu, menyangkut dua lembaga yaitu masjid dan gereja. Di dua tempat itu dia memulung botol plastik, dan dia kadang ikut misa tanpa merasa telah meninggalkan keislamannya.</p>
<p>Benturan nilai, terutama yang diskusif, sebagai bagian dari kebebasan berpikir,  memang menjadi hal yang melekat dalam diri Dawam. Maka ditulisnyalah <em>Atheis</em> yang berlatar tiga bersaudara dari keluarga santri, padahal idenya dari kehidupan kakak beradik sahabat Dawam &#8212; si kakak adalah sosiolog yang ateis, dan si adik adalah pastor. Perjuangan untuk menegakkan nilai-nilai kemanusiaanlah &#8212; dan bukan iman &#8212; yang mempersatukan mereka.</p>
<p><strong>Rasa Jadul</strong></p>
<p>Cara bertutur Dawam cenderung datar dan mengalir. Seperti orang bercerita dalam <em>email</em>. Jarang ada kejutan besar, lebih sering kejutan kecil. Tetapi konflik dalam sebagian cerita bisa dia laporkan secara enak.</p>
<p>Saya tak tahu sejak kapan Dawam menulis fiksi, tapi jika melihat <em>Aime-vouz Bramhs</em> dan <em>Impian sebuah Senja</em> serasa membaca cerpen tahun 70-an. Pada <em>Impian&#8230;</em> baik latar kisah maupun percakapan dan cara bertuturnya memberi kesan suasana Jawa Tengah awal 70-an bahkan mungkin akhir 60-an. Masih ada panggilan &#8220;Yu&#8221; (bukan &#8220;Mbak&#8221;) dari seorang gadis kepada kakak perempuannya padahal mereka dari kelas menengah. Apakah kedua cerpen itu merupakan stok lama?</p>
<p>Ada satu hal yang menarik. Salah satu unsur deskriptif Dawam dalam melukiskan pencapaian seseorang adalah kesarjanaan. :)</p>
<blockquote><p>JUDUL: Anjing yang Masuk Surga • PENULIS: Dawam Rahardjo • DESAIN &amp; ILUSTRASI SAMPUL: Antorio Bargasdito • PENERBIT: Jalasutra, Yogyakarta: September, 2007 • TEBAL: xx + 192 halaman • HARGA: Rp 30.000 • ISBN 979-3684-82-8</p></blockquote>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blogombal.org/2012/04/11/tentang-anjing-dan-dawam/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>39</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kisah Dua Keluarga Kretek</title>
		<link>http://blogombal.org/2012/04/07/kisah-dua-keluarga-kretek/</link>
		<comments>http://blogombal.org/2012/04/07/kisah-dua-keluarga-kretek/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 07 Apr 2012 08:44:05 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Antyo</dc:creator>
				<category><![CDATA[Lihat Baca Dengar]]></category>
		<category><![CDATA[Gadis Kretek]]></category>
		<category><![CDATA[Muntilan]]></category>
		<category><![CDATA[novel]]></category>
		<category><![CDATA[PKI]]></category>
		<category><![CDATA[Ratih Kumala]]></category>
		<category><![CDATA[rokok]]></category>
		<category><![CDATA[tembakau]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blogombal.org/?p=5521</guid>
		<description><![CDATA[ASMARA, KECEMBURUAN, PERSETERUAN BISNIS, DAN PENEBUSAN DOSA. <p></p> <p>Di tengah perseteruan kaum protembakau dan antitembakau, yang juga sampai ke media sosial, muncullah Gadis Kretek. Itulah novel karya <a href="http://ratihkumala.com/" target="_blank">Ratih Kumala</a> yang diluncurkan awal tahun ini.</p> <p>Membaca novel ini pembaca akan disinggungkan dengan romantisisme industri kretek: sesuatu yang mengindonesia karena unsur cengkeh dan saus, beserta [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h3>ASMARA, KECEMBURUAN, PERSETERUAN BISNIS, DAN PENEBUSAN DOSA.</h3>
<p><img class="alignnone" title="ratih kumala - gadis kretek" src="http://i54.photobucket.com/albums/g110/kotakgambar/blogombal/blogombal-ratih-kumala-gadis-kretek-novel.jpg" alt="" width="450" height="720" /></p>
<p>Di tengah perseteruan kaum protembakau dan antitembakau, yang juga sampai ke media sosial, muncullah <em>Gadis Kretek</em>. Itulah novel karya <a href="http://ratihkumala.com/" target="_blank">Ratih Kumala</a> yang diluncurkan awal tahun ini.</p>
<p>Membaca novel ini pembaca akan disinggungkan dengan romantisisme industri kretek: sesuatu yang mengindonesia karena unsur cengkeh dan saus, beserta merek-merek yang eksotis bahkan ajaib. Di luar urusan komunikasi pemasaran, peramuan tembakau-cengkeh-saus menjadi sigaret adalah sebuah seni rahasia. Tak semua orang bisa, yang bisa pun belum tentu sukses.</p>
<p>Dan kita tahu, sejak zaman  pengumuman 100 pembayar pajak terbesar sampai daftar orang Indonesia terkaya versi <em>Forbes</em>, ada saja juragan kretek yang tercantum.  Ya, kretek adalah bagian dari keajaiban ekonomi &#8212; beberapa senior kolektor lukisan di kawasan Kedu adalah juragan tembakau. Bisa ditebak kalau di balik gunungan rezeki ada banyak cerita, termasuk persaingan bahkan perseteruan &#8212; dan ehm&#8230; pengkhianatan dalam persekutuan.</p>
<p>Ratih menjumput cerita itu, lengkap dengan adegan Gunung Kawi (dari sana sebagian merek bisnis lama berasal) dan PKI (ini memang era yang tak ada habisnya untuk disinggung oleh banyak penulis &#8212; mungkin karena tidak jelas sekaligus banyak dimensi kemanusiaan).</p>
<p>Soal asmara tentu ada, dan itu pula pangkal awal masalah dari dua calon juragan kretek pada zaman kolonial sampai Jepang masuk. Yaitu Idroes Moeria yang kelak melahirkan klobot cap Djojobojo (akhirnya Kretek Gadis), dan Soedjagad yang menelurkan sigaret Djagad (kemudian menjadi Djagad Raja; dikembangkan Soeraja, menantunya), karena mereka memperebutkan hati seorang putri mantri tulis di Kota M.</p>
<p>Kota M? Mudah ditebak ini Muntilan, antara Magelang dan Yogyakarta. Kota kawedanan itu menjadi pusat pusaran konflik dua juragan yang akhirnya tetap berlanjut ketika Djagad hijrah ke kota kretek Kudus.</p>
<p>Pilihan <em>setting</em> Muntilan ini menarik karena di sana memang pernah ada industri rokok, dan salah satu yang bertahan sampai sekarang adalah klembak menyan <a href="http://label.blogombal.org/2004/10/13/dont-forget-isep-klembak-menyan-jangan-kaget-kalo-dianggep-kuburan/" target="_blank">Djolali </a>warisan Pak Bustami. Masih di wilayah Dulangmas, ada rokok Djeruk di Magelang dan <a href="http://label.blogombal.org/2005/01/29/penari-penyanyi-penari-penyanyi/" target="_blank">Sintren </a>di Gombong. Di Yogyakarta, sampai akhir 70-an, masih ada beberapa sigaret kretek tangan produksi rumahan.</p>
<p>Maka dari cinta, kegigihan berbinis, sampai kecemburuan dan kecurangan, semuanya dikemas oleh Ratih menjadi cerita yang mengasyikkan. Dia tak bertutur secara linier melainkan maju-mundur dengan kilas balik, dan yang menjadi magnet persoalan adalah seorang perempuan bernama Jeng Yah.</p>
<p>Juga menarik, versi masing-masing pihak yang bertikai dikedepankan. Masing-masing pihak itu termasuk keturunan Idroes dan Soedjagad. Ujung cerita mengarah kepada ranah etika dan moral: apakah kecurangan <em>patriarch </em>(yang berbuah sukses) juga menjadi tanggung jawab ahli waris?</p>
<p>Selebihnya silakan baca sendiri. Yang pasti ilustrasi sampul dan isi buku ini menarik, terasa sentuhan <em>vintage</em>. Acung jempol untuk Iksaka Banoe.</p>
<p>Memang ada saja ketidaktepatan kecil misalnya tipografi kemasan rokok. <em>Font</em> pada rokok Proklamasi, misalnya, setahu saya belum ada pada masa awal kemerdekaan. Begitu pula teks &#8220;isi 10 batang&#8221; dan &#8220;PR. Idroes Moeria&#8221; pada Kretek Gadis; <em>font</em> sejenis Tekton itu dulu belum ada.</p>
<p>Sekadar catatan, sebagian tipografi kemasan lama adalah hasil kerajinan tangan, dengan menggambar, karena aksara pada mesin <em>letterpress</em> tidak bisa diajak berakrobat; lebih mungkin itu dilakukan dengan klise timah. Perancang bungkus rokok dan kertas sigaret semacam Opa Goei Hwat Sing (maaf kalau salah eja) di Kudus bisa bercerita.</p>
<p>Ada juga hal kecil dalam tulisan yang membuat saya heran. Apakah pada zaman Jepang sudah ada <em>ballpoint</em> (hal. 64)? Vulpen/pulpen (fountain pen) dan pena celup untuk tinta bak lebih masuk akal. Begitu pula dengan pensil untuk menuliskan merek; potlot tinta lebih kuat.</p>
<p>Adapun sebagai istilah, yaitu &#8220;plastik&#8221; pembalut bungkus rokok (hal. 113), saya menduga pada awal kemerdekan orang lebih akrab dengan &#8220;kertas kaca&#8221;. Untuk api penyulut rokok, rasanya akan lebih meresap kalau dijelaskan kapan saja  korek batang dan  geretan (bersumbu?) dipakai  &#8211; saya yakin upet (yang mengilhami merek Ooepet) masih berjaya di kalangan nonjuragan.</p>
<p>Meskipun begitu, kekurangan kecil itu tak mengganggu cerita. :)</p>
<blockquote><p>JUDUL: Gadis Kretek • PENULIS: Ratih Kumala • DESAIN &amp; ILUSTRASI: Iksaka Banu • PENERBIT: Gramedia Pustaka Utama, Jakarta: Maret, 2012 • TEBAL: 275 halaman • HARGA: Rp 58.000 • ISBN 978-979-22-8141-5</p></blockquote>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blogombal.org/2012/04/07/kisah-dua-keluarga-kretek/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>26</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tentang Mayat Nenek Menteng</title>
		<link>http://blogombal.org/2012/03/29/tentang-mayat-nenek-menteng/</link>
		<comments>http://blogombal.org/2012/03/29/tentang-mayat-nenek-menteng/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 29 Mar 2012 08:31:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Antyo</dc:creator>
				<category><![CDATA[Umum]]></category>
		<category><![CDATA[Elizabeth Ko]]></category>
		<category><![CDATA[jompo]]></category>
		<category><![CDATA[manula]]></category>
		<category><![CDATA[Theresia Ko]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blogombal.org/?p=5504</guid>
		<description><![CDATA[MANULA YANG TAK TERTEMANI, KETIKA MENJADI JENAZAH DI RUMAH SENDIRI PUN TAK ADA YANG SEGERA MENANGANI… <p><a href="http://blogombal.org/wp-content/uploads/2012/03/rumah-elizabeth-dan-theresia.jpg"></a></p> <p>Berita mayat 17 hari yang membusuk itu masih mengganggu saya, padahal saya tak mengikuti secara cermat terus-menerus. Ada banyak versi, termasuk usia dan pekerjaan mereka dulu. Faktanya, sejauh saya tangkap, Elizabeth Ko (76? dokter?) selama dua pekan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h3>MANULA YANG TAK TERTEMANI, KETIKA MENJADI JENAZAH DI RUMAH SENDIRI PUN TAK ADA YANG SEGERA MENANGANI…</h3>
<p><a href="http://blogombal.org/wp-content/uploads/2012/03/rumah-elizabeth-dan-theresia.jpg"><img class=" wp-image-5509 alignnone" title="rumah Elizabeth Ko dan Theresia Ko di Jalan Surabaya Jakarta" src="http://blogombal.org/wp-content/uploads/2012/03/rumah-elizabeth-dan-theresia.jpg" alt="" width="450" /></a></p>
<p>Berita mayat 17 hari yang membusuk itu masih mengganggu saya, padahal saya tak mengikuti secara cermat terus-menerus. Ada banyak versi, termasuk usia dan pekerjaan mereka dulu. Faktanya, sejauh saya tangkap, Elizabeth Ko (76? dokter?) selama dua pekan lebih hidup bersama mayat Theresia Ko (74? eks-sekretaris perusahaan farmasi?), adiknya. Dua manula hidup sendiri dalam sebuah rumah tua (atau paviliun?) di Jalan Surabaya, Menteng, Jakarta Pusat.</p>
<p>Terkabarkan, Elizabeth terpaksa mendiamkan mayat adiknya karena dia tidak bisa apa-apa, termasuk menelepon orang luar. Dia sakit-sakitan.</p>
<p>Lalu banyak komentar tentang krisis kepedulian pertetanggaan di kota metropolitan. Tetapi faktanya, mayat itu terungkap karena tetangga yang mencium bau busuk bangkai.</p>
<p>Cerita pelengkap mengenai posisi rumah yang tersembunyi di balik keramaian jejeran kios barang antik Jalan Surabaya juga menjadi bahan pemaklum. Orang sekitar tahu ada dua nenek di dalam, begitu pula kebiasaan belanja salah satu mereka, tetapi nyatanya bau mayat tak segera menyebar.</p>
<p>Manula yang tak tertemani memang bisa sangat terasingkan. Penyebab utama karena kondisi fisik mereka semakin membatasi gerak bahkan untuk menggunakan telepon pun terkendala.</p>
<p>Siapa yang mestinya mengurusi mereka misalnya tak ada keluarga? Dalam kasus kedua nenek, mereka tak memiliki keluarga dalam arti anak kandung karena mereka tak menikah. Jadi, siapa yang sebaiknya mengurusi? Rumah jompo?</p>
<p>Rumah jompo, panti wredha, atau apapun namanya, menurut kesan saya bukan sesuatu yang dapat diterima luas oleh setiap orang. Baik itu si manula maupun keluarganya.</p>
<p>Atau badan layanan sosial milik gereja, kelompok pengajian, dan sebangsanya? Pengurus lingkungan di kawasan rumah Elizabeth dan Theresia berencana menyerahkan persoalan ke gereja Katolik.</p>
<p>Tetapi di luar itu tak adakah mekanisme layanan yang disediakan negara sehingga manula yang tak tertemani lebih mudah terpantau dengan dukungan teknologi? Misalkan peristiwanya sudah terjadi &#8212; yaitu kematian tanpa saksi &#8212; maka responnya tetap cepat.</p>
<p>Soal yang ini memang rumit karena kita terlalu banyak masalah, sehingga di luar urusan tunjangan kesejahteraan masih ada soal keamanan lingkungan.</p>
<p>Masalahnya adalah masing-masing dari kita memiliki manula. Bisa orangtua, bisa kakek dan nenek, bahkan segaris generasi di atasnya, sementara keseharian kita juga penuh urusan, terutama mencari nafkah.</p>
<p>Saya tak tahu solusinya. Tapi saya yakin sebagian dari kita mengalami hal tak menyenangkan ketika orangtua atau kakek dan nenek kita terjatuh dan harus bangun sendiri, dengan tertatih dan lama, karena tak ada yang menolong.</p>
<p>Tentang kematian manula, saya ingat sebuah peristiwa, tapi kasusnya tak semenyedihkan Oma di Menteng. Pada sebuah rumah di sebuah kota kecil di Jawa Tengah hiduplah empat orang, satu kakek dan tiga nenek.</p>
<p>Sang kakek sakit-sakitan, menjalani hidup pasca-stroke dan aneka komplikasi. Nenek pertama adalah istrinya, yang relatif sehat dan kuat. Nenek kedua, pensiunan perawat, tak menikah, adalah mbakyu dari nenek pertama tadi. Sedangkan nenek ketiga, atau nenek buyut, adalah ibu dari kedua nenek tadi.</p>
<p>Suatu hari, sekitar 17 tahun silam, nenek sepuh meninggal dalam usia hampir 100 karena uzur. Tanpa penyakit serius karena memang tak memiliki penyakit dalam. Maka yang segera dilakukan kedua putrinya adalah segera mengurusi jenazah, termasuk memandikannya. Setelah itu baru menelepon ketua RT. Sebelumnya tentu mengabari anak dan menantunya yang sekota, selain mengabari sanak saudara dan gereja.</p>
<p>Tentu Pak RT kaget dan bingung, kenapa baru lapor setelah beres. Jawaban nenek yang adalah putri bungsu dari almarhumah, kurang lebih, &#8220;Mohon maaf. Ini kesempatan terakhir saya untuk berbakti kepada Ibu. Jadi biarlah kami sendiri yang memandikannya. Selama ini saya memandikan jenazah orang lain.&#8221;</p>
<p>Si ibu itu memang punya tugas sosial mengurusi jenazah. Anak-anaknya sampai hapal kalau ada tamu memencet bel rumah dengan tergopoh dan berkomunikasi dalam suasana tak nyaman berarti meminta bantuan karena ada seseorang barusan meninggal.</p>
<p>Perempuan itu ibu saya, usianya sekarang 79, berulang tahun 15 Maret lalu. Sekarang tinggal di Yogyakarta, kota kelahirannya, dan punya akun di Facebook. :)</p>
<p>Tetapi tak semua manula beruntung tertemani oleh keluarga atau perawat, bukan? Termasuk kedua oma di Menteng itu.</p>
<p>© Foto: Eko Prasetya/<a href="http://merdeka.com" target="_blank">Merdeka.com</a>, tanpa izin</p>
<p><em><strong>UPDATE  31/03/2012:</strong> Pada hari saya tulis posting ini, ternyata di rumah sejauh tiga RT dari tempat tinggal saya ada seorang kakek ditemukan sudah empat hari meninggal. Dia hidup sendirian. ;(</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blogombal.org/2012/03/29/tentang-mayat-nenek-menteng/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>61</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Musiknya Guruh</title>
		<link>http://blogombal.org/2012/03/25/musiknya-guruh/</link>
		<comments>http://blogombal.org/2012/03/25/musiknya-guruh/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 25 Mar 2012 16:01:19 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Antyo</dc:creator>
				<category><![CDATA[Lihat Baca Dengar]]></category>
		<category><![CDATA[Guruh Soekarnoputra]]></category>
		<category><![CDATA[musik]]></category>
		<category><![CDATA[pop]]></category>
		<category><![CDATA[progrock]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blogombal.org/?p=5459</guid>
		<description><![CDATA[MENCOBA MEMAHAMI GURUH, SALAH SATU PEMERKAYA MUSIK INDONESIA. <p></p> <p>Sebenarnya saya tak tahu karya Guruh Soekarnoputra* itu apa saja. Hanya tahu beberapa. Dari CD terakhir, yang saya dapatkan tahun lalu, tak banyak yang saya tangkap &#8212; padahal di sana ada 30 lagu (dalam dua CD), merupakan cuplikan untuk musical. Judulnya Beta Cinta Indonesia: Petikan Pergelaran [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h3>MENCOBA MEMAHAMI GURUH, SALAH SATU PEMERKAYA MUSIK INDONESIA.</h3>
<p><img class="alignnone" title="CD musik Guru: kompilasi" src="http://i54.photobucket.com/albums/g110/kotakgambar/repro/blogombal-CD-Guruh.jpg" alt="CD musik Guru: kompilasi" width="450" height="279" /></p>
<p>Sebenarnya saya tak tahu karya Guruh Soekarnoputra* itu apa saja. Hanya tahu beberapa. Dari CD terakhir, yang saya dapatkan tahun lalu, tak banyak yang saya tangkap &#8212; padahal di sana ada 30 lagu (dalam dua CD), merupakan cuplikan untuk <em>musical</em>. Judulnya <em>Beta Cinta Indonesia: Petikan Pergelaran Karya Cipta Guruh Soekarno Putra 1971-2011,</em> untuk menyambut pergelaran Beta Cinta Indonesia.</p>
<p>Sebelumnya memang ada beberapa kompilasi. Misalnya <em>Chrisye: Karya Cipta Guruh Soekarno Putra</em> (Musica Studio&#8217;s, 2004). Bisa ditebak, 15 lagu di dalamnya adalah kompilasi dari album Chrisye yang dilansir oleh Musica. Biasa, ini masalah bisnis dan hukum. Beda label itu merepotkan.</p>
<p><strong>Melongok Smaradhana</strong></p>
<p>Apa saja sih lagu Guruh yang menarik? Saya ambil satu lagu dengan beberapa versi. Misalnya <em>Smaradhana</em> (1972).</p>
<p><object id="gsSong3513095111" width="250" height="40" classid="clsid:d27cdb6e-ae6d-11cf-96b8-444553540000" codebase="http://download.macromedia.com/pub/shockwave/cabs/flash/swflash.cab#version=6,0,40,0"><param name="wmode" value="window" /><param name="allowScriptAccess" value="always" /><param name="flashvars" value="hostname=cowbell.grooveshark.com&amp;songIDs=35130951&amp;style=metal&amp;p=0" /><param name="src" value="http://grooveshark.com/songWidget.swf" /><param name="allowscriptaccess" value="always" /><embed id="gsSong3513095111" width="250" height="40" type="application/x-shockwave-flash" src="http://grooveshark.com/songWidget.swf" wmode="window" allowScriptAccess="always" flashvars="hostname=cowbell.grooveshark.com&amp;songIDs=35130951&amp;style=metal&amp;p=0" allowscriptaccess="always" /><img src="http://blogombal.org/wp-includes/js/tinymce/themes/advanced/img/trans.gif" class="mceItemMedia mceItemFlash" width="250" height="40" data-mce-json="{'video':{},'params':{'wmode':'window','allowScriptAccess':'always','flashvars':'hostname=cowbell.grooveshark.com&amp;songIDs=35130951&amp;style=metal&amp;p=0','src':'http://grooveshark.com/songWidget.swf'},'object_html':'&lt;span&gt;Smaradhana by &lt;a href=\&quot;http://grooveshark.com/artist/Guruh+Gipsy/2362855\&quot; title=\&quot;Guruh Gipsy\&quot;&gt;Guruh Gipsy&lt;/a&gt; on Grooveshark&lt;/span&gt;'}" alt="" /></object> <object id="gsSong3513083219" width="250" height="40" classid="clsid:d27cdb6e-ae6d-11cf-96b8-444553540000" codebase="http://download.macromedia.com/pub/shockwave/cabs/flash/swflash.cab#version=6,0,40,0"><param name="wmode" value="window" /><param name="allowScriptAccess" value="always" /><param name="flashvars" value="hostname=cowbell.grooveshark.com&amp;songIDs=35130832&amp;style=metal&amp;p=0" /><param name="src" value="http://grooveshark.com/songWidget.swf" /><param name="allowscriptaccess" value="always" /><embed id="gsSong3513083219" width="250" height="40" type="application/x-shockwave-flash" src="http://grooveshark.com/songWidget.swf" wmode="window" allowScriptAccess="always" flashvars="hostname=cowbell.grooveshark.com&amp;songIDs=35130832&amp;style=metal&amp;p=0" allowscriptaccess="always" /><img src="http://blogombal.org/wp-includes/js/tinymce/themes/advanced/img/trans.gif" class="mceItemMedia mceItemFlash" width="250" height="40" data-mce-json="{'video':{},'params':{'wmode':'window','allowScriptAccess':'always','flashvars':'hostname=cowbell.grooveshark.com&amp;songIDs=35130832&amp;style=metal&amp;p=0','src':'http://grooveshark.com/songWidget.swf'},'object_html':'&lt;span&gt;Smaradhana by &lt;a href=\&quot;http://grooveshark.com/artist/Chrisye+and+Yockie+Suryo+Prayogo/2362849\&quot; title=\&quot;Chrisye &amp;amp; Yockie Suryo Prayogo\&quot;&gt;Chrisye &amp;amp; Yockie Suryo Prayogo&lt;/a&gt; on Grooveshark&lt;/span&gt;'}" alt="" /></object> <object id="gsSong3513109284" width="250" height="40" classid="clsid:d27cdb6e-ae6d-11cf-96b8-444553540000" codebase="http://download.macromedia.com/pub/shockwave/cabs/flash/swflash.cab#version=6,0,40,0"><param name="wmode" value="window" /><param name="allowScriptAccess" value="always" /><param name="flashvars" value="hostname=cowbell.grooveshark.com&amp;songIDs=35131092&amp;style=metal&amp;p=0" /><param name="src" value="http://grooveshark.com/songWidget.swf" /><param name="allowscriptaccess" value="always" /><embed id="gsSong3513109284" width="250" height="40" type="application/x-shockwave-flash" src="http://grooveshark.com/songWidget.swf" wmode="window" allowScriptAccess="always" flashvars="hostname=cowbell.grooveshark.com&amp;songIDs=35131092&amp;style=metal&amp;p=0" allowscriptaccess="always" /><img src="http://blogombal.org/wp-includes/js/tinymce/themes/advanced/img/trans.gif" class="mceItemMedia mceItemFlash" width="250" height="40" data-mce-json="{'video':{},'params':{'wmode':'window','allowScriptAccess':'always','flashvars':'hostname=cowbell.grooveshark.com&amp;songIDs=35131092&amp;style=metal&amp;p=0','src':'http://grooveshark.com/songWidget.swf'},'object_html':'&lt;span&gt;Smaradhana by &lt;a href=\&quot;http://grooveshark.com/artist/Chrisye/281002\&quot; title=\&quot;Chrisye\&quot;&gt;Chrisye&lt;/a&gt; on Grooveshark&lt;/span&gt;'}" alt="" /></object></p>
<p>Versi pertama dari Guruh Gipsy (1976) &#8212; tebak itu suara siapa? Kalau bas, itu Chrisye.</p>
<p>Versi kedua oleh Chrisye bersama Yockie Suryo Prayogo (<em>Sabda Alam</em>, 1978), dengan kemasan lebih riang, piano oleh Ronnie Harahap dan bas oleh Chrisye (saat itu <em>hustle</em> masih berjejak).</p>
<p>Versi ketiga, 18 tahun kemudian (<em>AkustiChrisye</em>, 1996) oleh Chrisye bersama Erwin Gutawa. Bas oleh Indro Hardjodikoro.</p>
<p>Tampaknya, sebagian karya Guruh memang lekat dengan Chrisye. Soal bas saya catat karena saya menyukai permaian bas Chrsye. Dalam album-album lama, Chrisye masih bermain bas.</p>
<p>Kembali ke Chrisye, bisa saja dari klip Baladawai Soundversation (UPI Bandung) ini orang lebih teringat Chrisye ketimbang Guruh. <em>Kala Sang Surya Tenggelam</em> (Chrisye, dalam <em>Sabda Alam</em>, 1978, dan <em>AkustiCrisye</em>, 1996) yang diperkaya hajaran gitar Agung (Burgerkill), Akew (Beside), dan Nico (Ballerina) menjadi gahar, tidak ngelangut — padahal lebih enak yang ngelangut. :)</p>
<p><object width="450" height="335" classid="clsid:d27cdb6e-ae6d-11cf-96b8-444553540000" codebase="http://download.macromedia.com/pub/shockwave/cabs/flash/swflash.cab#version=6,0,40,0"><param name="allowFullScreen" value="true" /><param name="allowscriptaccess" value="always" /><param name="src" value="http://www.youtube.com/v/g-m9ay-YxUM?version=3&amp;hl=en_US&amp;rel=0" /><param name="allowfullscreen" value="true" /><embed width="450" height="335" type="application/x-shockwave-flash" src="http://www.youtube.com/v/g-m9ay-YxUM?version=3&amp;hl=en_US&amp;rel=0" allowFullScreen="true" allowscriptaccess="always" allowfullscreen="true" /></object></p>
<p><strong>Menerka Guruh</strong></p>
<p>Ada karya lain Guruh yang kuat, yaitu <em>Chopin Larung</em>, yang versi 2011-nya diolah Andi Rianto. Bandingkan dengan versi 35 tahun sebelumnya dalam Guruh Gipsy (1976).</p>
<p><object id="gsSong3513129159" width="250" height="40" classid="clsid:d27cdb6e-ae6d-11cf-96b8-444553540000" codebase="http://download.macromedia.com/pub/shockwave/cabs/flash/swflash.cab#version=6,0,40,0"><param name="wmode" value="window" /><param name="allowScriptAccess" value="always" /><param name="flashvars" value="hostname=cowbell.grooveshark.com&amp;songIDs=35131291&amp;style=metal&amp;p=0" /><param name="src" value="http://grooveshark.com/songWidget.swf" /><param name="allowscriptaccess" value="always" /><embed id="gsSong3513129159" width="250" height="40" type="application/x-shockwave-flash" src="http://grooveshark.com/songWidget.swf" wmode="window" allowScriptAccess="always" flashvars="hostname=cowbell.grooveshark.com&amp;songIDs=35131291&amp;style=metal&amp;p=0" allowscriptaccess="always" /><img src="http://blogombal.org/wp-includes/js/tinymce/themes/advanced/img/trans.gif" class="mceItemMedia mceItemFlash" width="250" height="40" data-mce-json="{'video':{},'params':{'wmode':'window','allowScriptAccess':'always','flashvars':'hostname=cowbell.grooveshark.com&amp;songIDs=35131291&amp;style=metal&amp;p=0','src':'http://grooveshark.com/songWidget.swf'},'object_html':'&lt;span&gt;Chopin Larung by &lt;a href=\&quot;http://grooveshark.com/artist/Guruh+Gipsy/2362855\&quot; title=\&quot;Guruh Gipsy\&quot;&gt;Guruh Gipsy&lt;/a&gt; on Grooveshark&lt;/span&gt;'}" alt="" /></object></p>
<p><object id="gsSong351313519" width="250" height="40" classid="clsid:d27cdb6e-ae6d-11cf-96b8-444553540000" codebase="http://download.macromedia.com/pub/shockwave/cabs/flash/swflash.cab#version=6,0,40,0"><param name="wmode" value="window" /><param name="allowScriptAccess" value="always" /><param name="flashvars" value="hostname=cowbell.grooveshark.com&amp;songIDs=35131351&amp;style=metal&amp;p=0" /><param name="src" value="http://grooveshark.com/songWidget.swf" /><param name="allowscriptaccess" value="always" /><embed id="gsSong351313519" width="250" height="40" type="application/x-shockwave-flash" src="http://grooveshark.com/songWidget.swf" wmode="window" allowScriptAccess="always" flashvars="hostname=cowbell.grooveshark.com&amp;songIDs=35131351&amp;style=metal&amp;p=0" allowscriptaccess="always" /><img src="http://blogombal.org/wp-includes/js/tinymce/themes/advanced/img/trans.gif" class="mceItemMedia mceItemFlash" width="250" height="40" data-mce-json="{'video':{},'params':{'wmode':'window','allowScriptAccess':'always','flashvars':'hostname=cowbell.grooveshark.com&amp;songIDs=35131351&amp;style=metal&amp;p=0','src':'http://grooveshark.com/songWidget.swf'},'object_html':'&lt;span&gt;Chopin Larung by &lt;a href=\&quot;http://grooveshark.com/artist/Chrisye+Andi+Rianto/2362917\&quot; title=\&quot;Chrisye - Andi Rianto\&quot;&gt;Chrisye - Andi Rianto&lt;/a&gt; on Grooveshark&lt;/span&gt;'}" alt="" /></object></p>
<p>Lagu ini memperkuat sosok Guruh di mata khalayak: seorang nasionalis-patriotis gelisah yang senang mengangkat keindonesian <em>grandeur</em>, dengan idiom dari “puncak-puncak budaya kesukuan” yang seringkali berarti juga berbau keraton. Pelajari saja dokumentasi visual pementasan Guruh dan proses kreatif Guruh berikut serapan keseniannya. :)</p>
<p>Dengan melihat Guruh sebagai bagian dari kaum menak, wajar saja jika lirik <em>Anak Jalanan</em> yang dia maksudkan memang <em>straatjongen</em> menurut istilah Opa dan Oma pada 60-70-an. Yaitu anak kelas menengah yang gelisah &#8212; sosok Ali Topan, dari film yang diangkat dari cerber Teguh Esha di majalah Stop kemudian jadi novel pada tahun 70-an. Bukan anak jalanan dari kaum marginal yang hidup dari ngamen dan sebagian suka <em>ngelem</em>.</p>
<p>Pada awal berjaya Guruh mewarnai musik Indonesia, lirik dia menjadi kekuatan karena ramuan arkaisnya. Misalnya dalam Smaradhana: <em>Andika Dewa / Sirna duli sang asmara / Merasuk sukma / Menyita heningnya cipta / Oh… resahku jadinya.</em></p>
<p>Bermain kosa kata lama sempat menjadi tren pada 1970-an. Mungkin kesannya eksotis dan terpelajar. Padahal lirik Ismail Marzuki yang hebat itu juga eksotis sampai sekarang.</p>
<p>Tentu lagu Guruh yang riang jenaka (tapi pahit) juga ada. Misalnya lagu untuk pementasan pertama (1989), dibawakan oleh Jayusman, dengan lirik berbahasa Melayu zaman kolonial, dibungkus dixie (CMIIW). Itulah <em>Nostalgia Hotel Des Indes</em>. Mari kita dengar…</p>
<p><object id="gsSong3513139215" width="250" height="40" classid="clsid:d27cdb6e-ae6d-11cf-96b8-444553540000" codebase="http://download.macromedia.com/pub/shockwave/cabs/flash/swflash.cab#version=6,0,40,0"><param name="wmode" value="window" /><param name="allowScriptAccess" value="always" /><param name="flashvars" value="hostname=cowbell.grooveshark.com&amp;songIDs=35131392&amp;style=metal&amp;p=0" /><param name="src" value="http://grooveshark.com/songWidget.swf" /><param name="allowscriptaccess" value="always" /><embed id="gsSong3513139215" width="250" height="40" type="application/x-shockwave-flash" src="http://grooveshark.com/songWidget.swf" wmode="window" allowScriptAccess="always" flashvars="hostname=cowbell.grooveshark.com&amp;songIDs=35131392&amp;style=metal&amp;p=0" allowscriptaccess="always" /><img src="http://blogombal.org/wp-includes/js/tinymce/themes/advanced/img/trans.gif" class="mceItemMedia mceItemFlash" width="250" height="40" data-mce-json="{'video':{},'params':{'wmode':'window','allowScriptAccess':'always','flashvars':'hostname=cowbell.grooveshark.com&amp;songIDs=35131392&amp;style=metal&amp;p=0','src':'http://grooveshark.com/songWidget.swf'},'object_html':'&lt;span&gt;Nostalgia Hotel Des Indes by &lt;a href=\&quot;http://grooveshark.com/artist/Guruh+Soekarno+Putra/2362922\&quot; title=\&quot;Guruh Soekarno Putra\&quot;&gt;Guruh Soekarno Putra&lt;/a&gt; on Grooveshark&lt;/span&gt;'}" alt="" /></object></p>
<p><em>Tempo sore berbintang di atas kota / Koe pigi ke Hotel Des Indes / Di dalemnja ada soeatoe pesta ria / Sajang koe dateng sendirian.</em></p>
<p>Kemudian… <em>Akoe tak moengkin mendapetkannja / Nu ben ik minder,ik ben een inlander / Kapankah Ost Indie djadi merdeka / Harapan orang priboemi / Lopeoetlah soedah si nona idaman / Poelanglah akoe sendirian</em></p>
<p><strong>Kritik Guruh</strong></p>
<p>Dalam <em>Janger</em> (Swara Maharddhika, 1979 — dari <em>Janger 1897 Saka</em>, Guruh Gipsy, 1975), Guruh sudah mulai mengritik keadaan. Petikan liriknya…</p>
<p><em>Dulu memahat buat menghias pura (-puri) / dulu menari dengan sepenuh hati / Sekarang memahat untuk pelancong mancanegari / Sekarang menari turut cita turis luar negeri</em></p>
<p><object id="gsSong351315708" width="250" height="40" classid="clsid:d27cdb6e-ae6d-11cf-96b8-444553540000" codebase="http://download.macromedia.com/pub/shockwave/cabs/flash/swflash.cab#version=6,0,40,0"><param name="wmode" value="window" /><param name="allowScriptAccess" value="always" /><param name="flashvars" value="hostname=cowbell.grooveshark.com&amp;songIDs=35131570&amp;style=metal&amp;p=0" /><param name="src" value="http://grooveshark.com/songWidget.swf" /><param name="allowscriptaccess" value="always" /><embed id="gsSong351315708" width="250" height="40" type="application/x-shockwave-flash" src="http://grooveshark.com/songWidget.swf" wmode="window" allowScriptAccess="always" flashvars="hostname=cowbell.grooveshark.com&amp;songIDs=35131570&amp;style=metal&amp;p=0" allowscriptaccess="always" /><img src="http://blogombal.org/wp-includes/js/tinymce/themes/advanced/img/trans.gif" class="mceItemMedia mceItemFlash" width="250" height="40" data-mce-json="{'video':{},'params':{'wmode':'window','allowScriptAccess':'always','flashvars':'hostname=cowbell.grooveshark.com&amp;songIDs=35131570&amp;style=metal&amp;p=0','src':'http://grooveshark.com/songWidget.swf'},'object_html':'&lt;span&gt;Janger 1897 Saka by &lt;a href=\&quot;http://grooveshark.com/artist/Guruh+Gipsy/2362855\&quot; title=\&quot;Guruh Gipsy\&quot;&gt;Guruh Gipsy&lt;/a&gt; on Grooveshark&lt;/span&gt;'}" alt="" /></object></p>
<p><object id="gsSong3513164950" width="250" height="40" classid="clsid:d27cdb6e-ae6d-11cf-96b8-444553540000" codebase="http://download.macromedia.com/pub/shockwave/cabs/flash/swflash.cab#version=6,0,40,0"><param name="wmode" value="window" /><param name="allowScriptAccess" value="always" /><param name="flashvars" value="hostname=cowbell.grooveshark.com&amp;songIDs=35131649&amp;style=metal&amp;p=0" /><param name="src" value="http://grooveshark.com/songWidget.swf" /><param name="allowscriptaccess" value="always" /><embed id="gsSong3513164950" width="250" height="40" type="application/x-shockwave-flash" src="http://grooveshark.com/songWidget.swf" wmode="window" allowScriptAccess="always" flashvars="hostname=cowbell.grooveshark.com&amp;songIDs=35131649&amp;style=metal&amp;p=0" allowscriptaccess="always" /><img src="http://blogombal.org/wp-includes/js/tinymce/themes/advanced/img/trans.gif" class="mceItemMedia mceItemFlash" width="250" height="40" data-mce-json="{'video':{},'params':{'wmode':'window','allowScriptAccess':'always','flashvars':'hostname=cowbell.grooveshark.com&amp;songIDs=35131649&amp;style=metal&amp;p=0','src':'http://grooveshark.com/songWidget.swf'},'object_html':'&lt;span&gt;Janger by &lt;a href=\&quot;http://grooveshark.com/artist/Swara+Maharddhika/2362936\&quot; title=\&quot;Swara Maharddhika\&quot;&gt;Swara Maharddhika&lt;/a&gt; on Grooveshark&lt;/span&gt;'}" alt="" /></object></p>
<p><em>Art shop megah berleret memagar sawah / Cottage mewah berjajar dipantai indah / Karya – cipta nan elok – indah ditantang alam modernisasi / Permai alam mulai punah karena gersang rasa mandiri</em></p>
<p>Lirik itu ditulis Guruh saat dia berusia 22. Pada 1979, dalam usia 26, saat Soeharto masih berkuasa, Guruh membuat lagu <em>Perikemanusiaan</em> yang menyayat untuk ayahnya, dibawakan oleh Achmad Albar pada 1980, yang saat itu berusia 34. Bagus sekali.</p>
<p><object id="gsSong351316942" width="250" height="40" classid="clsid:d27cdb6e-ae6d-11cf-96b8-444553540000" codebase="http://download.macromedia.com/pub/shockwave/cabs/flash/swflash.cab#version=6,0,40,0"><param name="wmode" value="window" /><param name="allowScriptAccess" value="always" /><param name="flashvars" value="hostname=cowbell.grooveshark.com&amp;songIDs=35131694&amp;style=metal&amp;p=0" /><param name="src" value="http://grooveshark.com/songWidget.swf" /><param name="allowscriptaccess" value="always" /><embed id="gsSong351316942" width="250" height="40" type="application/x-shockwave-flash" src="http://grooveshark.com/songWidget.swf" wmode="window" allowScriptAccess="always" flashvars="hostname=cowbell.grooveshark.com&amp;songIDs=35131694&amp;style=metal&amp;p=0" allowscriptaccess="always" /><img src="http://blogombal.org/wp-includes/js/tinymce/themes/advanced/img/trans.gif" class="mceItemMedia mceItemFlash" width="250" height="40" data-mce-json="{'video':{},'params':{'wmode':'window','allowScriptAccess':'always','flashvars':'hostname=cowbell.grooveshark.com&amp;songIDs=35131694&amp;style=metal&amp;p=0','src':'http://grooveshark.com/songWidget.swf'},'object_html':'&lt;span&gt;Perikemanusiaan by &lt;a href=\&quot;http://grooveshark.com/artist/Guruh+Soekarno+Putra/2362922\&quot; title=\&quot;Guruh Soekarno Putra\&quot;&gt;Guruh Soekarno Putra&lt;/a&gt; on Grooveshark&lt;/span&gt;'}" alt="" /></object></p>
<p>Mulai 80-an dan setelahnya Guruh tak begitu bergenit kata. Lirik <em>Kesenian</em> seperti terasa melontarkan amarah…</p>
<p><em>Mengapa kau meremehkan kesenian / Dan kau menganggap para seniman itu pemimpi / Sebelum kau menyadarinya, hentikan dulu lagu ini dan pergilah / Hiburlah dirimu bersama kehampaan</em></p>
<p>Sinisme juga ada, misalnya dalam <em>Aji Mumpung</em>:</p>
<p><em>Semua orang ingin menumpuk kekayaan / Namun selalu berkedok kesederhanaan /Abaikan kejujuran untuk mencapai tujuan</em></p>
<p>Sudut pandang saya tentang karya Guruh mungkin salah akibat keterbatasan rujukan. Tetapi sejauh ini ya itulah yang saya tangkap. Di mata saya, Guruh tetaplah musisi penting yang memperkaya khazanah musik Indonesia.</p>
<p><em>*) Penulisan nama lengkap Guruh dalam beberapa album rekaman adalah Guruh Soekarno Putra. Padahal <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Guruh_Soekarnoputra" target="_blank">Wikipedia Inggris</a> dan <a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Guruh_Soekarnoputra" target="_blank">Wikipedia Indonesia</a> menyebutnya Guruh Soekarnoputra.</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blogombal.org/2012/03/25/musiknya-guruh/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>42</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Moerdiono &amp; Poppy Dharsono: Asmara Sire &amp; Non</title>
		<link>http://blogombal.org/2012/03/22/moerdiono-poppy-dharsono-asmara-sire-non/</link>
		<comments>http://blogombal.org/2012/03/22/moerdiono-poppy-dharsono-asmara-sire-non/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 22 Mar 2012 04:42:44 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Antyo</dc:creator>
				<category><![CDATA[Lihat Baca Dengar]]></category>
		<category><![CDATA[affair]]></category>
		<category><![CDATA[fashion]]></category>
		<category><![CDATA[Moerdiono]]></category>
		<category><![CDATA[Orde Baru]]></category>
		<category><![CDATA[Poppy Dharsono]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blogombal.org/?p=5433</guid>
		<description><![CDATA[<p>TENTANG PERKAWINAN DAN KELUARGA DALAM VERSI POPPY.</p> <p><a href="http://i54.photobucket.com/albums/g110/kotakgambar/repro/blogombal-buku-pak-moer-poppy-the-untold-story.jpg"></a>Sejak 1978, sebelum menjadi menteri muda sekretaris negara dan kemudian menteri sekretaris negara (1983-1988, 1988-1998), <a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Moerdiono" target="_blank">Moerdiono</a> menempati sebuah paviliun di area Kantor Menkopolkam, Jalan Merdeka Barat, Jakarta Pusat. Tanpa keluarga, karena Pak Moer, demikian dia dipanggil, berpisah ranjang dari Maryati, istrinya.</p> <p>Di rumah itu tak [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>TENTANG PERKAWINAN DAN KELUARGA DALAM VERSI POPPY.</p>
<p><a href="http://i54.photobucket.com/albums/g110/kotakgambar/repro/blogombal-buku-pak-moer-poppy-the-untold-story.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-5439" title="blogombal-buku-pak-moer-poppy-the-untold-story" src="http://blogombal.org/wp-content/uploads/2012/03/blogombal-buku-pak-moer-poppy-the-untold-story-small.jpg" alt="blogombal-buku-pak-moer-poppy-the-untold-story" width="200" height="296" /></a>Sejak 1978, sebelum menjadi menteri muda sekretaris negara dan kemudian menteri sekretaris negara (1983-1988, 1988-1998), <a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Moerdiono" target="_blank">Moerdiono</a> menempati sebuah paviliun di area Kantor Menkopolkam, Jalan Merdeka Barat, Jakarta Pusat. Tanpa keluarga, karena Pak Moer, demikian dia dipanggil, berpisah ranjang dari Maryati, istrinya.</p>
<p>Di rumah itu tak ada dapur. Untuk makanan, sopir Moer yang bernama Soewardji membelikannya di luar (termasuk saat Lebaran dan itu merepotkan). Untuk tidur, Moer cukup membaringkan diri di atas sebuah ranjang tunggal. Lantas bagaimana dia menjalani kehidupan asmara dengan pengusaha cantik <a href="http://www.facebook.com/PoppyDharsono/info" target="_blank">Poppy Dharsono</a> sejak 1989, saat dirinya berusia 55 dan Poppy masih 38?</p>
<p>Buku yang ditulis oleh jurnalis Derek Manangka ini menjawabnya dari sisi Poppy Dharsono. Isinya adalah jalinan asmara sepasang manusia, lengkap dengan segala gangguan, hingga Moer meninggal di Singapura pada 7 Oktober 2011 dalam usia 77 tahun. Ketika Moer harus menyepi karena menyiapkan pidato presiden, Poppy biasanya menemani. Tentang Moer, sebelum mereka berpacaran, Poppy mendapatkan rekomendasi dari Guntur Soekarnoputra.</p>
<p>Derek mengakui, buku ini kurang berimbang karena tak mewawancarai anak-anak Moer. &#8220;Jadi kalau dibilang buku ini subyektif, tidak salah. Tapi setidaknya subyektif yang lebih bertanggung jawab. Subyektif tidak untuk mencari sensasi, subyektif yang bermartabat.&#8221; (Bab Penutup, hal. 333)</p>
<p>Banyak hal yang terungkap dalam <em>Pak Moer &#8211; Poppy: The Untold Story</em>, buku tebal yang seperempatnya berisi album foto, dan paparan isinya mirip kumpulan cerita terpenggal-penggal itu. Misalnya Moer memanggil Poppy yang 17 tahun lebih muda &#8220;Non&#8221;, sedangkan Poppy memanggil Moer dengan istilah Inggris lama &#8220;<em>Sire</em>&#8220;. Mereka menikah siri pada 14 Oktober 1998, saat Moer berusia 64 dan Poppy janda berusia 47. <em>(Catatan: pernikahan itu diulangi lagi di Singapura, disaksikan seorang ustaz, dalam rumah sakit, Agustus 2011)</em></p>
<p>Ketika melakukan pendekatan, Moer rela menjadi sopir Poppy dari Jakarta ke Bandung (via Puncak, belum ada jalan tol Cipularang), untuk menghadiri resepsi pernikahan anak Letjen Himawan Soetanto. Selama Poppy berpesta dalam gedung, Moer menunggu dalam Mercedes Benz, berbaur dengan para sopir. Kegemaran menyetir sendiri ini terus berlangsung hingga mereka menikah.</p>
<p>Yang ditunggu pembaca, misalnya status anak penyanyi dangdut Machicha Mochtar dan gugatan sang ibu, juga dibahas. Dalam buku dikatakan bahwa Poppy kecewa namun kemudian mendampingi Moer untuk melawan, antara lain dengan membentuk tim kecil. Tim itu beranggotakan adik Moer (BS), seorang jurnalis (LJL), dan menantu Moer (RPM).</p>
<p>Dalam perjalanan kasus, tim itu kemudian membelot, memihak Machicha. Menurut Poppy, itu karena adik Moer ingin bayaran lebih. <em>(Catatan: ketika MK mengabulkan uji materi Machicha tentang hak perdata anak di luar nikah, Februari 2012, naskah buku ini sudah selesai)</em></p>
<p>Juga dibahas alasan Moer menggugat cerai Maryati tahun lalu, yang dinyatakan kepada anak-anaknya, &#8220;Saya menceraikan ibu kamu, karena saya ingin mengesahkan perceraian saya dan saya tidak ingin melakukan poligami…&#8221; (hal. 37)</p>
<p>Begitulah, buku dengan penonjolan peran Poppy dan puja-puji untuk Moer &#8212; dengan pengulangan pada banyak bab &#8212; ini menjadi semacam pembelaan diri Poppy. Kalaupun bukan pembelaan ya klarifikasi terhadap kesalahpahaman, termasuk yang disebarkan oleh <em>infotainment</em>.</p>
<p>Dari sisi Poppy, salah satu titik utama cerita adalah bagaimana dia selama 17 bulan harus merawat Moer yang sakit-sakitan (terutama kanker), baik di Bambu Apus, Jakarta Timur, maupun di apartemennya di Singapura, bahkan harus merawat luka bernanah di punggung Moer saat herpesnya kambuh. Poppy pula yang membersihkan kotoran Moer di toilet umum sambil menunggu pertolongan pertama &#8212; tak jelas di Jakarta atau Singapura (hal. 332). Saat merawat Moer, Poppy merasa dizalimi oleh opini publik.</p>
<p>Demi Moer pula Poppy sampai dua kali menyewa pesawat untuk membawa Sire ke Singapura. Maka dalam buku ini tercitrakan bahwa Poppy, ibu dari Fauzi Ichsan (ekonom di Standard Chartered Bank Indonesia), hasil perkawinan dininya dengan fotografer Firman Ichsan, telah berkorban banyak. Secara tak langsung terarahkan kesimpulan bahwa Poppylah yang keluar uang lebih banyak. Moer, yang tak punya rumah pribadi, hanya hidup dari bunga deposito, karena gaji dan uang pensiunnya untuk keluarga.</p>
<p>Soal keuangan ini membuat Moer marah dan hubungan dengan anak-anaknya memburuk karena Poppy dituding mengincar harta. Poppy mengutip Moer, &#8220;Berarti mereka menuduh saya koruptor. Berarti mereka bangga karena ayah mereka koruptor. Itu sebabnya mereka ingin kebagian uang hasil korupsi…&#8221; (hal. 305)</p>
<p>Lagi-lagi dari sisi Poppy, semua kesulitan dia terima sebagai kenyataan yang harus ditabahi, bahkan sejak awal hubungan. Misalnya jangan sampai kelihatan berjalan berdua. Bahkan ketika menghadiri sebuah acara pun mereka harus memberi kesan datang sendiri-sendiri. Maklumlah saat Moer masih menjabat menteri, padahal Presiden dan terutama istrinya, Tien, tak menyukai perceraian dan poligami. Moer pulalah yang merumuskan konsep untuk menjadi draft PP 10 bagi pejabat publik.</p>
<p>Mungkin itulah episode meniti buih. Soeharto tahu tapi menenggang. Dalam penitian buih itu, Poppy juga harus mengukur perasaan anak-anak Moer. Sebagai pendiri dan ketua Asosiasi Perancang dan Pengusaha Mode Indonesia, Poppy mencoba &#8220;memberi perhatian khusus&#8221; kepada Ninuk, putri Moer yang jurnalis, yang kemudian menjadi editor mode dan sekian tahun menangani edisi Minggu sebuah koran besar (hal. 301).</p>
<p>Menurut Poppy, respon dari si putri tak menampakkan penolakan maupun penerimaan, sehingga Poppy mengira hubungan dengan Moer tak dianggap sebagai masalah &#8212; suatu hal yang di belakang hari ternyata sebaliknya.</p>
<div class="wp-caption alignleft" style="width: 172px"><a href="http://i54.photobucket.com/albums/g110/kotakgambar/repro/blogombal-poppy-dharsono-oleh-moerdiono.jpg" target="_blank"><img class=" " title="poppy dharsono difoto oleh moerdinono" src="http://i54.photobucket.com/albums/g110/kotakgambar/repro/blogombal-poppy-dharsono-oleh-moerdiono.jpg" alt="poppy dharsono difoto oleh moerdinono" width="162" height="256" /></a><p class="wp-caption-text">Poppy Dharsono, difoto oleh Moerdiono, 1990</p></div>
<p>Buku ini seperti bahan drama. Mungkin bisa dikemas menjadi serial TV. Sebagai serangkaian episode mengharu biru buku ini menarik karena menyangkut dua tokoh: seorang Moer yang bekas petinggi berkuasa dan 27 tahun menjadi penulis pidato presiden (menurut eks-Menkopolkam Sudomo, kalau seorang menteri ingin mendapatkan akses cepat ke Soeharto harus melalui Moer), dan seorang Poppy yang pesohor, bagian dari dunia <em>fashion</em> Indonesia, yang kemudian menjadi senator dari Jawa Tengah dalam DPD-RI 2009-2014.</p>
<p>Tentang karier politik Poppy, ada hal yang menarik. Pada 2007 Moer melarang istrinya mencalonkan diri sebagai gubernur Jawa Tengah. Larangan itu membuat Poppy ngambek, dan sempat terpikir untuk berpisah, lalu dia kembali ke rumahnya di Pondok Indah. Demi Gadis, putri angkat mereka, akhirnya Poppy kembali ke Rumah Bahagia di Bambu Apus.</p>
<p>Lantas apa manfaat buku ini bagi pembaca? Menambah pengetahuan umum dan bahan obrolan. Dari sisi lain mungkin juga cerita dan citra tentang ketulusan cinta dan <em>bektining garwa</em> seorang perempuan ayu dan pengusaha kaya yang sebetulnya memiliki banyak pilihan dalam hidupnya.</p>
<blockquote><p>JUDUL: Pak Moer &#8211; Poppy: The Untold Story • PENULIS: Derek Manangka • PENERBIT: Gramedia Pustaka Utama, Jakarta: 2012 • TEBAL: 474 + viii halaman • HARGA: Rp 150.000 • ISBN 978-979-22-7926-9</p></blockquote>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blogombal.org/2012/03/22/moerdiono-poppy-dharsono-asmara-sire-non/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>29</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Sopir: Pelengkap Mobil</title>
		<link>http://blogombal.org/2012/03/16/sopir-pelengkap-mobil/</link>
		<comments>http://blogombal.org/2012/03/16/sopir-pelengkap-mobil/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 16 Mar 2012 07:39:54 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Antyo</dc:creator>
				<category><![CDATA[Komedi Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[chauffeur]]></category>
		<category><![CDATA[kemacetan]]></category>
		<category><![CDATA[lalu lintas]]></category>
		<category><![CDATA[pengemudi]]></category>
		<category><![CDATA[sopir]]></category>
		<category><![CDATA[transportasi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blogombal.org/?p=5384</guid>
		<description><![CDATA[KENYAMANAN (DAN KEAMANAN) UNTUK SOPIR, BUKAN JURAGAN. <p></p> <p>Saya tak tahu dari sekitar 3,5 juta mobil penumpang berpelat nomor B  (perkiraan terhadap berita <a href="http://areamagz.com/article/read/2010/09/29/jumlah-kendaraan-di-jakarta11362396-unit-" target="_blank">Area</a>) itu berapakah yang dijalankan oleh sopir. Maksud saya oleh pengemudi yang bukan pemilik mobil. Kesan saya, dari pengamatan sekilas, makin banyak mobil pribadi yang dikemudikan oleh sopir khusus. Si [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h3>KENYAMANAN (DAN KEAMANAN) UNTUK SOPIR, BUKAN JURAGAN.</h3>
<p><img class="alignnone" title="sopir sedang makan siang di kebayoran baru" src="http://i54.photobucket.com/albums/g110/kotakgambar/memo2/memo-sopir-sedang-makan.jpg" alt="" width="450" height="263" /></p>
<p>Saya tak tahu dari sekitar 3,5 juta mobil penumpang berpelat nomor B  (perkiraan terhadap berita <a href="http://areamagz.com/article/read/2010/09/29/jumlah-kendaraan-di-jakarta11362396-unit-" target="_blank">Area</a>) itu berapakah yang dijalankan oleh sopir. Maksud saya oleh pengemudi yang bukan pemilik mobil. Kesan saya, dari pengamatan sekilas, makin banyak mobil pribadi yang dikemudikan oleh sopir khusus. Si pemilik mobil atau keluarganya hanya menjadi penumpang yang dirajakan dan diratukan.</p>
<p>Saya ingat tiga belas tahun silam, seorang kawan menjadi bahan tertawaan (tapi saya tak ikut) karena menggunakan sopir untuk Daihatsu Charade putih keluaran akhir 80-an. Tak pantas, kata kawan-kawan. Alasan tak pantas adalah Charade itu <em>city car</em>, mestinya dikendarai sendiri. Selain itu Charade lawas bukanlah mobil mewah. Lebih pantas mobil lawas Toyota Crown Saloon atau Volvo S40 yang bersopir.</p>
<p>Begitu kuatnya citra sedan Volvo segala angkatan di pasar Indonesia sebagai mobil bersopir khusus sehingga pemiliknya tak mau menyetir sendiri. Takut dikira sopir. Ah, namanya juga persepsi. BMW seri 3 dari masa ke masa dianggap pantas untuk dikemudikan sendiri oleh pemiliknya, sementara Mercedes Benz C Class bisa oleh sopir maupun pemiliknya.</p>
<p>Oh, kita juga tahu, Kijang dan Isuzu segala zaman tak dianggap aneh kalau disopiri. Hal yang sama berlaku untuk Daihatsu Espass dan Suzuki APV, dan kemudian Toyota Avanza dan Daihatsu Xenia. Masyarakat memetakan mana mobil yang layak disopiri sendiri dan mana yang tidak.</p>
<p>Sekarang kalau saya melihat iklan SUV beberapa merek mobil kadang geli. Hampir semuanya menawarkan citra kejantanan dan petualangan. Artinya memang disugestikan sebagai mobil yang dikendarai sendiri oleh pemiliknya. Tetapi kenyataan di jalan raya Ibu Kota menunjukkan makin banyak SUV yang bersopir. Hanya sopir gila yang membawa majikanya, yang juga gila, untuk bertualang selayaknya iklan. Sudah biasa jika sebuah Wrangler Rubicon dan Hummer H3 dikemudikan oleh <em>chauffeur</em>, sopir necis bersafari gelap.</p>
<p>Bagi saya ini jelas menunjukkan lalu lintas Jakarta Raya semakin tak nyaman untuk mengemudi. Penyebab utama ya kemacetan. Lalu unsur pendukungnya? Memang tenaga kerja lebih murah daripada di negeri industri Barat. Bagi yang tak mau kecapaian, dan pendapatannya memadai,  membayar gaji pokok sopir baru setara UMR itu masih terjangkau. Tepatnya: lebih murah daripada biaya sakit jiwa akibat stres di jalan raya.</p>
<p>Dari sisi lapangan kerja ini juga bagus. Pertumbuhan kemakmuran kelas menengah-atas juga meneteskan rezeki bernama peluang kerja. Kelak ketika jalanan semakin sesak, dan area parkir menjadi rebutan, fungsi sopir semakin dibutuhkan.</p>
<p>Beberapa teman, dan kebetulan ibu-ibu, malah menganggap sopir pribadi itu menaikkan gengsi. &#8220;Kesannya keren, gitu. Kita tinggal nunggu sopir di depan lobi sambil ngetwit,&#8221; kata seorang ibu muda yang bercita-cita memiliki sopir tapi tak merangkap sebagai suami.</p>
<p>Ya begitulah,  konsep &#8220;kenyamanan berkendara&#8221;, yang menjadi mantera perancangan produk dan pemasarannya, di Indonesia berarti nyaman bagi sopir, bukan si pemilik mobil. Sayang hal itu tak mengubah cara mempromosikan mobil. Tapi siapa tahu lho, kelak muncul bonus &#8220;gratis: tenaga pengemudi selama tiga bulan&#8221; untuk pembelian mobil baru.</p>
<p>Mungkin itulah yang menjadi alasan pemerintah untuk membiarkan kemacetan dan enggan menata sistem transportasi publik. Setelah nanti mentok, karena sejak keluar dari rumah sebuah mobil tak dapat beranjak, barulah pemerintah menanya masyarakat enaknya bagaimana.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blogombal.org/2012/03/16/sopir-pelengkap-mobil/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>46</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mode, Modis, Modiste</title>
		<link>http://blogombal.org/2012/02/06/mode-modis-modiste/</link>
		<comments>http://blogombal.org/2012/02/06/mode-modis-modiste/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 06 Feb 2012 08:30:35 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Antyo</dc:creator>
				<category><![CDATA[Lihat Baca Dengar]]></category>
		<category><![CDATA[buku]]></category>
		<category><![CDATA[fashion]]></category>
		<category><![CDATA[herman jusuf]]></category>
		<category><![CDATA[irma hadisurya]]></category>
		<category><![CDATA[kamus mode indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[mode]]></category>
		<category><![CDATA[ninuk mardiana pambudy]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blogombal.org/?p=5334</guid>
		<description><![CDATA[MAKIN BANYAK KAMUS MAKIN BAGUS. <p></p> <p>Kesan saya mungkin salah. Makin banyak orang menyebut &#8220;fashion&#8221; (atau menuliskannya &#8220;fésyen&#8221;), bukan &#8220;mode&#8221;. Untuk generasi digital yang masa SD-nya akrab dengan arloji digital, kata &#8220;mode&#8221; merujuk pada pilihan penggunaan fitur peranti (latin: modus).</p> <p>Adapun kata &#8220;modis&#8221; masih dipakai, berbarengan dengan &#8220;fashionable&#8221; dan &#8220;stylish&#8220;. Modiste? Itu dunia emak-emak, dekat [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h3>MAKIN BANYAK KAMUS MAKIN BAGUS.</h3>
<p><img class="alignnone" title="Kamus Mode Indonesia, 2011" src="http://i54.photobucket.com/albums/g110/kotakgambar/blogombal/blogombal-kamus-mode-indonesia-2-1.jpg" alt="" width="450" height="450" /></p>
<p>Kesan saya mungkin salah. Makin banyak orang menyebut &#8220;<em>fashion</em>&#8221; (atau menuliskannya &#8220;fésyen&#8221;), bukan &#8220;mode&#8221;. Untuk generasi digital yang masa SD-nya akrab dengan arloji digital, kata &#8220;mode&#8221; merujuk pada pilihan penggunaan fitur peranti (latin: <em>modus</em>).</p>
<p>Adapun kata &#8220;modis&#8221; masih dipakai, berbarengan dengan &#8220;<em>fashionable</em>&#8221; dan &#8220;<em>stylish</em>&#8220;. Modiste? Itu dunia emak-emak, dekat dengan pesanan kebaya. Ibu-ibu muda yang membuka usaha penjahitan lebih suka menambahkan atribut &#8220;<em>collection</em>&#8221; bahkan &#8220;<em>boutique</em>&#8220;.</p>
<p>Itulah bahasa. Mengenal rasa dan selera zaman. Di dalamnya terkandung aspek psikolinguistik dan sosiolinguistik. Sama seperti &#8220;berondong jagung&#8221; dan &#8220;<em>popcorn</em>&#8221; yang secara substansial-material sama.</p>
<p>Yang menarik dalam istilah perbusanaan Indonesia (terima kasih kepada para editor yang memperkenalkan kata &#8220;adibusana&#8221; sebagai padanan <em>haute couture</em>, <em>alta moda</em>, dan <em>high fashion</em>):  kita merujuk ke bahasa Belanda dan Inggris sekaligus. Sama dengan bidang teknika dan lainnya.</p>
<p>Hasilnya, kita sama-sama tahu, nama gelaran ini masih diterima: Lomba Perancang Mode Indonesia. Begitu juga nama wadah Ikatan Perancang Mode Indonesia dan Asosiasi Perancang Pengusaha Mode Indonesia. Semua memakai kata &#8220;mode&#8221;. Akan tetapi jangan menyebut &#8220;<em>modeblad</em>&#8220;. Hanya generasi oma-oma, termasuk para pendiri <em>Femina</em> (yang terilhami majalah Belanda <em>Libelle</em> dan <em>Margriet</em>), yang paham.</p>
<p>Maka dari kamus ini, tepatnya daftar istilah ini (karena tak ada panduan pelafalan istilah asing), saya segera mencari kata-kata yang saya sebutkan tadi. Semuanya ada &#8212; kecuali &#8220;<em>modeblad</em>&#8221; (kertas pola potong berskala 1:1, <em>pattern paper</em>). Pada era industri garmen belum semaju sekarang, <em>modeblad</em> adalah bonus wajib majalah wanita sampai awal 80-an (ingat Pola Burda?).</p>
<p>Warisan Belanda yang masih hidup tentu juga termuat dalam kamus ini. Misalnya &#8220;beha&#8221; (dari kata Belanda: <em>buste houder</em>), yang dalam kamus ini dipadankan dengan &#8220;kutang&#8221; (hal. 31). Memang makin ke sini orang makin akrab dengan yang satu suku kata: &#8220;<em>bra</em>&#8221; (lema ini, pada hal. 37, langsung merujuk ke &#8220;kutang&#8221; di hal. 128).</p>
<p>Bagaimana dengan istilah Belanda &#8220;<em>voering</em>&#8221; (Inggris: &#8220;<em>lining</em>&#8220;)? Dalam kamus ini menjadi lema &#8220;vuring&#8221; (hal. 218), yang merujuk ke lema &#8220;lining&#8221; (hal. 136).</p>
<p><em>Lingerie</em>? Pasti ada lemanya, di halaman 136, cukup dengan penjelasan &#8220;istilah bahasa Prancis untuk pakaian dalam dan baju tidur wanita&#8221;. Istilah ini bagi saya penting karena tak seperti sampai awal 9o-an, sekarang di lapak terminal pun dijual <em>lingerie</em> yang kadang dilafalkan &#8220;lingri&#8221; (Lihat Memo: <em><a href="http://memo.blogombal.org/2011/05/31/lingri-lingerie-di-kolong-terminal/" target="_blank">Lingri di Kolong Terminal</a></em>) &#8212; repot amat kalau merujuk lafal Prancis.</p>
<p><em>G-string</em>, <em>thong</em>, <em>tanga</em>? Ada dalam kamus. Tapi tak ada <em>split-thon</em>g dan <em>crocthless thong</em>. ;) Padahal itu perlu disebut mengingat maraknya dagangan jeroan, termasuk di Facebook, yang merupakan potret perubahan sosial. Busana intim bukan hal tabu dalam percakapan publik. Media cetak gaya hidup dan hiburan merintisnya, lantas internet (media sosial dan toko <em>online</em>) mematangkannya. »» Lihat Memo: <em><a href="http://memo.blogombal.org/2011/06/19/lingerie-praka-bintara-perwira/" target="_blank">Lingerie Bintara</a></em> dan <a href="http://memo.blogombal.org/2011/10/14/celana-dalam-kupu-kupu/" target="_blank"><em>Celana Dalam Kupu-kupu</em>.</a> :)</p>
<p>Istilah asing lain yang diserap tetapi bisa membingungkan adalah warisan Belanda &#8220;<em>werkpak</em>&#8220;. Sejumlah media otomotif Indonesia menyebutnya &#8220;<em>wearpack</em>&#8221; padahal setahu saya dalam bahasa Inggris tidak ada. Sayang, &#8220;<em>werkpak</em>&#8221; tidak ada ada dalam lema. Untungnya ada &#8220;workwear&#8221; (hal. 225) dan &#8220;celana montir&#8221; (hal. 47, padanan untuk &#8220;jumpsuit&#8221; di hal. 110). Lema &#8220;overall&#8221; ada (hal. 157), tetapi &#8220;celana kargo&#8221; belum ada.</p>
<p>Bagaimana dengan istilah lokal? Sudah pada masuk. Misalnya &#8220;mlinjon&#8221; (hal. 145) dan &#8220;jumputan&#8221; (hal. 110, dirujukkan ke &#8220;celup ikat&#8221; dan &#8220;tie dye&#8221;). Lema lain misalnya &#8220;celana pangsi&#8221; (halaman 48), &#8220;ceplokan&#8221; (hal. 48), dan &#8220;kereng&#8221; (sarung Lombok, hal. 124).</p>
<p>Saya berani bilang kamus ini komplet. Untuk &#8220;batik&#8221; ada hampir 30 lema (termasuk &#8220;batik fraktal&#8221;, hal. 25), begitu pula direktori nama (lebih dari 50 lema, termasuk  Go Tik Swan Hardjonagoro). Buku ini memperkaya khazanah Indonesia. Setiap penulis, dari reporter,  editor, sampai pengelola konten di internet, layak memilikinya.</p>
<blockquote><p>JUDUL: Kamus Mode Indonesia • PENULIS: Irma Hadisurya, Ninuk Mardiana Pambudy, dan Herman Jusuf • PENERBIT: Gramedia Pustaka Utama, Jakarta: 2011 • TEBAL: 300 halaman • HARGA: Rp 80.000 • ISBN 978-979-22-7734-0</p></blockquote>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blogombal.org/2012/02/06/mode-modis-modiste/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>56</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

